Law

Hukum Perkawinan dari Peristiwa Nyai Ontosoroh Bumi Manusia

Namanya Nyai Ontosoroh. Dia mengembangkan perusahaan dari kecil sampai berhasil. Tapi suatu hari, dia kehilangan kuasa atas perusahaan itu. Namanya Nyai Ontosoroh. Dia punya anak dengan lelaki Belanda tapi suatu hari dia harus kehilangan hak asuh anak yang dikandungnya. Begitulah potongan kalimat yang aku baca dari salah satu feed akun instagram. Ada banyak peristiwa hukum perkawinan dari berbagai peristiwa yang dialami Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia.

 

Peristiwa Hukum yang Dialami Nyai Ontosoroh

Nyai Ontosoroh, seorang tokoh dalam Tetralogi Bumi Manusia yang digambarkan sebagai  sosok wanita luar biasa. Pada sekitar tahun 1800an, panggilan Nyai merupakan sebutan bagi wanita gundik atau wanita simpanan. Sejak berusia 14 tahun, Nyi Ontosoroh menjadi simpanan warga Belanda totok bernama Tuan Malemma. Meskipun begitu, Nyai Ontosoroh berbeda dengan Nyai-Nyai pada umumnya. Dia adalah Nyai yang gemar belajar dan bekerja keras. Bahkan saat Tuan Melemma sibuk bermain judi dan mabuk-mabukan, Nyai Ontosoroh justru membuat perusahaan Tuan Melemma berkembang pesat.

Nyai Ontosoroh menjadi seorang yang disegani dan dihormati sebagai pribumi karena cara berpikirnya. Gelar sebagai Nyai seolah tidak menyurutkan langkahnya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Sekalipun harus menuai banyak kontroversi. Anak perempuannya bernama Annelis Malemma pun ikut mengurusi perusahaan bersamanya. Nyai Ontosoroh juga mengajarkan kepada anak perempuannya itu untuk menjadi tangguh sebagai pribumi agar tidak lagi ditindas oleh Belanda yang semena-mena. Tapi apakah Annelis benar seorang pribumi?

Baca Juga :

Refleksi Hukum dalam Bumi Manusia

 

Hukum Perkawinan Nyai Ontosoroh dan Tuan Melemma

Dalam Novel, diceritakan pada usia 14 tahun orang tua Nyai Ontosoroh menyerahkan Sanikem (nama asli Nyai Ontosoroh) pada Tuan Melemma. Tidak ada pesta atau upacara perkawinan, gadis itu hanya diserahkan saja pada Tuan Besar. Iya, orang tua Sanikem terpaksa menyerahkan anaknya lantaran untuk menebus utang yang tidak kunjung bisa dibayar. Satu-satunya cara adalah, menyerahkan Sanikem. Tidak hanya Sanikem yang mengalami peristiwa itu. Beberapa gadis pribumi juga mengalaminya. Dan dia, ingin menjadi Nyai yang berbeda agar tidak dipandang sebelah mata.

Apakah perkawinan Nyai Ontosoroh dengan Tuan Melemma sah? tentu saja tidak. Bukan karena tidak ada pesta perayaannya akan tetapi caranya tidak sesuai dengan hukum yang berlaku pada waktu itu. Berdasarkan Burgerlijk Wet Boek atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata zaman Belanda, perkawinan sah apabila dicatatkan di kantor sipil dengan membuat Akta Pernikahan. Katanya, Nyai Ontosoroh itu orang yang cerdas. Apakah dia tidak mengajukan usul untuk mensahkan perkawinan mereka dengan dicatatkan pada kantor sipil?

Sebenarnya, ketika Tuan Mellema ingin membaptis kedua anaknya, Robert dan Annelies, gereja menolak karena mereka bukan anak dari perkawinan yang sah. Lalu Nyai Ontosoroh meminta agar perkawinannya disahkan dalam catatan sipil agar kedua anaknya bisa menjadi Kristen, tetapi Tuan Mellema menolaknya. Entah atas dasar apa Tuan Melemma menolaknya. Memang dalam hukum, pada dasarnya lelaki hanya boleh kawin dengan satu orang perempuan saja ( Kitab Undang-Undang Hukum Perdata – Pasal 27). Sedangkan Tuan Melemma sendiri masih mempunyai isteri yang sah di Belanda sana.

Begitu Tuan Besar itu wafat,  kemudian Maurits Mellema, anak sah Tuan Mellema yang datang dari negeri Belanda dan melabrak Nyai Ontosoroh. Disini aku merasa alasan penolakan Tuan Mellemma untuk tidak menikahi Nyai Ontosoroh bisa terjawab. Mauritis Mellemma berkata pada Nyai Ontosoroh : “Biarpun Tuan kawini Nyai, gundik ini dengan perkawinan syah, dia tetap bukan Kristen. Dia kafir! Sekiranya dia Kristen pun, Tuan tetap lebih busuk…. Tuan telah lakukan dosa darah, pelanggaran darah! Mencampurkan darah Kristen Eropa dan dengan darah kafir Pribumi berwarna. Dosa tak terampuni!” Ya, memang dalam hukum agama Kristen, seseorang hanya boleh menikah satu kali yang menjadi ikatan perkawinan sekali seumur hidup.

Lalu, apa yang terjadi ketika perkawinan Nyi Ontosoroh dengan Tuan Melemma tidak sah?

 

 

Hukum Perkawinan Pada Masa Itu

Oh ya, pada zaman dahulu ada pemisahan hukum perdata antara kalangan Pribumi, Eropa, dan Timur Asing. Menurutku, penglabelan Eropa adalah kristen sedangkan pribumi adalah Islam merupakan bentuk garis hukum yang terjadi pada waktu itu. Dalam Novel dibuat adanya penekanan dalam batas itu, saya pikir karena disini menggambarkan bagaimana hubungan perdata pada masa lalu di hadapan hukum. Hukum benar-benar tak bisa melindungi Nyai Ontosoroh pada waktu itu.

Tidak hanya di zaman itu, pada zaman sekarang sebenarnya pernikahan siri juga sulit untuk mendapatkan pengakuan. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang saat ini berlaku, menghendaki pernikahan sah apabila dicatatkan di kantor sipil. Dan pada prinsipnya juga, pernikahan adalah ikatan lahir batin antara satu individu laki-laki dan satu individu perempuan. Hukum menuntut kita untuk melakukan monogami. Sedangkan pernikahan poligami untuk undang-undang yang sekarang tidak dilarang, namun ada aturan yang harus dipatuhi untuk mendapatkan pengakuan.

 

Hukum Perkawinan Berimbas Pada Harta Kekayaan

Dalam UU Perkawinan, juga dibahas soal harta perkawinan. Perkawinan yang sah, akan melahirkan harta bersama yaitu harta yang didapat selama masa pernikahan berlangsung. Berbeda dengan harta bawaan yaitu, harta yang di bawa masing-masing individu sebelum menyatukan diri dalam pernikahan.

Tidak peduli, siapa yang bekerja keras. Nyatanya, tidak ada hubungan perdata yang diakui negara antara Nyai Ontosoroh dengan Tuan Mellemma. Hukum melihat, harta yang ada saat ini adalah hasil kerja keras Tuan Mellemma. Dan Nyonya Mellemma beserta anak kandungnya, berhak atas itu karena ikatan perdata atau perkawinan mereka sah menurut hukum. Seperti yang aku jelaskan di paragraf pertama, dalam pernikahan yang sah, ada pencampuran harta atas keduanya. Tidak peduli siapa yang mengumpulkan pundi-pundi harta tersebut.

Jadi, berdasarkan ikatan perkawinan antara Tuan Melemma dengan Nyai Ontosoroh sudah dipastikan bahwa harta yang dikumpulkan Nyai Ontosoroh bukan termasuk harta bersama. Bahkan bukan juga termasuk harta Nyai Ontosoroh. Meskipun, beberapa aset sudah dipindahkan atas nama Annelis yang merupakan anak kandunganya, pertanya adalah apakah Annelis diakui sebagai anaknya yang sah?

 

Status Anak dari Perkawinan Tidak Sah

Status Annelis ini perlu juga kita pertegas karena ada unsur hukum yang timbul karenanya. Iya, karena perkawinan Nyai Ontosoroh dengan Tuan Melemma tidak sah. Apakah status Annelis ini merupakan anak sah dari sisi hukum?  Merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wet Boek, pasal 280 menyebutkan dengan pengakuan yang dilakukan terhadap anak luar kawin, timbulah hubungan perdata antara si anak dan bapak atau ibunya. Penggunaan kata “dan” serta “atau” dalam hukum merujuk pengertian yang sensitif. “Dan” berarti keharusan A dan B. Sedangkan “atau” berarti pilihan memilih A atau B. memilih bisa berarti salah satu.

Dengan nama belakang Annelis yaitu Annelis Mallemma, Maurits Mallema dengan mudah bisa membuktikan bahwa Annelis adalah anak kandung sah yang diakui oleh Ayahnya. Betapa sensitifnya nama belakang dalam novel Bumi Manusia ini. Bahkan seorang Minke yang tidak punya nama belakang bisa jadi masalah dalam pergaulannya di lingkungan HBS. Begitulah pribumi yang tidak punya nama belakang.

Kembali pada Annelis. tentu saja, Maurits Mallemma tidak akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa Annelis juga anak Nyai Ontosoroh. Pada saat itu, menurut Hukum Pengadilan Amsterdam Annelis adalah anak di bawah umur. Sekiranya anak di bawah umur, tentu harus punya wali. Pengadilan pun mengabulkan Matius menjadi wali dari Annelis. Oleh karenanya, Nyai Ontosoroh tidak bisa melawan. Pengadilan Amsterdam rupanya lebih kuat di tanah Hindia. Lagi pula, karena Annelis masih di bawah umur, dia dianggap belum cakap mengelola harta yang tentu saja asal-usulnya dianggap dari Tuan Mallmmma karena perkawinan tidak sah tadi.

 

Kok Bisa Annelis Dianggap Tidak Cakap Hukum?

Pasti yang baca novel ini akan bertanya, kok bisa Annelis dianggap tidak cakap hukum padahal sudah menikah dengan Minke. Kenapa perkawinan Annelis dan Minke tidak sah padahal sudah dirayakan tujuh hari tujuh malam dan mengetahu ulama setempat. Rupanya, memang hukum Belanda lebih unggul waktu itu. Karena Annelis dianggap anak kandung Tuan Melemma dengan nama belakangnya, perkawinan menjadi tidak sah. Karena perkawinan seorang keturunan Belanda, ada caranya sendiri. Karena perkawinan dianggap tidak sah, maka hubungan Minke dan Annelis tidak bisa diperhitungkan. Oleh karenanya Maurits Mellema bisa menjadi wali yang sah atas Annelis.

 

Apa Nyai Ontosoroh Tidak Paham Hukum?

Sang Nyai digambarkan cerdas dan berwawasan. Aku merasa ganjil. Kalau Nyai Ontosoroh tidak memahmi ketentuan hukum pada waktu itu. Atau memang karena pengetahun Hukum Belanda tidak sampai pada pribumi? Nyatanya seorang Minke yang sekolah di HBS dengan lingkungan Eropa, juga tidak bisa melawan.  Mauritius dan pengacaranya dari Belanda memang mampu membuktikan permasalahan yang menyangkut hukum berdasar aturan hukum Belanda yang saat itu masih diberlakukan asas konkordasi. (Asas konkordasi dimana hukum Belanda berlaku bagi warga Belanda ataupun Eropa yang tinggal di Hindia Belanda). Tapi pertanyaanku adalah dimana letak hukum yang adil untuk pribumi waktu itu? Eyang Pram memang sangat menawan dalam menceritakan kemelik cerita Minke ini.

 

 

 

Kesimpulan

Baik zaman dahulu maupun sekarang, menikah itu harus paham aturan. Selain aturan negara yang paling penting sebenarnya adalah aturan agama. Refleksi Nyai Ontosoroh, membuatku paham bahwa pernikahan seharusnya tidak dipaksakan. Sedangkan Refleksi pernikahan antara Annelis dan Minke membuatku bertanya apakah memang Belanda menikah dengan Pribumi itu suatu larangan secara diam-diam. Ah, bahas hukumnya kenapa jadi sulit ya…. Kalau menurut Mbak Liswanti Pertiwi sebenarnya Nikah itu mudah. Dia bahas dari sisi preparationnya yang bisa kalian baca disini ya!

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *