Jurnal Ibu,  Pasutri

Membangun Komunikasi Awal Pernikahan

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa pria menggunakan  7.000 kata dalam satu hari, sementara wanita menggunakan 20.000 kata sehari. Wow!!! Karena itu Anda tidak perlu heran apabila kaum hawa terlihat senang berbicara karena memang mereka senang membangun hubungan lewat pembicaraan dan memiliki kemampuan kedua belah otak yang bisa bekerja secara bersamaan. Hal ini yang tidak dimiliki oleh kaum pria. (Sumber : klik)

Maka tidaklah heran, jika saya suka tulisan dan suami saya suka visual. Eh, tapi bukan itu maksud saya. Jadi, kalau di rumah nih, saya lebih suka cerita apapun kejadian yang saya alami terutama selama tidak bertemu dengan suami. Entah sikap orang yang menjengkelkan, kendala dalam perkara yang saya tangani, sampai cicak yang jatuh di meja makan. Hampir semua saya ceritakan.

Dasarnya suami saya ya, dia pikir semua yang saya ceritakan adalah masalah yang harus dicari solusinya. Itu wajar. Karena memang dasarnya lelaki ingin diakui bahwa mereka solutif dan mampu menunjukkan jalan bagi perempuan-perempuan yang sedang galau. Sampai pada momen dimana, hal yang saya ceritakan tidak ada ujungnya. Bahkan saya sendiri paham suami saya tidak bisa menemukan solusinya. Bahkan mungkin suami saya juga paham, kalau saya sudah menyimpan solusinya sendiri. Apalagi, jika yang saya ceritakan itu bab hukum. “Terus kenapa kamu ceritakan ke aku?” tanyanya pada akhirnya saat cerita saya tidak akan bisa dia temukan solusinya.

Membangun Komunikasi Efektif

Karena saya paham ilmu komunikasi ini dari buku Men Are From Mars Women Are From Venus karya Jhon Gray, PhD, saya pun menjawab dengan, “Dengerin aja, aku sudah tahu solusinya sebenarnya. Cuma butuh cerita aja.” Lama-kelamaan, suami saya sudah paham bagaimana pola komunikasi saya. Semakin kesini dia paham, bahwa tidak semua cerita saya dimasukkan ke logika untuk dia cerna kemudian dicari solusinya. Kalau dia paham saya hanya minta didengarkan, maka dia akan jawab, “No comment,” atau “Butuh didengarkan saja, kan?”

Tentu saya tidak boleh tersinggung dengan jawaban itu. Kalau saya menuntut suami untuk merespon semua, bisa-bisa soft ware yang ada di kepalanya eror lalu tidak memberi saya nafkah lahir batin lagi. Sebagai isteri, saya juga harus bisa mengendalikan diri. Tidak munafikkan saking banyaknya kosakata yang dimiliki isteri, ingin sekali semua hal dikomentari. Inging semua-semuanya diklarifikasi atau digurui. Apakah itu benar?

Benar atau salahnya, tergantung pada bagaimana respon lawan bicara kita. Dalam hal ini suami. Apakah dengan cara terus berkata membuat rumah tangga adem? Atau malah menjadi seperti membakar bara api? Oleh karenanya, memahami cara komunikasi dengan pasangan yang efektif itu penting. Bagaimana menemukannya?

Saling Komitmen Untuk Jujur dan Terbuka

Kalau sudah berani buka-bukaan baju di atas ranjang, ya jangan tanggung-tanggung untuk membuka topeng yang tak kasat mata, dong! Alias, jadilah diri sendiri yang sejujur-jujurnya di depan pasangan. Ini agak sulit jika semasa single tidak terbiasa menjadi diri sendiri. Bagaimana mau menemukan cara atau pola komunikasi yang efektif jika suatu hubungan diawali dengan ketidak jujuran dan keterbukaan? Agar bisa jujur, terbuka, dan apa adanya memang perlu dilatih apalagi di tengah kebebasan netizen sekarang ini. Makannya, sering bilang ke adek-adek yang belum menikah, untuk segera menemukan dirinya sendiri yang otentik. Dengan begitu sebagai individu kita tahu, seperti apa kita, apa maunya kita, dan bagaimana pasangan harus memahami kita. Kalau sudah terlanjur nikah, ya dicoba dilatih pelan-pelan.

Sakit di Awal Untuk Kuat Kedepannya

Aku ingat, pada waktu awal menikah, masih hitungan minggu sepertinya. Aku dan suami bertengkar, sampai dia mengatakan ingin pergi dari rumah. Padahal, inti dari permasalahannya adalah, perbedaan velue yang masing-masing masih dipengaruhi keluarga lama. Akhirnya kami sadar, ini tidak bisa dibiarkan. Kami harus membangun value kami sendiri dengan cara menggabungkan value yang kami anggap baik dari keluarga lama. Dan menghapus value yang kami sepakati tidak baik dari keluarga lama. Tentu indikatornya bukan benar salah tapi kesesuaian dengan keadaan dan tujuan kita. Sakit memang, menghapus kebiasaan yang sudah terlanjur mangakar. Setiap perasaan itu harus kita komunikasikan. Agar baik sebagai suami maupun isteri bisa sama-sama tenang menjalani setiap naik turunnya rumah tangga.

Libatkan Rasa dan Logika dengan Tepat

Isteri, sebagai perempuan maunya perasaannya dipahami. Maunya setiap perasaannya dimengerti tanpa diucapaknnya. Meskipun pada akhirnya semua ingin diutarakan untuk mendapatkan perhatian. Sedangkan suami, sebagai laki-laki, maunya dijunjung tinggi dan dihargai. Dia mau terlihat jantan dan bisa diandalkan. Maka dari itu, sebagai isteri harus mampu menyampaikan dengan tepat apa yang dia mau dan rasakan. Sedangkan suami, harus tahu kapan isteri membutuhkan bantuannya dan seperti apa bentuknya. Saya mulai belajar cara ini. Saya mulai paham, tidak semua hal sepele bisa saya sampaikan pada suami atau mungkin saya harus mencari momen dan cara yang tepat untuk menyampaikan suatu permasalahan. Suamipun juga begitu, harus paham kapan isteri perlu bantuan. Jangan sampai, isteri merasa tidak dipedulikan karena suami sudah melihat isterinya bisa mengerjakan sendiri. Padahal dalam batinnya, isteri ingin dibantu tapi tidak diungkapkannya. Bukan karena gengsi, tapi ingin dimengerti tanpa harus mengatakannya. Waduh, kalau begitu logikanya dimana? Itu suami bukan dukun, dong!

Memaknai Kembali Arti Sabar dan Iklas

Sabar dan iklas itu bukan berarti harus diam dan menerima saja keadaan rumah tangga kok begini dan begitu tanpa ada komunikasi, seolah pura-pura saja tidak ada apa-apa. Ya nggak bisa begitu, dong! Bahaya kalau lama-lama jadi gunung es yang siap meledak. Kalau dalam mengkomunikasikan sesuatu itu jadi ribut, ya sudah ribut saja sampai temu jalan tengahnya. Jadi diusahakan sampai nemu jalan tengahnya ya. Sakit, ya itu tadi saya bilang, sakit di awal saja. Sabar, semua akan klik pada waktunya. Iklasin saja jika memang kita harus menghapus ego kita dan berkompromi dengan ego pasangan untuk sama-sama menemukan ego kita ini dimana, ya.

Menemukan Momen Eurikanya

Semua masalah waktu. Setiap pasangan, selalu akan mendapat ujian. Rentang waktunya, tidak semua pasangan sama. Dari ujian itu, setiap respon yang diberikan, tentu akan berdampak pada keberlangsungan rumah tangga. Pastikan masing-masing dari kita meresponnya secara bijak. Dengan begitu, kita tidak hanya tumbuh menjadi individu yang lebih baik, tapi juga dewasa dalam bertindak.

Kasus Perceraian, Karena Komunikasi

Data dari Surabaya menunjukkan faktor ekonomi sebagai penyebab perceraian tertinggi pada 2018. Sedangkan alasan terbanyak kedua adalah hubungan yang tidak harmonis. Kalau menurut saya pribadi sebagai pengacara yang sering menangani kasus hukum keluarga, pada intinya masalah akarnya adalah komunikasi. Ekonomi seharusnya bisa saja dikomunikasikan. Jika ekonomi sudah mapan, jika penyebabnya hubungan tidak harmonis, lagi-lagi akarnya komunikasi. Maka penting kita mempelajari dan mempraktikkan komunikasi yang efektif dengan pasangan.

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *