Jurnal Pengacara,  Jurnal Perempuan,  Perlindungan,  Wajib Tahu

Perempuan, Kamu Berhak mencari Perlindungan atas Kekerasan Berikut!

Peristiwa kekerasan dalam lingkup rumah tangga semakin meningkat. Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan pada 6 Maret 2019, jumlah kekerasan terhadap perempuan paling tinggi adalah KDRT atau ranah personal yang mencapai angka 71% atau 9.637 kasus. Paling menonjol adalah kekerasan fisik mencapai 41% atau 3.927 kasus. Itu yang terungkap. Masih banyak yang belum terungkap dan tidak mau melapor. Saya juga sering menangani kasus perceraian yang dengan latar belakang permasalahannya termasuk dalam lingkup Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sayangnya, lebih banyak kasusnya yang berhenti di Pengadilan Agama dan tidak dilanjut di Kepolisian.

Mengapa beberapa dari mereka enggan melapor ke polisi? Pertama memang karena malas ribet. Dan yang kedua, sebagian memang tidak memahami bahwa itu merupakan bentuk kekerasan. Jadi, kalau dalam hukum kan kita selalu merujuknya Undang-undang, ya. Menurut UU No. 23 Tahun 2004  Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, ada 4 kekerasan yang bisa dipidanakan. Apa saja itu?

Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga

UU No. 23 Tahun 2004  Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga menerangkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Setiap kekerasan tersebut memiliki hukuman yang berbeda-beda. Hukuman yang didapat dari melakukan kekerasan ini antara lain :

  1. Kekerasan Fisik merupakan perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Tahunya itu luka berat, karena KDRT tentu dasarnya dari visum. Hukuman ada kekerasan ini maksimal 10 tahun dan denda 30 juta rupiah;
  2. Kekerasan Psikis merupakan perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak. rasa tidak berdaya, dan penderitaan psikis berat pada seseorang. Hukuman maksimal 15 tahun dan denda 45 juta rupiah;
  3. Kekerasan seksual dalam artian disini, misalnya adanya pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan orang dalam lingkup rumah tangga, dan hal ini yang paling dekat adalah suami. Maka, teman-teman bisa lapor atas dasar UU ini. Misalnya lagi, ketika pihak dalam lingkup rumah tangga, yang paling potensial tentu suami, memaksa perempuan atau isteri melakukan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan financial.  Hukuman maksimal
  4. Penelantaran rumah tangga dipidana paling lama 4 bulan. Identifikasi penelantaran ini, paling mudah adalah tidak diberi nafkah.

Pelaporan Polisi

Jadi, ketika mendapati tetangga, ataupun kawan-kawan mengalami kekerasan yang sudah saya sebutkan di atas tadi, teman-teman beserta korbannya bisa lapor ke polisi untuk meminta perlindungan. Untuk bidang perempuan, kepolisian mempunyai pelayanan kusus bernama Unit PPA atau Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Nanti, teman-teman bisa lapor, terus mendapat surat keterangan lapor. Semacam tanda terima kalau udah lapor gitu. Setelah itu di proses. Nanti ya, di artikel lain akau bakal cerita bagaimana kepolisian mengolah perkara dalam lingkup rumah tangga seperti ini.

Apa untungnya Lapor, sih?

Oke, mungkin dengan lapor sakit hati kita tidak akan terbalas. Luka-luka yang didapatkan tidak akan kembali. Perlu diketahui, membalaskan atau menyalurkan sakit hati bukanlah tujuan hukum. Disini yang terpenting adalah penegakan dari hukum itu sendiri. Kalau satu korban melakukan pembiaran, bisa-bisa budaya kekerasan menjadi biasa dan mudah saja dilakukan. Pemberian efek jera harus dilakukan. Salah satunya dengan melaporkan tindak pidana ini pada kepolisian. Apakah kita mendapat ganti rugi materiil? Jika memang itu diperlukan, bisa saja dibuat kesepakatan.

 

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *