Isu,  Jurnal Perempuan

Menengok Kabar Perempuan Pasca Pandemi

Apa kabar perempuan? Bagaimana keadaan kalian selama pandemi berlangsung? Yaps, sejak Maret 2020 kemarin, Covid -19 mulai menyebar di Indonesia. Semuanya panik karena virus ini, belum ada vaksinnya. Sekolah mulai diliburkan. Pekerja, mengerjakan tugasnya dari rumah. Transportasi tidak beroprasi. Pusat perbelanjaan sepi. Saat itu, masyarakat diminta untuk di rumah saja? Bagaimana kondisi kalian wahai perempuan? Semoga tetap bisa bahagia.

Sekiranya, peristiwa ini bisa kita jadikan pelajaran ke depannya. Mungkin sebelum ini kita punya banyak rencana. Punya banyak target yang harus dicapai. Tapi harus tertunda lantaran Covid-19 menghantui. Raisa  saja sampai gagal konser di Gelora Bung Karno. Aduh, sedih pasti.

Aku juga banyak dengar kegelisahan Ibu-ibu yang ternyata tugasnya lebih banyak selama pandemi ini berlangsung. Anak belajar di rumah sehingga butuh pendampingan ekstra, sedangkan Ibunya ada kerjaan lain misalnya. Dan Ayahnya juga di rumah, butuh dilayani ekstra. #Eh, emang jadi Ibu itu sama dengan jadi pembantu ya? Ya harusnya enggak lah. Perempuan itu…. bisa nih dibaca di artikel ini tentang apa saja sih, sebenarnya peran perempuan itu.

Beberapa isu yang beredar di pemberitaan online, seolah menggambarkan bahwa perempuan itu sebagai obyek sangatlah nyata. Kabarnya sih, kehamilan tidak direncanakan dan KDRT meningkat selama pandemi? Ok lah, aku tetap berpikir positif pada kehamilan yang tidak direncanakan lantaran suami isteri melakukan hubungan sex dengan sama-sama iklas dan saling sayang tapi lupa pasang alat kontrasepsi atau nggak bisa ke klinik untuk memperbarui alat kontrasepsi. Hehehe jadi deh manusia baru bersemi. Ya, setiap bayi ada rezekinya masing-masing ya sudah. Yang penting, memang pihak lelaki tidak memaksakan kehendak seksnya selama di rumah saja tanpa memahami bagaimana keadaan isteri.

KDRT pun meningkat, kabarnya dikarenakan tekanan hidup yang sulit selama pandemi ini. Suami yang dirumahkan, beras tidak bisa ditunda, dan cicilan tidak bisa dihentikan. Emosi rentan diserang. Isteri rawan jadi obyek kemarahan. Seharusnya, masa pendemi menjadi waktu untuk intropeksi dan menguatkan komunikasi. Tapi memang tidak semua orang teredukasi dalam menyikapi peliknya pandemi.

 

Angka Kehamilan Meningkat

Mengutip dari lama kompas.com menyebutkan bahwa kemungkinan pada awal tahun depan lebih dari 420.000 bayi baru akan lahir. Pemicunya karena banyaknya pasangan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan. Hal itu terjadi, lantaran selama pandemi sejumlah klinik kesehatan dan kehamilan di tutup. BKKBN memperkirakan ada lebih dari 400.000 kehamilan tidak direncanakan. Terlebih, kondisi panemi yang harus bekerja di rumah, menyebabkan intensitas suami isteri lebih sering bertemu. Sehingga besar kesempatan untuk melakukan hubungan sex.

Dari beberapa artikel yang aku baca, sebenarnya tidak disarankan hamil pada saat pandemi ini. Ya resikonya karena penurunan daya tahan tubuh ketika hamil terjadi, ditakutkan virus justru cepat menular. Apalagi di masa pandemi ini segalanya serba nggak pasti. Kehamilan yang tidak direncanakan pun terkadang mempengaruhi kondisi mental sang Ibu yang mungkin juga akan menurun ke bayi. Selain itu, kelangsungan hidup bayi juga harus dipikirkan. Mengingat, di masa pandemi seperti sekarang ini perekonomian juga goyah.

 

Angka KDRT Meningkat

Entah bagaimana rata-rata setiap pasangan berumah tangga mengatur emosinya dalam menghadapi pandemi ini. Nytanya KDRT pun juga meningkat menurut beberapa sumber berita di portal online. Berdasarkan catatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), per 2 Maret-25 April 2020, terdapat 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dewasa dengan total korban 277 orang.

Psikolog HPSI yang juga dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Semarang mengatakan, “Suami istri yang selama WFH sering bertemu, ditambah rasa bosan lama di rumah, kemudian jengkel yang terpendam akan memicu KDRT.” Rasa jengkel tidak hanya bisa muncul dari suami tapi juga isteri. Laporan UN Women yang dirilis April 2020, 243 juta perempuan berusia 15-49 tahun menjadi objek kekerasan seksual dan fisik selama 12 bulan terakhir. Jumlah kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat selama pandemi karena kekhawatiran akan keamanan, kesehatan, dan uang meningkatkan tensi dan ketegangan akibat kondisi kehidupan yang sempit dan terbatas.

 

Mengevaluasi Cinta Selama di Rumah Saja

Setiap rumah tangga pasti akan diuju. Entah diuji dalam sempitnya ekonomi atau yang lainnya. Bertahan di rumah setiap hari dengan pasangan memang memicu kebosanan. Kalau menurutku, bisa jadi kebosanan itu disalurkan dengan sex. Ya nggak salah juga karena suami isteri sudah menjalin ikatan yang sah. Tapi apakah hubungan sex itu dilakukan dengan cinta dan kesadaran? Itulah yang perlu dievaluasi. Karena kehamilan tanpa perencanaan biasanya membuat pasangan jadi lebih tegang. Jangan sampai perempuan mengalami gejelok emosi akibat belum bisa menerima kehamilan. Hal tersebut bisa berdampak buruk bagi mental sang jabang bayi juga.

Soal kehamilan tidak direncanakan, okelah sex bisa jadi cara menumbuhkan cinta dalam rumah tangga. Konsekuensi kehamilan harus diterima dengan penuh tanggung jawab sebagai manusia dewasa. Bagaimana dengan KDRT? Jujur, saya tuh kadang bingung sama kasus KDRT. Nggak sedikit laki-laki yang melakukan KDRT sebenarnya masih sayang dengan isterinya tapi tidak tahu bagaimana cara mengkomuniksikannya. Masalah psikologis yang komplek memang mendominasi seseorang melakukan KDRT. Tapi bukan ranah saya untuk bicara hal tersebut. Yang jelas, komnas perlindungan peprempuan harusnya bekerja ekstra untuk lebih melindungi perempuan Indonesia.

 

Perempuan Sebagai Garda Depan

Terlepas dari berita yang beredar, kabar baiknya adalah perempuan merupakan pemegang peran penting dalam memutus rantai pesebaran covid 19 ini. Jumlah tenaga medis, dikabarkan lebih banyak perempuan dari pada laki-laki. Siapa lagi, yang mengingatkan untuk rajin cuci tangan dan memakai masker saat berpergian kepada anak kalau bukan Ibu.

Bahkan di awal Juni kemarin, Ibu-ibu berbondong-bondong memberikan petisi agar sekolah tidak dibuka terlebih dahulu. Akhirnya, anak-anak tetap diminta untuk libur di rumah. Ibu-ibu pun mulai berpikir tentang homeschooling. Salah satu akun Ibu-ibu mengumpulkan ibu-ibu lainnya dalam satu WA group untuk bersama belajar tentang homeschooling. Tidak hanya soal pendidikan. Soal perekonomian perempuan juga bisa ambil peran. Tidak sedikit Ibu-ibu yang mulai membuka usaha untuk menutup gaji suaminya yang tertunda.

Bagaimanapun juga, sesama perempuan kita perlu untuk saling mengapresiasi dan mendukung satu sama lain. Selain itu juga perempuan harus bisa saling  melindungi satu sama lain. Kekalutan, kekhawatiran, memang tidak hanya menyerang perempuan saja. Laki-laki juga. Perempuan yang bisa mengtasi problematika pandemi ini, tentu tidak lepas dari sosok laki-laki yang mendukung, tidak memaksakan, dan memahami betapa pentingnya peran isteri.

 

New Normal adalah Kesiapan Adaptasi

Aku termasuk yang tidak sepakat dengan bahwa New Normal ini artinya kondisi sudah baik-baik saja. Virus sudah tidak ada. New Normal disini, menurutku lebih bisa diartikan dengan kesiapan untuk adaptasi. Sekolah yang ditutup, adaptasinya dengan menerapkan homeshooling. Saat berpergian, mulai biasa pakai masker da cuci tangan. Pusat perbelanjaan sudah mulai buka. Tentu dikhawal dengan protokol kesehatan yang mumpuni. Perempuan? Saya yakin sudah siap sejak awal. Karena seperti yang sudah saya bahas di atas, mereka selalu cari cara bagaimana anaknya bisa tetap belajar maksimal meski di rumah saja. Mereka cari cara, bagaimana agar suami betah di rumah saja. Kini, saatnya kita mengevaluasi semua dan menentukan langkah apa yang bisa kita lakukan dengan tetap memperhatikan hidup sehat.

 

Mengukir Cinta Kembali Pasca Pandemi

Pelajaran apa yang bisa kita dapat pasca pandemi ini? Sebagai perempuan, aku belajar bahwa manejemen emosi itu penting untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang memang kita perlu jeda diantara banyak kesibukan yang melanda. Satu sisi covid memang membuat beberapa pekerjaan tertunda.  Tapi hikmahnya, dengan di rumah saja bisa kembali memaknai cinta. Ya, cinta kita kepada pasangan begitu juga pasangan kepada kita rentan dengan ujian di masa ini. Dengan hadirnya ujian ini, kita pun bisa mengoreksi apakah cinta ini perlu ditata kembali atau ditambah pupuknya dan disirami hingga lebih bersemi? Semoga, berita tentang kehamilan yang tertunda merupakan pertanda banjirnya cinta dalam keluarga. Sedangkan berita KDRT, semoga menjadi pemantik kesadaran bahwa rumah tangga ini memang perlu dievaluasi. Tentu semuanya ada jalannya sendiri-sendiri.

 

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

2 Comments

  • Linda Puspita

    Masalah ketika pandemi barangkali tidak muncul kalau financial tercukupi ya kak. Memang perempuan harus membuka pikiran supaya melihat peluang yang bisa diambil di pandemi ini. Misalnya bisa menjahit, bisa buat masker, apalagi new normal ini. Masker semakin banyak diperlukan. bisa jualan masker. Bisa menulis artikel. Bisa menjual foto-foto, bagi yang hobi memfoto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *