Jurnal Keluarga,  Rumah Tangga

Hati-hati Beli Rumah Jangan Bikin Rumah Tangga Pecah!

Rumah adalah impian dan capaian yang bagi keluarga Indonesia sampai sekarang. Rumah seolah menjadi simbol kemandirian dan kemapanan seseorang dari waktu ke waktu. Pembiayaan untuk kepemilikan rumah, sekarang juga marak digalakan. Seoalah mendapatkan rumah menjadi lebih mudah. Tapi, sebenarnya kita perlu hati-hati. Karena marak kejadian kasus rumah bukannya malah untung malah buntung.

 

Kronologi Cerita

Kronologi awal, pembeliĀ  sudah memberikan DP pada salah setu developer rumah. rata-rata Dp yang diberikan Rp 30.000.000 (tiga puluh juta) sampai Rp 50.000.000 (lima puluh juta). Setelah membayar DP, mereka tidak mendapatkan surat perjanjian tapi hanya mendapatkan kwitansi sebagai bukti pembayaran.

Beberapa waktu kemudian, para pembeli ini berniat membatalkan jual beli dan meminta uang DP nya kembali. Alasannya macam-macam. Ada karena surat-suratnya tidak jelas, tidak segera dibangun, dan lain sebagainya. Beberapa ada yang pembatalan-nya disetujui kemudian menandatangani kesepakatan bahwa uang akan dikembalikan sekian dalam jangka waktu sekian.

Ternyata, setelah tenggat jangka waktu developer tidak juga mengembalikan uang pengembalian DP kepada para pembeli yang sudah membatalkan transaksi. Pembeli pun panik dan akhirnya menghubungi saya.

Pertanyaan yang Sering Muncul

  1. Bagaimana agar uang saya bisa kembali?
  2. Dimana saya harus lapor?

Langkah pertama jangan panik karena panik anda, akan menyulitkan kerja pengacara.

 

Pendapat Saya

  • Pertanyaan Nomor 1

Tentunya, uang akan kembali jika kita menagih-nya. Ada dua cara melakukan penagihan. Pertama, dengan datang secara lisan menemui pihak developer kedua dengan membuat surat somasi. Sekilas tentang somasi adalah surat peringatan agar pihak yang memiliki tanggungan kepada pihak lain segera membayarkan tanggungannya. Somasi biasanya dilakukan sebanyak 3 kali. Usahakan, pertikaian seperti ini selesai di semoasi dan mediasi saja. Karena uang dengan nominal di bawah 200 juta, tidak sebanding jika dibawa ke pengadilan. Tapi jika terpaksa harus ajukan gugatan pengadilan, ada namanya gugatan sederhana. Lebih murah dan juga lebih cepat. Selengkapnya tentang gugatan sederhana, bisa tanyakan langsung kepada saya lewat email.

  • Pertanyaan Nomor Dua

Pahami dulu logika hukum dasarnya. Bedakan antara hukum pidana dengan hukum perdata. Jika pelanggaran hukum pidana, lapor pada polisi tapi jika ini masalah hukum perdata anda selesaikan dulu dengan musyawarah baru jika sudah pada titik maksimal tidak mencapai mufakat, anda bawa ke pengadilan untuk diajukan gugatan. Karena, kalau ini penipuan dan ranahnya masuk pidana itu artinya uang tidak bisa kembali. Ganti rugi atas perjanjian yang dilanggar masuknya perdata. Jadi, kalau mau uang balik ya gugat lewat pengadilan negeri dengan gugatan wanprestatie. Itupun kalau ada dasar perjanjiannya.

Gimana? Jelas? Kalau masih kurang jelas bisa email aku di jihan.lawyer@gmail.com ya…

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.