Hukum Keluarga,  Jurnal Hukum,  Opini Hukum

Belajar Hukum Perkawinan Dari Nyai Ontosoroh (Part 2)

Pagi ini sengaja, saya ingin menulis tentang Hukum Perkawinan. Setelah bangun pukul 03.00, menyelesaikan ritual pagi sampai iqomah subuh usai, saya kemudian membuka UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Barang kali menemukan inspirasi tulisan dari situ. Sambil makan bubur kacang hijau, lalu saya membuka Instagram dan menemukan posting jouska. Bagini postingnya : 

Namanya Nyai Ontosoroh

Dia mengembangkan perusahaan dari kecil sampai berhasil. Tapi suatu hari, dia kehilangan kuasa atas perusahaan itu.

Namanya Nyai Ontosoroh

Dia punya anak dengan lelaki Belanda tapi suatu hari dia harus kehilangan hak asuh anak yang dikandungnya.

Kira-kira kenapa?

Berbagai komentar lucu, menggelitik, tapi ada pula yang logis dan tepat pun bermunculan. Bagi yang masih bingung siapa Nyai Ontosoroh itu, dia adalah sosok wanita luar biasa yang ada di Novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer. Saya pernah menuliskan gambaran novel ini sebelumnya disini.  

Diceritakan zaman dahulu, Nyai adalah sebutan bagi wanita gundik atau wanita simpanan. Begitulah Nyai Ontosoroh sejak 14 tahun, menjadi simpanan warga Belanda totok bernama Tuan Malemma. Tapi Nyai Ontosoroh beda dengan Nyai-Nyai yang lain. Dia adalah Nyai yang gemar belajar dan bekerja keras. Itulah yang bisa dia lakukan untuk meninggikan martabatnya meski sebagai Nyai.

Perusahaan Tuan Malemma yang dia kelola berkembang pesat. Nyai Ontosoroh menjadi seorang yang disegani dan dihormati sebagai pribumi meski banyak menimbulkan kontroversi. Anak perempuannya bernama Annelis Malemma pun ikut mengurusi perusahaan. Nyai Ontosoroh juga mengajarkan kepada anak perempuannya itu untuk menjadi tangguh sebagai pribumi agar tidak lagi ditindas oleh Belanda yang semena-mena. Tapi apakah Annelis benar seorang pribumi? Namanya Annelis Malemma. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan jouska.id menurut keilmuan saya.

 

Menelisik Perkawinan Nyai Ontosoroh dan Tuan Melemma

Dalam Novel, diceritakan pada usia 14 tahun orang tua Nyai Ontosoroh menyerahkan Sanikem (nama asli Nyai Ontosoroh) pada Tuan Melemma. Tidak ada pesta atau upacara perkawinan, gadis itu hanya diserahkan saja pada Tuan Besar.

Sebenarnya, bukan upacara atau pesta yang membuat perkawinan itu sah. Berdasarkan Burgerlijk Wet Boek atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata jaman Belanda, perkawinan sah apabila dicatatkan di kantor sipil dengan membuat Akta Pernikahan. Sebenarnya begitu pula syarat sah perkawinan sekarang menurut UU No. 1 tahun 1974.

Katanya, Nyai Ontosoroh cerdas, apakah dia tidak mengajukan usul untuk mensahkan perkawinan mereka dengan dicatatkan pada kantor sipil?

Sebenarnya, ketika Tuan Mellema ingin membaptis kedua anaknya, Robert dan Annelies, gereja menolak karena mereka bukan anak dari perkawinan yang sah. Lalu Nyai Ontosoroh meminta agar perkawinannya disahkan dalam catatan sipil agar kedua anaknya bisa menjadi Kristen, tetapi Tuan Mellema menolaknya.

Entah atas dasar apa Tuan Melemma menolaknya. Memang dalam hukum, pada dasarnya lelaki hanya boleh kawin dengan satu orang perempuan saja ( Kitab Undang-Undang Hukum Perdata – Pasal 27). Sedangkan Tuan Melemma sendiri masih mempunyai isteri yang sah di Belanda sana.

Begitu Tuan Besar itu wafat,  kemudian Maurits Mellema, anak sah Tuan Mellema yang datang dari negeri Belanda dan melabrak Nyai Ontosoroh rasanya alasan penolakan Tuan Mellemma bisa terjawab. Mauritis Mellemma berkata pada Nyai Ontosoroh : “Biarpun Tuan kawini nyai, gundik ini, perkawinan syah, dia tetap bukan Kristen. Dia kafir! Sekiranya dia Kristen pun, Tuan tetap lebih busuk…. Tuan telah lakukan dosa darah, pelanggaran darah! Mencampurkan darah Kristen Eropa dan dengan darah kafir Pribumi berwarna. Dosa tak terampuni!”

 

Garis Hukum Pada Masa Itu

Oh ya, di zaman dahulu ada pemisahan hukum perdata antara kalangan Pribumi, Eropa, dan Timur Asing. Menurut saya, penglabelan Eropa adalah kristen sedangkan pribumi adalah Islam merupakan bentuk garis hukum yang terjadi pada waktu itu. Dalam Novel dibuat adanya penekanan dalam batas itu, saya pikir karena disini menggambarkan bagaimana hubungan perdata pada masa lalu di hadapan hukum. Hukum benar-benar tak bisa melindungi Nyai Ontosoroh pada waktu itu.

Tidak hanya di jaman itu, pada zaman sekarang sebenarnya pernikahan siri juga sulit untuk mendapatkan pengakuan. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang saat ini berlaku, menghendaki pernikahan sah apabila dicatatkan di kantor sipil. Dan pada prinsipnya juga, pernikahan adalah ikatan lahir batin antara satu individu laki-laki dan satu individu perempuan. Hukum menuntut kita untuk melakukan monogami. Sedangkan pernikahan poligami untuk undang-undang yang sekarang tidak dilarang, namun ada aturan yang harus dipatuhi untuk mendapatkan pengakuan.

 

Pengakuan Pernikahan Berimbas Pada Harta Kekayaan 

Dalam UU Perkawinan, juga dibahas soal harta perkawinan. Perkawinan yang sah, akan melahirkan harta bersama yaitu harta yang didapat selama masa pernikahan berlangsung. Berbeda dengan harta bawaan yaitu, harta yang di bawa masing-masing individu sebelum menyatukan diri dalam pernikahan.

Tidak peduli, siapa yang bekerja keras. Nyatanya, tidak ada hubungan perdata yang diakui negara antara Nyai Ontosoroh dengan Tuan Mellemma. Hukum melihat, harta yang ada saat ini adalah hasil kerja keras Tuan Mellemma. Dan Nyonya Mellemma beserta anak kandungnya, berhak atas itu karena ikatan perdata atau perkawinan mereka sah menurut hukum. Seperti yang saya jelaskan di paragraf pertama, dalam pernikahan yang sah, ada pencampuran harta atas keduanya. Tak peduli siapa yang mengumpulkan pundi-pundi harta tersebut.

Bagaimana nasib Nyai Ontosoroh? Apakah ini karena Nyai Ontsoroh tidak melakukan pemindahan aset? Padahal, seluruh asetnya sudah dialih namakan menjadi milik Annelis yang merupakan anak kandungnya. Apakah Annelis diakui sebagai anaknya yang sah?

 

Status Anak dari Perkawinan Tidak Sah

Bagaimana setatus Annelis? Anak siapakah dia menurut undang-undang? Merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wet Boek, pasal 280 menyebutkan dengan pengakuan yang dilakukan terhadap anak luar kawin, timbulah hubungan perdata antara si anak dan bapak atau ibunya. Penggunaan kata “dan” serta “atau” dalam hukum merujuk pengertian yang sensitif. “Dan” berarti keharusan A dan B. Sedangkan “atau” berarti pilihan memilih A atau B. memilih bisa berarti salah satu.

Dengan nama belakang Annelis yaitu Annelis Mallemma, Maurits Mallema dengan mudah bisa membuktikan bahwa Annelis adalah anak kandung sah yang diakui oleh Ayahnya. Betapa sensitifnya nama belakang dalam novel Bumi Manusia ini. Bahkan seorang Minke yang tidak punya nama belakang bisa jadi masalah dalam pergaulannya di lingkungan HBS. Begitulah pribumi yang tidak punya nama belakang.

Kembali pada Annelis. tentu saja, Maurits Mallemma tidak akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa Annelis juga anak Nyai Ontosoroh. Pada saat itu, menurut Hukum Pengadilan Amsterdam Annelis adalah anak di bawah umur. Sekiranya anak di bawah umur, tentu harus punya wali. Pengadilan pun mengabulkan Matius menjadi wali dari Annelis. Oleh karenanya, Nayi Ontosoroh tak bisa melawan. Pengadilan Amsterdam rupanya lebih kuat di tanah Hindia. Lagi pula, karena Annelis masih di bawah umur, dia dianggap belum cakap mengelola harta yang tentu saja asal-usulnya dianggap dari Tuan Mallmmma.

Beberda dengan hukum perkawinan sekarang yang sudah diperbarui lewat UU No. 1 tahun 1974. Anak di luar nikah, dikatakan dalam aturan tersebut hanya memiliki hubungan perdata dengan Ibunya. Seandainya Nyai Ontosoroh hidup di masa sekarang, Annelis tidak akan dibawa Matius ke Belanda. Karena jelas, secara perdata dia anak kandung Ibunya yaitu Nyai Ontosoroh. Harta benda yang diatasnamakan Annelis juga tidak hilang sendirinya.

 

Apa Karena Nyai Obtosoroh Tidak Paham Hukum?

Sang Nyai digambarkan cerdas dan berwawasan. Saya rasa,ganjil, jika dia tidak memahmi ini. Atau memang karena pengetahun Hukum Belanda tidak sampai pada pribumi. Nyatanya seorang Minke yang sekolah di HBS dengan lingkungan Eropa, juga tidak bisa melawan. Selain memang, Mauritius dan pengacaranya dari Belanda mampu membuktikan permasalahan yang menyangkut hukum berdasar aturan hukum Belanda yang saat itu masih diberlakukan asas konkordasi. Asas konkordasi dimana hukum Belanda berlaku bagi warga Belanda ataupun Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.

 

Kesimpulan

Bagi saya, seorang pembelajar hukum, pelajaran yang bisa saya ambil dari cerita ini adalah, agar kita lebih cermat dalam menjalani segala sesuatu. Terkadang kita tak sadar bahwa kita sedang menjalani peristiwa hukum yang suatu hari bisa jadi keuntungan ataupun boomerang. memang terkadang, apa yang kita rasa, tidak bisa dilogika oleh ilmu hukum yang ada. Kita tidak boleh putus asa mencari jalan keluarnya.

Sedangkan, bagi financial advisor, mungkin lebih menyarankan agar seorang tidak kaget dengan keadaan financial yang tiba-tiba berubah. Ketika semua yang diperjuangkan lenyap sudah. Mereka bisa memberikan jawaban apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk penyelamatan.

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *