Inspiratif,  Jurnal Perempuan

#AwaliDenganKebaikan : Menyayangi Seperti Anak Sendiri

Rumahnya bukan rumah mewah. Tapi nyaman untuk ditinggali karena banyak doa yang mengalir dari rumah itu. Pemilik rumah itu, dulunya seorang Brigadir. Dianggat derajatnya oleh Tuhan karena dia mengangkat derajat orang lain.

Jumat, 12 Juni 2020 lalu aku menyempatkan diri untuk silahturahmi di kediaman IPDA Rochmat dan Ibu Helmiyah yang terletak di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Aku sengaja lebih banyak ngobrol dengan Ibu Helmiyah darpi pada IPDA Rochmat. Sebagai seorang perempuan yang juga jadi Ibu dan Isteri, jujur aku ingin tahu bagaimana Ibu Helmiyah bisa mendukung kebaikan suaminya dengan tulus. Jelas, tidak mudah. Apalagi, yang dirawat tidak hanya anak sendiri. Tapi anak orang lain juga.

“Sebenarnya yang lebih tahu susahnya merawat anak-anak ini ya isteri saya, sih. Karena isteri saya yang setiap hari di rumah. Sedangkan saya lebih banyak tugas di luar,” tutur IPDA Rochmat kepada Deddy Cobuzer di acara Hitam Putih Trans 7.

 

Dimulai dari Gaji Suami Rp 600.000

Foto Keluarga IPDA Rochmat dan Ibu Helmiyah dan anak-anaknya.

Pelajaran pertama yang aku dapatkan dari keluarga IPDA Rochmat dan Ibu Helmiyah ini adalah, jangan menunggu kaya untuk menolong orang lain. Bisa menyekolahkan puluhan anak, niatnya dimulai ketika Gaji IPDA Rochmat masih Rp 600.000. Waktu itu belum menjadi IPDA dan masih ditugaskan di Jakarta. Tahun 2007, IPDA Rochmat menyampaikan niatnya jikalau kemarin satu piring untuk berdua, dan sekarang dua piring untuk berdua, ingin selanjutnya bisa makan tiga atau lebih piring untuk orang lain bersama.

Niat itu terlaksana setelah pasangan ini pindah di Madiun. Awalnya, ketika IPDA Rochmat bertemu dengan temannya seorang guru yang mengantarkannya menjadi pembina Pramuka di Pacitan. Beliau begitu terenyuh mendengar kisah anak-anak disana yang putus sekolah lantaran biaya. Rumah mereka, di daerah terpencil, jauh dari kota. Sedangkan untuk melanjutkan SMA, mereka harus menumpuh jarak yang sangat jauh. Kesulitan akan transportasi jelas. Kalaupun harus kos, tidak biaya. IPDA Rochmat terenyuh. Akhirnya beliau mengajak anak itu untuk tinggal bersamanya di Madiun. Ni Ketut namanya.

Dari Ni Ketut inilah, akhirnya satu per satu anak datang. Ada yaang latar belakang keluarga broken home, ada yang yatim piatu, ada yang memang kedua orang tuanya tidak mampu. Usinya pun beragam. Ada yang balita, anak-anak dan juga remaja. Intinya, masih butuh pembingan danpendidikan. Mereka datang dari berbagai daerah, yang jelas tidak hanya dari seputaran Madiun saja. “Yang penting, mereka mau dan ingin kehidupannya berubah jadi lebih baik ya dengan cara sekolah. Kita sekolahkan mereka sampai tuntas bagi yang punya tekat,” jelas Bu Helmiyah.

 

Dari Manapun yang Penting Halal

Ibu Helmiyah turut berkebun

Segala cara dilakukan untuk menghidupi anak-anaknya. Mulai dari berkebun, jadi pembina pramuka, jualan buah, punya toko pulsa dan toko kelontong, sampai jadi tukang ojek dilakoni. “Pokoknya apapun yang bisa dilakukan untuk menghasilkan ya dilakukan, yang penting halal,” sahut Bu Helmiyah.

Ibu Helmiyah pun enggan untuk hidup mewah. Kalaupun ada uang, pasti beliau dahulukan untuk anak-anak sekolah. Ini baru namanya orang kaya. Luas hatinya.

Ada cerita menarik dari Bu Helmiyah saat ditinggal suaminya karantina selama tujuh bulan untuk pengangkatan dari Brigadir menjadi IPDA. Saat itu, Bu Helmiyah harus jauh dari suami dan tidak bisa komunikasi. Tentu saja pemasukan jadi sedikit berkurang. Padahal, waktu itu ada lebih dari 10 anak yang harus diberi makan dan SPP-nya juga perlu dibayar. Tidak ada pendamping sebagai tempat berkeluh kesah, beliau hanya bisa pasrah dan berdoa minta pertolongan Sang Kuasa. “Saya tuh banyak merasakan kejaiban Allah, hidup sama mereka (anak asuhnya). Ya seperti Bapaknya pas pelatihan itu pemasukan berkurang. Tapi ada saja, rezeki Allah yang dilewatkan orang lain,” jelas Bu Helmiyah.

Baik IPDA Rochmat maupun Ibu Helmiyah, keduanya sama-sama tidak ingin meminta belas kasihan pada orang lain. Bagi mereka, ketika ini keputusan mereka untuk merawat anak-anak pilihan ini, maka ya ini tanggung jawab mereka. Bahkan ketika seseorang memberikan amanah kepada IPDA Rochmat untuk mengelola toko buah, tidak secuil pun buah yang mereka makan untuk konsumsi sendiri. Kecuali, jika memang buah itu tidak layak jual. Begitu pula dengan uang seumbangan yang beliau dapat juga alokasinya untuk kebutuhan anak-anaknya.

 

Bergerak Dalam Diam

Sarapan bersama sebelum berangkat sekolah

Pada tahun 2017, media mulai riuh membicarakan keluarga ini. Artinya kurang lebih 10 tahun mereka bergerak dalam diam. Bahkan di media sosialnya sendiri, Bu helmiyah tidak menceritakan tentang anak-anaknya. Beliau lebih suka mengunggah foto hasil panenya berupa buah-buahan dan sayur mayur agar dibeli orang. Tetangga tahu sebagian tapi tidak banyak yang peduli. Anak-anak yang diasuh pasangan ini pun kebanyakan bukan dari sekitar rumahnya. Ada yang dari Pacitan, Jawa Barat, dan lain sebagainya.

“Motivasi saya tuh ya kepingin anak-anak Indonesia menjadi anak yang lebih baik. Kalau bukan kita yang turut andil, mau siapa lagi?” tutur IPDA Rochmat. Ibu Helmiyah tentu sangat mendukung peran suami dalam mendidik anak-anak asuh ini yang sudah seperti anak kandung sendiri. Bahkan mereka tidak mau ada yayasan atau apalah yang menjadi nama lembaga untuk anak-anak yang ada di rumahnya. Menurut Bu Helmiyah tidak perlu membuat semacam yayasan. “Kasihan nanti, bisa berjarak sama saya. Kalau disini kan ya udah jadi saudara,” jelas Ibu Helmiyah. Ya, bagi Bu Helmiyah, mereka anak-anak asuhnya cukup disebut keluargaa atau anak. Namanya sama anak ya nggak perlu ada lembaga-lembaga.

 

Nilai Baik yang Diajarkan

Shalat berjamaah di Mushola Arrozi

Di rumah IPDA Rochmat dan Ibu Helmiyah, anak-anak ini tidak hanya numpang makan dan mandi saja. Ibu Helmiyah menjelaskan dari awal anak asuhnya datang tuh pelajaran pertama yang diberikan adalah tentang kesabaran dan hikmah akan peristiwa yang mereka alami. Karena sebelum datang ke rumah beliau, anak-anak itu tuh, masalahnya sudah banyak sekali. “Kadang justru saya yang belajar dari mereka,” kata Ibu Helmiyah.

Aku mewek banget pas Ibu Helmiyah cerita tentang ini. Jadi memang anak asuhnya itu bisa dikatkan masa depannya nggak tentu sebelum sampai rumah ini. Ada yang diajak saudaranya tinggal di perantauan kaerana dia piatu. Janjinya disekolahkan ternyata enggak. Malah disuruh kerja. Ada pula yang dulunya sempat jadi Pembantu Rumah Tangga lulus SMA. Tapi ijasahnya di tahan dan diminta mengembalikan tidak ada tanggapan. Ya Allah, tega banget dah orang kaya gitu.

Selain disekolahkan, di rumahnya juga belajar soft skill seperti berdagang, bercocok tanam, tujuannya ya agar mereka punya bekal setelah keluar dari rumah Bu Helmiyah.

 

 

Bukan Berarti Tanpa Halangan

Mengajak anak-anaknya berkebun, jualan buah, dan bersih-bersih rumah, sempat mendapat cibiran tetangga. isu yang beredar, anak-anak itu dipekerjakan. Orang-orang sekitar rumahnya, tidak ada yang paham bagaimana bisa ada anak disekolahkan bahkan sampai kuliah dan dibelikan montor sendiri, kalau enggak disuruh kerja. Suara sumbang itu semakin terdengar, kala salah satu anak yang tidak nyaman dengan value beliau keluar dari rumahnya dan bercerita negatif kepada lingkungan sekitar.

Ibu Helmiyah pun menanggapinya dengan santai. Kala ada orang yang mengonfirmasi, apa iya anak-anak yang tinggal di rumahnya diminta untuk bersih-bersih. Dengan santainya Ibu Helmiyah mengiyakan, “Ya, kan namanya di rumah orang tua masak iya nggak bantu bersih-bersih.” Diminta dagang buah? Ya iya, lah mereka kan juga diajarkan bagaimana survive disini dan saling membantu dalam anggota keluarga. Bu Helmiyah sendiri paling tersinggung kalau anak-anaknya dibilang anak buah. “Anak saja cukup,” tuturnya.

 

Tuhan Akan Membantu Niat Baik Kita

Foto Keluarga anak-anak akan berangkat sekolah

Aku belajar dari Bu Helmiyah dan IPDA Rochmat kalau ternyata kebaikan itu sebnarnya anugrah. Rezeki, selalu datang tak terduga. Tiba-tiba ada aja uang untuk beli kebun dan pipit agar bisa bercocok tanam bersama. Nggak disangka, ada juga orang baik datang memberi amanah untuk mengelola toko buah. Bahkan orang tersebut nggak melihat keuntungannya berapa, kata Bu Helmiyah pokoknya keuntungannya diperuntukkan anak-anak. Awalnya anak-anaknya yang laki-laki tidur di depan TV dan yang perempuan di kamar berjejer tanpa kasur. Sekarang Alhamdulillah sudah ada asrama untuk mereka tidur lebih nyenyak. Pejabat kepolisian, Bupati Kabupaten Madiun akhirnya mendengar juga niat baik pasangan ini dan ikut memberikan bantuan. Membangunkan mushola sampai rumah baca lengkap dengan buku-bukunya. Tentu, ini membuat anak-anak semakin betah.

 

Ketika Mendapat Penghargaan

Kini, salah satu anak Bu Helmiyah juga sudah ada yang jadi polisi. Ada juga yang sudah jadi banker dan guru. Meskipun begitu, terkadang ada anak-anak yang setelah lulus tidak menghubungi beliau lagi. Baik Bu Helmiyah dan IPDA Rochmat pun nggak marah. Keduanya memahami, bahwa tugasnya hanya memberi sedangkan anak-anaknya berhak hidup bahagia dan mandiri. Melihat mereka sukses merupakan suatu kebanggan yang berarti.

Mendapat KIck Heros 2017, suaminya diangkat dari Brigadir menjadi IPDA membuatnya bersyukur. “Saya jadi tidak usah repot menjelaskan ke orang-orang yang mencibir saya.” terang Bu Helmiyah. Dengan penghargaan ini, beliau ingin berbuat lebih banyak lagi. Dan berharap bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan dengan kebaikan.

Waktu aku tanya cita-cita Ibu Helmiyah yang belum terwujud, aku cukup tercengang mendengarnya. Punya rumah di pegunungan, menghabiskan waktu dengan bercocok tanam dan berbagi. Nggak hanya berbagi kepada anak-anak tapi juga orang-orang tua yang ingin belajar seperti mengaji dan membaca.

 

Kita Juga Bisa #AwaliDenganKebaikan

Setidaknya, Ibu Helmiyah bisa menjadi cermin bagi kita untuk berbuat lebih dalam kebaikan. Minimal untuk keluarga dan lingkungan terdekat kita. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Sebagai wujud cinta kasih kita kepada keluarga, alangkah baiknya untuk memproteksi diri dengan asuransi.

Saat ini, Alianz sudah punya program Asuransi Syariah. Dimana, saat kita membeli produk Asuransi Syariah Indonesia dari Alianz maka kita tidak hanya mendapat keuntungan pribadi tapi juga bisa menolong orang lain yang membutuhkan seperti orang yang sakit kritis dan anak-anak yang ditinggal orang tuanya. Tujuannya agar tetap bisa melanjutkan kehidupan. Kita bisa memilih salah satu Produk Asuransi Syariah dengan mempertimbangkan keunggulannya sebegai berikut :

Teman-teman Blogger sekalian juga bisa mengikuti campaign #AwaliDenganKebaikan ini dengan menuliskan sosok isnpiratif yang telah berbagi kebaikan di lingkungan teman-teman. Program #AwaliDenganKebaikan dari Allianz Indonesia ini merupakan ajang kompetisi untuk berbagi cerita mengenai sosok inspiratif yang layak mendapatkan kesempatan diberangkatkan umroh ke tanah suci melalui platfotm blog. Yuk, tulisakan cerita mereka!

 

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

23 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *