Law

Apa yang Bisa Dijadikan Alasan Cerai di Pengadilan?

Pernikahan yang bahagia sampai maut memisahkan, tentu menjadi dambaan setiap insan. Siapa juga yang ingin pernikahannya kandas di tengah jalan? Tidak ada yang ingin. Semua  orang pasti ketika menikah, harapannya tentu bahagia bersama sampai tua. Harapanku dengan pasangan pun, juga demikian.

Aku sempat anti menangani kasus perceraian. “Masak iya, aku bantuin orang cerai,” pikirku sebelum terjun praktik pengacara dan memahami sendiri. Ternyata, terkadang perceraian itu memang diperlukan dalam suatu hubungan. Beberapa kasus yang aku tangani, ada yang dilatar belakangi karena percekcokan yang tidak ada ujungnya, perselingkuhan, dan ekonomi. Beragam masalah, membuat hati tidak nyaman dan memilih perceraian sebagai satu-satunya jalan keluar. Mau bagaimana lagi, namanya hati juga tidak bisa kita paksakan.

Tugasku sebagai pengacara, tidak mendesak pasangan untuk bercerai. Jadi paling sebel kalau ada yang bilang, “Pengacara kok ceraian orang mulu!” Halloo….. mereka butuh bantuan yolo!! Dalam kasus perceraian, aku bertugas untuk membantu mengarahkan klien tentang prosedur hukum dan membantu klien mendapatkan hak-hak mereka seperti gono-gini, nafkah dan hak asuh anak pasca perceraian. Tentang keputusan bercerai,  itu adalah hak klien sendiri. Pernah juga, klien yang aku tangani memutuskan untuk mencabut perkaranya karena ternyata permasalahan dengan pasangannya sudah tuntas. Dengan demikian, aku turut bahagia juga sebagai pengacaranya.

 

Selalu Ada Sebab, Dibalik Keputusan Bercerai

Tidak mungkin ada abu, jika tidak ada api. Tidak mungkin ada perceraian, jika pasangan tersebut tidak ada permasalahan. Aku yakin, setiap orang itu mampu mengukur kapasitasnya dalam menghadapi masalah. Memang sih, pasangan itu adalah ujian. Masalah seharunya bisa dilewati dan diselesaikan bersama. Tapi, pada kenyataannya memang ada suatu keadaan yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Dan jika kalain menemui pasangan yang percerai di lingkungan kalian, jangan rendahkan. Tepuk bahunya, dan kuatkan. Karena keputusan cerai, memang  bukan keputusan yang mudah, sekalipun untuk orang yang berani memutuskan.

 

Alasan Cerai Menurut UU Perkawinan

Adapun alasan-alasan yang bisa digunakan untuk dasar bercerai antara lain:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;

f. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Aturan Kusus Beragama Islam

Bagi suami istri yang menikah secara islam, bisa  mengajukan gugatan cerai seperti yang diatur dalam kompilasi hukum islam yaitu:

  • Suami melanggar taklik talak;
  • Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga;

Nah, adapun shigat taklik talak maksudnya adalah suami yang melanggar point-point dalam buku nikah (bagian belakang) yang terdiri dari:

  • Meninggalkan istri saya 2 (dua) tahun berturut-turut;
  • Tidak memberikan nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
  • Menyakiti badan atau jasmani istri saya; atau
  • Membiarkan (tidak memperdulikan istri Saya 6 (enam) bulan lamanya

Dasar bercerai Harus Jelas dan Bisa Dibuktikan

Nah, kalau biasanya klien selalu cerita panjang kali lebar ke aku, datanya aku kumpulin. Tapi, nggak semua aku notice. Aku yang bakal milah mana alasan hukum dan mana alasan perasaan. Intinya kan gini, hukum itu harus bisa dibuktikan dengan jelas secara fisik dapat dilihat dan didengar. Sedangangkan perasaan, kan ya jelas tidak bisa dibuktikan.

Alasan cerai yang paling diandalkan adalah suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Ini yang penting saksi bisa cerita perselisihannya sudah beres. Kalau soal tidak diberi nafkah, itu sulit juga membuktikan. Nggak ada kuitansinya.

Tapi semoga, nggak kejadianlah yang namanya perceraian. Tapi memang, kalau sudah tidak tahan ya tidak bisa dikatakan.

 

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

31 Comments

  • Ella Fitria

    Wah noted nih. Artikel yg bagus buat dipelajari semua orang, meskipun harapannya nggak ada kata perceraian di sebuah rumah tangga ya. Tp kl memang keadaannya seperti poin2 yg disebutkan di atas, ada baiknya berpikir ulang. Duh sok bgt aku, nikah aja blm. Hhhh

  • Hasnah Siregar

    Saya pernah gagal di pernikahan pertama, Mbak. Rasanya itu nggak enak banget. Kalau dengar orang lain apalagi teman dekat yang cerai, rasanya ikutan jadi sedih banget. Merasa gimana rasanya dulu berjuang pasca perceraian.

      • Meilawati Nurhani

        Wah jadi ilmu baru nih, makasih sharingnya Mbak. Ternyata tentang perceraian banyak juga ya poin-poinnya, harus jelas juga alasannya, dengan alasan hukum bukan alasan perasaan semata, jadi memang nggak boleh terburu-buru ya dalam mengambil keputusan.

    • Dhika Suhada

      ” hukum itu harus bisa dibuktikan dengan jelas secara fisik dapat dilihat dan didengar. Sedangkan perasaan, kan ya jelas tidak bisa dibuktikan”. Note banget ini mbak. Bukan karena mendukung perceraian. Tapi memang ada hal yang gak bisa dipertahankan bagi sebagian orang ya mba.

  • Haeriah Syamsuddin

    Jadi ingat tanteku yang bekerja di pengadilan agama daerah. Banyak cerita yang biasa dikongsikannya ke kami. Cerita yang dengannya, beliau berharap agar kami bisa mengambil pelajaran dan sedapat mungkin gak perlu mampir ke kantornya.

  • Lithaetr

    Pertama baca hal-hal perceraian adalah dari buku nikah . Kemudian jadi inget mama yang juga beprofesi seperti mba yang pengacara. Dulu juga suka mengurus masalah perceraian. Ingat banget kata-kata beliau, “Pernikahan dan perceraian itu sebentar doang keputusannya. Kalau pernikahannya itu keputusannya sah. Kalau perceraian itu ketuk palu hakim. Tapi pertanggung jawaban dan masalahnya tetap di bawa seumur hidup. Kecuali masalah perceraiannya karena cerai mati.” Terima kasih ya, mba untuk pencerahannya lagi 🙏

  • Vidyagatari

    Terima kasih banyak informasi dan ulasanny kak. Semoga kelg kita selalu ditentramkan dan samawa sll y kak. Saya suka gaya penulisannya ^^, santai dan asik dibaca. Salam kenal kak ^^

  • Arif Rudiantoro

    Wah jadi tau alasan-alasan seseorang melakukan perceraian.
    Saya agak gimana gitu dg poin (e)

    e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri

    Kalau misalnya dalam mengarungi rumah tangga ada salah satu di takdirkan Allah misalnya kecelakaan kaki patah, kalau lantas di cerai heeem kasian ya, entah itu terjadi pada suami maupun istri heem 🙂

  • Wiwid nurwidayati

    Saya sering baca di novel-novel tentang pengacara yang membanti perceraian. Eh ketemu mbaknya,blogger dan juga pengacara. Saya jadi tahu dengan jelas poin-poin yang membolehkan seseorang mengajukan perceraian.

    • Erin

      Ada hukum yang memayungi untuk setiap alasan perceraian ya, mba. Menurutku juga memang ada hal-hal yang tidak bisa dipertahankan jika sudah melewati batas dan tidak ada perubahan.
      Walau dalam praktiknya ribet juga ya mba, harus ngurus harta gono-gini.
      Semoga kita dan pasangan bahagia selamanya.

  • Susana Devi

    Perceraian itu boleh, tapi sebaiknya tidak dilakukan. Tapi tetep saja, pasti bakal menyisakan luka. Mudah2an kita selalu dijaga rumah tangganya.

  • Siti Mutmainah

    Setiap berumah tangga pasti pengennya langgeng sampai maut yang memisahkan, tapi kalo memang permasalahan ga ada ujung solusinya yaa memang harus cerai apalagi permasalahan selingkuh atau kdrt, duhh sedihh banget dengernya., Semoga kelak kita bisa membangun rumah tangga yang langgeng samawa sampai maut yang memisahkan aminn

  • Salbiah

    Betul Mbak, alasannya harus dg bukti fisik. Perselisihan yg tak kunjung henti meski dapat dijadikan alasan. Karena ada buktinya. Smg saja semua rumah tangga akan selalu sakinah mawaddah tanpa ada kata cerai.

  • Lia Yuliani

    Menarik sekali informasinya. Kadang kalau perceraian itu meski tak ada satu pasangan yang mengharapkannya, bisa terjadi karena berbagai hal. Masalah ekonomi, tindakan KDRT, ketidakharmonisan yang terus menerus juga konflik keluarga lainnya bisa jadi dasar untuk perceraian. Btw boleh enggak nih kalau suatu saat mau konsultasi masalah hukum sama Mbak Jihan? Boleh hubungi emailnya, Mbak?

    • Ranti

      Sebuah insight mba, yang namanya pengadilan semua harus ada bukti fisiknya ya. Jadi intinya kalau ada klien kasus perceraian, goalnya adalah agar gugatan cerai itu diterima karena ada bukti yangmendukung. Gitu bukan mba?

  • Nisya Setyawan

    Jadi pengacara kerjanya bukan ngejok-joki pasangan yang mau cerai ya mba. Mon maap mba jihan, saya ngakak pas baca bagian itu…
    Tp nice info mba, artikelnya tak baca sampe habis, bahkan tak ulang bacanya!

  • Diah Alsa

    haduhh, jadi ikutan sedih juga ya Mbak kalau harus berhadapan dengan status perceraian itu, tapi ketimbang terus dipertahankan dan membuat jadi sakit pisah jadi hal terbaik kali ya. hikks.

    • Siska Dwyta

      Jadi kalau mau mengajukan gugatan cerai gitu harus ada alasan yang jelas dan disertai bukti ya Mbak? Tapi semoga saya nggak pernah berurusan dengan hal yang seperti ini. Btw sebelumnya nggak pernah ketemu dengan blogger yang profesinya pengacara so salam kenal ya Mbak. Tulisannya informatif sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *