Jurnal Ibu,  Pasutri

Peran Ayah Adna yang Bikin Aku Terkesima

Tahun 2020, tanggal 1 Juni yang mungkin jadi kepublis tanggal 2 Juni. Mulai hari ini aku berkomitmen untuk menulis setiap pelajaran yang aku dapat dalam seharian penuh ini. Kusus untuk ini aku kumpulakan dalam tag Catatan Untuk Hari Ini. Semoga konsisten.

Jadi, hari ini pertama kalinya aku kencan lagi berdua sama Ayahnya Adna setelah lama nggak kencan karena adanya pandemi Covid-19. Sejujurnya aku udah bosan sekali di rumah. Bayangin aku yang ekstrovert dan sanguinis ini jadi jarang ketemu orang dan haha hihi sana-sini. Alhamdulillah bagaimanapun keadaan emosiku Pak Suami tetap menerima dengan lapang dada.

Dua hari sebelumnya, sebenarnya emosiku sudah tidak stabil. Ketidakstabilan ini, tentu berimbas pada pengasuhanku terhadap Adna dan komunikasiku sama Pak Suami. Aku bisa aja marah kalau Ayahnya Adna main game mulu karena emosiku yang nggak stabil. Tapi kadang juga bisa legowo sama suami yang main game kalau udah dapet transferan. #Eh.

Pemicu ketidak stabilan emosi ini sebenarnya sangat absurd. Tiba-tiba aja merasa jenuh, tidak enak, dan apa-apa jadi terlihat salah. Mungkin ini yang disebut penyakit ketidak warasan yang bisa menyerang seorang Ibu kapan saja. Untung aja jadwal sidang dan ketemu klien masih lama. Kalau perkara emosi ini belum tuntas ketemu klien malah bahaya.

Menyadari penyakit emosi yang muncul, akhirnya hari ini aku putuskan untuk keluar berdua aja sama Pak Suami dalam rangka dolan alias kencan alias main. Kalau biasanya kami itu refresing dengan nonton, ya kan karena corona bioskop tutup. Akhirnya jalan-jalan radom ke hypermart. Disana kami cuma beli detergen dan box makanan sambil lihat-lihat perabot rumah tangga disana.

Aku paham banget sebenarnya Ayahnya Adna itu anti banget sama jalan-jalan random. Badi dia, lebih baik tidur rebahan di rumah, dari pada keluar rumah cuma beli detergen. Dan sebelum akhirnya beli detergen, jujur aku cari-cari alasan mau belanja apa. Mulai dari dompetku yang rusak, butuh sepatu baru, sampai beli celana panjang Ayahnya Adna. Beliau tahu aku lagi absurd. Tapi masih mau gitu nemenin dan nuruti mauku.

Terkadang hubungan suami isteri itu perlu menemukan bahasa cintanya masing-masing. Ayahnya Adna itu bukan tipe suami yang selalu bilang I love you atau apalah kata-kata yang romantis. Tapi, dia melakukan banyak hal kecil yang justru bikin aku melting. Kaya misal, tadinya aku minta Ayahnya untuk pilih celana karena emang butuh. Tapi dia bilang beli dompet sama sepatuku aja dan celannya ditunda bulan depan. Ya, Allah segitu aja bikin melting.

Ditambah malemnya. Aku ketiduran sambil nidurin Adna. Posisi aku dan suami belum makan malam. Sejujurnya menyiapkan makan malam itu suatu hal yang sulit bagi aku karena Adna udah nggak bisa lepas. Biasanya, Ayahnya yang terjun masak nggak cuma untuk dia sendiri. Buat aku juga. Nah, kusus malam ini kita punya rencana makan malam buah aja. Tapi karena buahnya habis, jadi beli dulu, Karena baru terbangun, pikiran masih belum pulih, dan ternyata Ayahnya udah lapar. Mau masak, jelas nggak mungkin. Mau beli sebenarnya niat ngirit.

Tahu aku ngantuk banget, Ayahnya Adna cuma bilang, “Udah, kalau ngantuk tiduro aja. Aku tak bikin mie sendiri.” Subhanallah……

Kenapa aku perlu catat ini di blog? Biar suatu hari nanti, kalau aku lagi dongkol sama Ayahnya Adna bisa baca tulisan ini dan mengenang kebaikan kecil yang sudah dia lakukan untuk menjaga kewarasanku agar bisa mengasuh Adna dengan baik.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *