Hobi,  Waktu Jeda

Menemukan Ide Menulis Novel Sampai ke Imajinasi

Aku tuh sekarang sedang ikut kelas noverlnya Asma Nadia. Kelasnya sudah berlangsung sejak 22 Juni 2020 lalu. Rencananya, akan berakhir tanggal 28 Juli 2020. Nah, biar materinya nggak lupa aku coba rangkum di blog ini. Jadi hari pertama kemarin itu, materinya tentang ide. Asma Nadia membahas mulai dari bagaimana menemukan ide sampai membawanya ke dalam imajinasi.

Sumber Ide

Sumber ide itu sebenarnya banyak banget. Kalau kita mau menghidupkan indra, rasa dan sensitifitas kita ide itu akan berseliweran bak air yang terus mengalir. Tapi kalau massih kesulitan, uraian Asma Nadia dalam menggali sumber ide seperti ini :

 

Pengalaman Sendiri

Kata Asma Nadia, manusia itu kaya. Banyak yang bisa digali dalam diri mansia. Termasuk diri kita sendiri. Apapun pengalaman kita, bisa jadi ide yang segar jika kita mampu mengolahnya. Pengalaman yang buruk sekalipun bisa jadi ide. Apalagi pengalaman yang baik. Beberapa novel Asma Nadia, memang ada yang idenya berasal dari pengalaman diri sendiri. Jilbab Treveler misalanya. Bedanya, Asma Nadia mengemasnya dengan mamadukan berbagai refrensi yang diperkaya dengan imajinasi.

 

Pengalaman Karakter yang Kita Temui

Penulis tidak boleh bosan mendengar cerita orang. Karena dari situ, kita bisa punya ide segar. Asma Nadia mencotohkan Bidadari untuk Dewa misalnya yang ide novelnya dia dapatkan dari sorang Dewa Eka Prayoga yang pernah bangkrut miliayan di usianya yang baru menginjak 20an. Bagi Asma itu unik. Anak 20 tahun, berani berbisnis, bangkrut pula. Kalau dikemas menjadi cerita novel, tentu menarik. Tinggal bagaimana eksekusinya.

 

Apa yang kamu rasakan dari panca indra

Panca Indra itu tidak hanya mata. Ada tilinga, perasa, peraba, dan penciuman. Kala kita aktifkan semua, kicau burung yang berterbangan pun juga bisa menjadi ide.

 

Berita surat kabar (Head Line)

Kalau sampai kepentok bingung ide, kata Asma Nadia buka surat kabar pasti banyak ide. Ya, aku sendiri mengiyakan sebagai mantan wartawan yang pernah meliput kasus-kasus kriminal. Banyak sekali yang bisa digali dari sana. Apalagi surat kabar selalu bersumber dari cerita nyata. Jadi bahan ceritanya begitu jelas, kembali tinggal bagaimana pengemasan ceritanya.

 

Hal-hal di sekeliling

Ketika pagi kita buka mata, sesungguhnya pa yang kita lihat dan rasakan bisa jadi ide kalau kita bisa menangkapnya. Obrolan singkat dengan orang tua atau suami di teras depan, juga bisa menjadi sumber ide kalau kita jeli.

 

Film

Terkadang, seorang penulis membutuhkan gambaran visual untuk dilukiskan kembali dalam kata. Film bisa mengakomodir kebutuhan itu.

 

Mimpi

Ide itu merupakan ilham dari Allah. Bisa jadi ide itu diberikan Allah dalam bentuk mimpi. Tapi kadang kita sering lupa tadi malam mimpi apa.

 

Kepedulian

Sorang penulis harus punya kepedulian untuk menyuarakan sesuatu. Dari kepedulian, muncul kegelisahan. Dari kegelisahan itulah timbul hal-hal yang harus digali dan diteliti. Seorang penulis harus mempunyai misi menggugah kepedulian terhadap orang lain sehingga suatu permasalahan mampu disuarakan dan berubah menjadi gerakan.

 

Cara Menangkap Ide

Ide banyak. Tapi kok nggak ketemu. Kaya ikan di kolam banyak. Tapi kok nggak bisa diambil. Ya pakai alat dong. Kalau di kolam namanya pancing. Nah, pancingnya ide itu ya kepekaan, sensitifitas, dan cara pandang. Maka kita harus terus mengasah ini agar lebih peka, sensitif, dan mampu melihat suatu peristiwa dengan sudut pandang yang berbeda. Bagaimana caranya?

 

Menyelami Diri Sendiri

Kita perlu mengenal diri kita sendiri. Kita perlu paham bagaimana indra dan perasaan kita bekerja dalam merespon suatu peristiwa. Kalau perlu, kita bersemedi. Menyinggir sebentar dari keriuhan orang-orang. Seperti gangguan media sosial misalnya.

 

Mengenal orang yang kita temui

Jangan pernah lewatkan orang yang kita temui. Dengar dan simak cerita mereka dengan seksama. Janganlah menggurui, menasihati, atau menghakimi jika tidak diminta. Biarkan cerita mereka mengalir dan tangkaplah ide-ide segar dari mendengar.

 

Hidupkan panca indra

Menghidupkan panca indra, sama seperti menghidupkan sensitifitas kita. Waktu mencicipi makanan misalnya, ada indra peraba yang membuat kita bisa menangkap tekstur, indra perasa yang membuat kita merasakan manisnya makanan itu, indra penciuman yang membuat kita mencium aroma makanan itu. Satu makanan membuat berbagai indra bekerja. Ide tentang cerita makanan pun bisa kita suguhkan dalam cerita. Tinggal nanti bagaimana kita mengembangkan imajinasinya.

 

Banyak Baca dengan Seksama

Membaca adalah investasi penulis. Membaca yang baik tidak hanya sekelebat saja tapi benar-benar menghayati dan mendalaminya dengan rasa. Dari membaca dengan seksama kita bisa belajar dari penulis-penulis lain tentang bagaimana proses ide itu ada. Memang tidak terungkap dalam cerita, tapi semakin kita membaca dengan seksama, semakin kita peka terhadap keberadaan ide yang nyata.

 

Empati

Seorang penulis fiksi, harus bisa menggugah rasa dan emosi. Untuk itulah diperlukan empati. Kunci dari ide dan keseluruhan proses menulis fiksi sebenarnya terletak pada hati yang lembut hingga mampu berempati.

 

Menguraikan Ide

Setelah menemukan ide, sering kali penulis bingung apa yang harus dilakukan. Secara singkat, Asma Nadia memberikan trik bagaimana mengolah ide tersebut dan membawanya dalam ruang imajinasi.

Ide sebagai persoalan

Ide itu biasanya berkutat dengan persoalan yang menjadi kegelisahan. Dari kegelisahan itulah muncul namanya kepedulian. Akhirnya, kita mmampu menggali lagi ide tersebut dalam rumusan yang spesidik karena kita peduli. Mengarahkan kepedulian pada suatu tujuan itu juga penting agar menulis tidak mandek di tengah jalan. Maka, motivasinya harus menjadikan kepedulian sebagai gelombang. Dimana, gelombang itu akan menggugah kepedulian-kepedulian lain hingga membentuk suatu perubahan.

 

Ide dituangkan dalam premis

Teknisnya, ide memang harus dituangkan dalam premis. Premis itu satu kalimat yang menjadi topik utama sebuah novel. Contih permis yaitu “Seorang perempuan yang dipaksa suaminya untuk menggugurkan kandungannya.” Satu kalimat yang jelas menggambarkan isi novel secara keseluruhan. Dari premis itu dibuat inti cerita, dijabarkan siapa perempuan itu, siapa suaminya, bagaimana karakternya, mengapa sampai suaminya meminta isterinya menggugurkan kandungannya, dan seterusnya. Agar lebih mudah kita tuangkan inti cerita dalam sebuah kerangka karangan atau outlineΒ yang sudah ada gambaran setiap babnya. Setelah outline jadi, eksekusinya dengan menambahkan imajinasi.

 

Ide diolah menjadi imajinasi

Untuk membuat ide menjadi satu cerita, kita perlu ide-ide lain yang mendukung. Bagaimana cara mendapatkannya? Tentu dengan cara riset dan membaca refrensi sehingga kita bisa menemukan pengembangan imajinasi yang memperkuat ide tersebut.

Tentang Imajinasi

Ide merupakan ruh suatu cerita. Sedangkan bahan-bahan yang kita dapatkan melalui riset dan refrensi itu seperti otaknya. Bagaimana agar otak itu bergerak tanpa meninggalkan ruh? Kita perlu imajinasi. Jadi apa itu Imajinasi?

Gambaran yang Memperkuat Cerita

Asma Nadia mencontohkan dalam jilbab traveler, dia mengimajinasikan sosok Ibnu Batutah yang kemudian dikembangkan dalam tokoh yang dia tulis dalam cerita tersebut. Sehingga, pesan tentang sosok traveler muslim bisa tersampaikan.Harry Potter ceritanya begitu kuat karena imajinasi JK Rowling. Bagaimana JK Rowling mengimanjinasi sekolah sihir dan segala isinya, tentu membuat orang kagum. Aku sendiri sampai hari ini masih bertanya-tanya dari mana idenya muncul.

 

Gambaran yang Memperkaya Cerita

Dengan imajinasi, cerita akan menjadi kaya. Tidak membosankan. Kalau aku cerita, tadi aku beli tomat di pasar mungkin kedengarannya biasa saja. Tapi kalau aku cerita tadi aku ke pasar, beli tomat, Subhanallah penjualnya begitu ramah dan murah senyum (padahal mungkin cuma disenyumin dikit. Tapi indra penglihat begitu senang menyaksikan penjual tomat tersenyum).

 

Terobosan Bukan Sekedar Bumbu

Apakah imajinasi itu bumbu. Bukan. Misalnya nih, kita punya ide tentang kasus kriminal yang akan diangkat dalam novel. Tapi korban enggan disebutkan namanya. Korban enggan diidentifikasi misalnya, maka kita gunakan imajinasi untuk menghidupkan korban menjadi tokoh fiksi meskipun sebenarnya idenya nyata.

 

Memberikan Rasa yang Beda

Sudah jelas imajinasi akan memberikan rasa pada suatu cerita menjadi beda. Misalnya dalam cerita Asimah di Novel Asma Nadia, laki-lakinya merupakan seorang fotografer yang suka memotret hitam putih. Tapi dengan memotret Asima, hasil fotonya menjadi lebih berwana yang menggambarkan warna hatinya yang juga berbeda.

 

Memberikan Pendekatan Beda

Pendekatan beda itu bisa jadi kita ingin mengangkat kejadian sensitif di suatu wilayah di Indonesia misalnya. Kalau penyebutan wilayah itu menjadi begitu sensitif, ada baiknya menggunakan imajinasi tempat lain yang deskripsinya bisa jadi hampir sama dengan tempat yang nyata.

 

Kesimpulan

Ada banyak ide yang bisa kita dapat di sekitar kita. Untuk mendapatkannya, kita perlu mengasah hati kita, menguatkan empati kita, dan memunculkan kepekaan dalam diri kita. Selanjutnya, kita uraikan ide tersebut dalam sebuah kerangka cerita dan ditambahkan imajinasi agar cerita menjadi berbeda.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

17 Comments

  • Ririe

    Ide menulis, tak terkecuali ide untuk menulis novel sebenarnya memang sangat banyak dan ada di sekeliling kita. Bagaimana menangkap ide dan menuangkannya dalam bentuk cerita enak dibaca dan mengalir smooth, ini yang masih menjadi BIG PR bagi saya. Bahkan menulis cerpen saja, saya masih kerap terjebak “kehabisan” kalimat untuk membawa ke ending cerita (seringnya terkesan mendadak ke ending)

  • Hairun Nisa

    Suka banget sama sub heading kaka yang besar2 sehingga memudahkan membaca. Anyway, aku pernah ikut beberapa workshop menulis, pelatihan online dll, memang benar ini. Cuma kak Asma Nadia penulis fiksi kan ya kak, nah aku lagi rada stuck nih kak kalau fiksi. Malah larinya ke nonfiksi.

  • Annafi

    Kalau menulis artikel lebih mudah dapat idenya, beda ceritanya dengan menulis cerpen,bisa mandek saya πŸ˜… kadang bisa muncul ide dari pertanyaan sederhana juga lho mba

  • Annafi

    Kalau menulis artikel lebih mudah dapat idenya, beda ceritanya dengan menulis cerpen,bisa mandek saya πŸ˜… kadang bisa muncul ide dari pertanyaan sederhana juga lho mba~

  • Fenni Bungsu

    Asik banget bisa ikutan kelas menulis novelnya Asma Nadia. Daku pernahnya ikutan yg workshop kepemilikan fiksi. Tinggal konsisten menulisnya ya

  • Zalfaa Azalia

    Wah, ikutan kelas penulis kondang nih. Saya termasuk penikmat tulisan bunda Asma, ga nanggung-nanggung, ternyata ide bisa didapat dimana aja yaa mba tinggal kita mau menghidupkan kepekaan atau ga.

    Terimakasih sudah mau berbagai πŸ˜€ bermanfaat banget buat yang pengen nulis novel tapi kadang kehabisan ide atau lebih tepatnya malas cari ide wkwk

  • Visya Al Biruni

    Masya Allah tabarakallah terimakasih atas ilmunya Mbak. Akupun Sedang berusaha menyelesaikan draft novelku nih. Bunda Asma Nadia salahnya satu inspiratorku dalam dunia kepenulisan. Btw kelasnya masih dibuka nutk batch selanjutnya kah Mbak?

  • Suciarti Wahyuningtyas (Chichie)

    Ide menulis tuh sebenarnya banyak banget ya kak, asal emang kitanya gak mager dan mau explore juga tentang menulis. Aku tuh paling senang kalau menulis tentang perjalanan liburanku, karena menurutku setiap traveling banyak cerita apalagi kalau perginya sama keluarga atau teman-teman.

  • Meilia Wuryantati

    Ide menulis banyak banget yah kak. Aku sendiri masih terpaku mentok gak punya ide duh .. tapi baca tulisan mba ini jadinya pelan2 semoga bisa ikutin . Imajinasi ternyata bisa membuat tulisan kita berbeda yah kak.

  • Irena Faisal

    wong aku nulis blog aja butuh imajinasi mbak apalagi nulis novel ya hahaha memang sih kadang ide bisa datang dari mana aja, tapi butuh fokus yang intens kalau nulis novel menurutku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *