Hukum Keluarga,  Jurnal Hukum,  Opini Hukum

Belajar Hukum Lewat Bumi Manusia (Part 1)

Catatan ini bukan catatan review. Karena saya sadar diri, saya bukan siapa-siapa untuk me-review karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Saya hanya ingin menuliskan apa yang saya dapatkan setelah membaca seri pertama dari teratologi Pulau Buru ini.

Sebelumnya, saya ceritakan sedikit bagaimana Minke sebagai tokoh utama, seorang pribumu yang menjalani hari-hari sebagai siswa HBS (Hoogere Burgerschool). HBS merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Kebetulan Minke seorang anak dari pribumi tersohor sehingga dia bisa menikmati pendidikan HBS.

 

Cinta Segitiga Tapi Bukan yang Utama

Petualangan cinta Minke dimulai ketika seorang temannya, Robert Suurhorf mengajak ke rumah temannya bernama Robert Melemma. Disanalah, Minke bertemu seorang gadis keturunan pribumi Belanda bernama Annelis yang merupakan adik kandung dari Robert Melemma. Ternyata Robert Suudorf juga menyukai Annelis yang nantinya akan menjadi ujian tersendiri bagi Minke untuk mendapatkan Annelis.

Cerita cinta segitiga tersebut, hanyalah 5% bagian dari keseluruhan Bumi Manusia. Lebih dari sekedar cerita ceinta, pergulatan hati Minke sebagai pribumi yang begitu beruntung bisa belajar cara berfikir Eropa menurut saya lebih mendominasi novel ini. Diperkuat dengan sosok Nyai Ontosoroh yaitu Ibu Annelis yang menjadi teman diskusi Minke.

Pada masa itu, Nyai dianggap sebagai kaum kelas bawah yaitu sebagai perempuan simpanan terutama untuk Bangsa Eropa yang bernaung di Hindia. Namun Nyai yang satu ini berbeda. Menjadi simpanan seorang Eropa bukan berarti dia tidak bisa apa-apa. Nyai Ontosoroh giat belajar dari Tuan Melemma sehingga bisa membesarkan perusahaan hingga berkembang pesat. Buku-buku milik tuannya dia lahap sehingga wawasan nya melebihi orang pribumi pada umumnya.

Ada salah satu tokoh lagi yang mendominasi pemikiran Minke. Sahabatnya di Surabaya bernama Jean Marais. Kehidupan latar belakang Jean Marais sebagai pelukis yang bergitu kompleks membuat pemikirannya begitu bijaksana. Sebelum menetap di Hindia Jean sempat menjelajah ke berbagai negara untuk menawarkan lukisannya. Kemudian, dia ikut menjadi prajurit Belanda untuk perang di Aceh. Di Aceh dia bertemu pujaan hati yang menjadi Ibu dari putri kesayangannya saat ini. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa Minke selalu curhat pada Jain Marais jika mengalami kepenatan pikiran. Jain Marais juga yang memunculkan kata-lata, “Berlakulah adil sejak dalam pikiran.” Kata-kata itu yang mendorong Minke untuk lebih objektif menilai Nyai Ontosoroh dan Annelis yang tidak seperti dibicarakan banyak orang.

 

Penduduk Bumi Manusia

Tidak hanya yang saya sebut di atas saja. Tokoh-tokoh di Bumi Manusia begitu banyak dan menurut saya semuanya penting. Kenapa? Karena satu tokoh akan memberikan dorongan dan memunculkan konflik baru di setiap sesi Bumi Manusia bagi tokoh utama Minke .

Minke digambarkan sebagai sosok yang cerdas, ideal dalam pemikiran, namun bagaimanapun juga Minke tetaplah manusia biasa. Ayahnya seorang Bupati B, sewajarnya seorang pribumi tersehor yang mendambakan anaknya bisa meneruskan tahta kejayaannya. Bagi Minke, yang hidup dilingkupi dua bangsa yang berbeda, memunculkan pertanyaan di kepalanya untuk apa jabatan, untuk apa menjadi bupati. Dia menikmati pendidikannya sama dengan menikmati kejujuran akan perasaannya sendiri yakni jatuh cinta pada Annelis.

Berbagai karakter manusia disajikan oleh Pram dengan apik, di Bumi Manusianya. Ada banyak jenis manusia di bumi ini. Ada yang saling mendukung, ada juga yang menjatuhkan, ada yang memilih untuk bergerak maju seperti Nyai Ontosoroh, ada yang terjebak dalam situasi jurang kemrosotan sampai akhir hayatnya seperti Tuan Malemma.  Dan ada juga orang yang begitu dalam seperti Jain Marais yang kedalaman hatinya hanya bisa dituangkan dalam tulisan. Ibu Minke yang bijak pun, menjadi gambaran penduduk Bumi Manusia yang lainnya. Meskipun bersuami seorang bupati yang begitu keras, Ibu Minke digambarkan tetap menjadi seorang Ibu yang begitu sabar dan lembut. Dan masih banyak lagi penduduk Bumi Manusia yang belum saya sebutkan.

Karakter-karakter tersebut, masing-masing saling terkait membentuk rangkaian anyaman cerita sebagaimana wajar-nya setiap manusia, pasti masing-masing memiliki ego dan kehendak berbeda. Kalau saya belajar hukum, tujuan ideal adanya hukum salah satunya untuk membatasi kehendak manusia agar tidak sewenang-wenang. Ada lagi yang menyebut tujuan hukum untuk mengatur kehidupan manusia agar selaras dan seimbang. Bagaimana di Bumi Manusia ciptaan Pram?

 

Hidup di Bumi Manusia

Minke, sebagai seorang remaja yang tengah belajar jujur terhadap dirinya sendiri di hadapkan dengan hukum yang berlaku di sosial masyarakat dan hukum yang berlaku secara resmi di tanahnya berpijak. Hukum yang berlaku di masyarakat seperti tata krama atau sopan santun dengan orang tua, dan tentang bagaimana manusia seharusnya menjadi problem tersendiri bagi Minke yang belajar di lingkungan Eropa. Kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat tanpa memandang siapa yang lebih tua adalah gaya Eropa yang sedikit banyak menyusup dalam pribadi Minke.

Pribumi mana yang mewajari seseorang bisa tinggal di rumah orang lain tanpa ada ikatan perkawinan seperti Minke tinggal di rumah Annelis atas desakan Nyai Ontosoroh. Tinggal di rumah seorang Nyai  pun menjadi pergunjungan tersendiri. Tapi dengan prinsipnya, Minke berupaya berlaku adil sejak dalam pikiran sehingga dia bisa menepis pikiran orang-orang yang sifatnya hanya spekulasi tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Eropa sendiri punya aturan yang diberlakukan juga untuk bangsanya mendiami tanah Hindia. Dalam Bumi Manusia, kejujuran hati Minke dan kehendak bebasnya pun terhalang oleh hukum yang diserap dengan asas konkordasi itu. Dalam kuliah Pengantar Hukum Indonesia yang saya tempuh 4 sks, asas konkordasi merupakan asas yang menjadi dasar agar Hukum Belanda juga berlaku di Hindia untuk penduduk Eropa. Annelis, sebagai keturunan Belanda tentu saja secara otomatis berkebangsaan Eropa. Dan hukum tersebut mengikat Annelis hingga menjadi masalah paling kursial bagi Minke dan tentu saja Nyai Ontosoroh.

Disinilah kita belajar bagaimana hukum dengan logika yang dipertentangkan dengan hukum yang berlaku dari hati nurani sendiri. Saya jadi ingat mata pelajaran Pengantar Ilmu Hukum di semester satu. Ada empat norma hukum yang mengikat kehidupan manusia yaitu, Norma Agama, Norma Kesusilaan, Norma Sosial, dan Norma Hukum. Keempatnya sama-sama mengikat hidup manusia.

 

Belajar Tentang Hukum Manusia

Dalam bumi manusia, digambarkan tiga dimensi hukum yang berlaku. Norma Kesusilaan, Norma Sosial dan Norma Hukum. Bagaimana tokoh utama memandang aturan yang berlaku tidak tertulis di masyarakat, aturan yang muncul dari dalam nuraninya, dan aturan hukum yang berlaku secara moral, patut dijadikan referensi mahasiswa hukum untuk menelaah lebih dalam tentang dimensi dasar hukum yang mengikat manusia dan manusia yang mengikatkan diri dengan hukum.

Bagaimanapun juga Annelis tetap keturunan Belanda dan berlaku hukum Belanda sejak dia orok sekalipun Ibunya seorang pribumi. Di akhir cerita, Minke berhasil menikahi Annelis setelah berbagai masalah dihadapi. Tapi bukan pernikahan dengan bunga-bunga kebahagiaan yang dia dapatkan. Masalah lebih besar muncul ketika anak Tuan Melemma dari isteri sahnya di hadapan hukum Belanda datang menemui Nyai Ontosoroh dan Annelis. Dia menggugat perempuan tangguh itu sebagai istri tidak sah Tuan Melmma sehingga tidak berhak mendapat harta warisan sepeserpun. Padahal sebelumnya diceritakan bagaimana tingkah Tuan Malemma hingga perusahaan hampir bangkrut dan Nyai berusaha untuk menyelamatkan sampai perusahaan tumbuh lebih pesat.

Pernikahan Minke dan Annelis pun dianggap tidak sah menurut pengadilan Amsterdam yang disampaikan lewat Pengadilan Putuh di Surabaya. Pasalnya, Annelis sendiri masih dianggap di bawah umur berdasar Hukum Belanda. Padahal mereka menikah dengan dasar hukum islam yang  sah. Sedikit menyingkung hukum agama yang juga berlaku di kehidupan sosial ternyata juga tidak dijadikan pertimbangan oleh hukum Belanda.

Apakah Minke tetap berusaha bersikap adil sejak dalam pikiran menyikapi isterinya dirampas? Baginya ini memang di luar nalar. Tapi bagi hukum Belanda, begitulah logika hukumnya. Dan ini sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Selama saya berpraktik sebagai pengacara, banyak saya menemui kasus ketika seseorang mencari keadilan dibenturkan dengan tapi hukumnya berlaku demikian. Adilkah?

 

Apa Sebenarnya Hukum itu?

“Terngiang kata-kata Bunda : Belanda sangat-sangat berkuasa, namun tidak merampas isteri-isteri orang seperti orang-orang Jawa. Bunda? Tidak lain dari menantumu, isteriku, kini terancam akan mereka rampas, merampas anak dari ibunya, isteri dari suaminya, dan hendak merampas jerih payah Mama selama lebih dari dua puluh tahun tidak mengenal libur. Semua hanya didasarkan pada surat-surat indah jurutulis-jurutulis ahli, dengan tinta hitam tak luntur yang menembus sampai setengah kertas tebal.” ——- Bumi Manusia Hal. 487

Apa sebenarnya adil itu?

Pram, mungkin akan menjelaskan lewat seri selanjutnya dari tetralogi Pulau Buru.

Bersambung,

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *