Hukum Pidana,  Jurnal Hukum

Cerita Anak Dipenjara Gara-gara Pacaran Kebabalasan!

V – Laki-laki (nama inisial) menunduk lesu, saat hakim tunggal perkara pidana anak membacakan putusan untuknya di Pengadilan Negeri Kabupaten Madiun. L didakwa dengan dakwaan pencabulan yang dilakukannya kepada teman se-usianya R- Perempuan. Berdasarkan Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76 E UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, perbuatan V diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Wow, ngeri banget ya hukumannya.

Kronologi Kejadian

V dan R, keduanya merupakan bocah remaja usia 16 tahun yang masih duduk di bangku SLTP. Keduanya memang beda sekolah. Awal kenalannya lewat facebook, janjian kopdar, dan singkat cerita mereka pacaran. Waktu pacaran, V sering berkunjung ke rumah R. Begitu pula dengan R juga sudah mengenal baik keluarga V. Kebetulan, keduanya tidak tinggal bersama orang tua. R tinggal bersama kakeknya, lantaran kedua orang tuanya berpisah dan ibunya bekerja di perantauan. Sedangkan  V tinggal bersama bibinya, karena kedua orang tuanya sedang mempersiapkan rumah di luar kota. Dan rencananya, akan memboyong V untuk pindah.

Selang waktu, antara mereka berkenalan, sampai pacaran tidak lama. Kemungkinan hitungan hari. Aku sebenarnya juga heran, emang begitu ya anak pacaran zaman sekarang? Hhhhmmm…. V dikenal baik oleh keluarga R. Dianggap biasa kalau V keluar masuk rumah R. Sampai pada, R mendapatkan kesempatan untuk masuk kamar V. Namanya laki-laki perempuan, berudaan di kamar nggak ada orang, V melihat ini sebagai peluang. Dia pun membujuk R untuk melepas celananya dan melakukan hubungan suami isteri dengannya. Awalnya, R enggan. Tapi akhirnya bersedia, dengan sukarela melepas celananya sendiri dan peristiwa itu terjadi.

Pada kesempatan berikutnya, V kembali merayu R. R tampaknya juga malu-malu mau. Sampai akhirnya R mengundang V untuk datang ke rumahnya. V datang dini hari, dan masuk kamar R dengan cara mengendap-ngendap lewat pintu belakang. Mereka melakukannya lagi di kamar R di saat semua penghuni rumah R terlelap. Setelah melakukan hubungan haram itu, mereka tidur sampai pagi. R bangun lebih dahulu dan meninggalkan V di kamarnya, dalam keadaan tidur dan kamar terkunci. Mendapati R tidak ada di sampingnya, V kemudian tidur lagi karena takut untuk keluar.

Tidak sengaja, V batuk-batuk di dalam kamar itu. Waktu itu Pukul 07.00, Kakek R sedang santai di teras mendengar suara batuk-batuk laki-laki dari kamar R. Curiga, Kakek itu berusaha mendobrak pintu kamar R sampai mencokelnya dengan menggunakan linggis. Ketika pintu terbuka,  Kakek R melihat V sedang tidur di atas ranjang R. Mengetahui itu, Kakek R marah besar. Saat diintrogasi, V tidak mengaku telah melakukan hubungan suami isteri dengan R. Tanpa berpikir panjang, Kakek R segera melaporkan V ke Polsek setempat.

 

Putusan Hakim

Atas perbuatan V Jaksa penuntut umum memberikan ancaman hukuman 7 tahun penjara dan pelatihan kerja selama satu tahun. Namun hakim berkata lain. Putusan Hakim menjatuhkan hukuman pada V penjara 1 tahun dan pelatihan kerja 2 bulan.  Meskipun lebih singkat dari tuntutan jaksa, V pada akhirnya tetap dipenjara di penjara anak.

Bunyi Pasal 81 ayat (2) jo Pasal 76 E UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak begini :

Pasal 76 E UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 bunyinya, setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Pasal 81 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 menjelaskan tentang ketentuan pidananya yakni penjara paling sedikit 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak lima miliar rupiah.

Nah, karena V merupakan anak, berlaku juga pada V UU No 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Diamana, anak berumur minimal 12 tahun dan maksimal 18 tahun, dapat dihukum pidana dengan ketentuan pidana maksimumnya satu per dua (1/2) dari pidana umum atau pidana dewasa sedangkan pidana minimumnya tidak berlaku.

Suka sama Suka Kenapa Dipenjara?

Nah, kalau ada yang protes demikian, pertanyaannya indikasi suka sama suka apa dulu? Dua-duanya anak-anak loh. R selaku korban, merupakan anak-anak yang berlaku padanya UU Perlindungan Anak. Dalam UU perlindungan anak, menyebutkan anak harus dilindungi dan setiap orang dilarang melakukan tipu muslihat atau membujuk untuk melakukan perbuatan cabul. Maka disini tidak belaku pasal tentang perzinaan.

Tapi kan, V juga anak yang belum tentu mendapatkan pendidikan seks yang tepat? Iya, karena V terbukti merayu dengan meminta R melepas celannya, maka itu disebut membujuk. Terlepas V juga anak-anak, toh berlaku UU Sistem Peradilan Anak terhadapnya. Begitulah sistem hukum negara kita.

 

Ini salah Siapa?

Apakah kejadian ini bisa disebut kelalaian? Orang tua mereka, baik V maupun R menyesali perbuatan yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Bagaimanapun juga, anak-anak tersebut masih SMP. Masih menjadi tanggung jawab orang tua masing-masing. Tentu sebagai orang tua, mereka tidak percaya jika anak-anak mereka sampai seberani itu melakukan hubungan yang tidak semestinya.

 

Pelajaran Berharga Untuk Orang Tua

Banyak orang tua beraganggapan bahwa memberikan kebebasan pada anak itu perlu agar anak tidak penasaran dan melakukan tindakan di luar batas ketentuan. Tapi, menurut saya memberikan pemahaman tentang dunia pergaulan mereka juga perlu. Pendidikan seks seharusnya tidak dianggap tabu. Anak zaman sekarang sumber informasinya banyak sekali. Kalau kita tidak membantu mereka mencerna informasi yang mereka terima, salah siapa jika mereka tidak memahami? Maka memberikan pemahaman pada anak penting. Termasuk pemahaman ttg seks dan agama. Anak remaja, yang mulai tertarik dengan lawan jenis memang tidak bisa dihindarkan. Tapi bagaimana pihak sekolah dan orang tua memberikan penjelasan tentang perubahan fisik, psikis, dan emosi mereka sehingga bisa bergaul dengan baik di berbagai lingkungan.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

13 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *