Hukum Keluarga,  Jurnal Pengacara

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Menikah? “Menurut Hukum”

Beberapa tahun lalu, ada oknum tertentu yang gencer banget mengkampanyekan nikah muda. Apakah nikah muda akan menjamin bahagia? Aku menikah di usia 25 tahun. Usia yang katanya ideal menurut orang Indonesia pada umumnya. Setelah menikah akupun memiliki kesimpulan kalau kebahagiaan dalam pernikahan itu harus diperjuangkan. Minimal komunikasi yang saling memahami dengan pasangan menjadi kunci untuk kehidupan berumah tangga yang bahagia.

Kedewasaan menjadi faktor utama keberhasilan dalam komunikasi itu sendiri. Tentu untuk berproses dalam perjalanan panjang ini butuh yang namanya ilmu. Masalahnya, nggak ada ilmu kusus yang dipelajari secara formal untuk mencapai kebahagian dan keharmonisan dalam rumah tangga. Akhirnya tidak sedikit pasangan yang meraba-raba untuk menemukan formulanya. Belajar dari pengalaman orang tua dulu? Bisa sih, tapi sekarang zamannya kan udah beda. Maka tolak ukur kesiapan menikah juga tidak bisa disamakan orang zaman sekarang dengan orang zaman dahulu.

Nah, jadi kapan sih, waktu yang tepat untuk menikah? Orang hukum sama psikologi pasti beda dong cara pandangnya. Nanti deh, kalau ada blogger dengan background psikologi bahas waktu ideal untuk menikah aku drop linknya disini. Oh ya, ada lagi kaca mata medis tentu punya sudut pandang sendiri juga. Kalau orang hukum bilang waktu ideal untuk menikah jelas merujuknya pada undang-undang.

 

Usia Pernikahan berdasar UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Tujuan undang-undang perkawinan dibuat untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spirituil dan materiil. Dengan begitu, aku berasumsi kalau usia pernikahan yang ditentukan UU Perkawinan ini penentuannya sudah melalui banyak pertimbangan dan kajian untuk melindungi rumah tangga yang merupakan lingkaran terkecil dari suatu negara.

Sebelum direvisi, UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan batasan usia perkawinan minimal 19 tahun untuk laki0laki dan 16 tahun untuk perempuan. Namun sejak direvisi September 2019 lalu, batas usia pernikahan minimal baik untuk laki-laki ataupun perempuan sama-sama 19 tahun.

 

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Pasal 7

  1. Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.
  2. Dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), orang tua pihak pria dan/atau orang tua pihak wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.
  3. Pemberian dispensasi oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mendengarkan pendapat kedua belah calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan.
  4. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan seorang atau kedua orang tua calon mempelai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga ketentuan mengenai permintaan dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).

 

Dispensasi Nikah

Dispensasi nikah seperti yang disebut dalam Pasal 7 angka 2 UU Perkawinan, merupakan permohonan yang bisa kita ajukan di pengadilan apabila laki-laki ataupun permpuan yang hendak menikah usianya belum genap 19 tahun. Jadi, mereka harus mendapat izin dulu dari pengadilan. Apakah selalu diizinkan? Tentu saja tergantung pada hakim. Hakim akan mempertimbangkan sebab-sebab kenapa dua sejoli tersebut memutuskan untuk menikah padahal usianya belum cukup berdasarkan undang-undang.

Apakah pernah ada yang sudah dikabulkan?

Ada. Biasanya pihak perempuan hamil di luar nikah. Maka agar status anak yang lahir jelas dari perkawinan siapa, pasangan tersebut akhirnya menikah.

Apakah prosesnya lama?

Bisa jadi dua sampai tiga bulan, sih.

Apakah bisa menggunakan jasa pengacara?

Bisa. Tentu ada syarat dan ketentuan berlaku.

Usia Nikah Menurut Aturan Agama Islam

Setelah aku jelasin batasan usia pernikahan menurut undang-undang, kira-kira bagaimana menurut agama islam? Rupanya islam tidak menentukan batasan umur secara spesifik kapan seseorang harus menikah. Hanya saja, islam menegaskan baik untuk laki-laki maupun perempuan yang sudah baliq, dianjurkan untuk segera menikah.

Apa tanda sudah baliq? Beberapa ada yang berpendapat menggunakan dasar adanya ciri-ciri perubahan fisik seperti sudah mendapat menstruasi untuk perempuan dan sudah sunat atau janggunnya udah membentuk untuk laki-laki. Tapi ada juga yang berpendapat tidak hanya kematangan secara fisik saja yang ditekankan tetapi kedewasaan secara pemikiran juga diperlukan untuk berengkat ke pelamina.

Untuk itu, aku pribadi sepakat disamping dewasa secara fisik seseorang yang memutuskan untuk menikah juga harus dewasa secara mental, psikis, dan pemikiran.

Bagaimana Ta’aruf berdasar Undang-undang?

Belakangan, ramai artis berbondong-bondong ta’aruf sebelum menikah. Ta’aruf pada dasarnya adalah proses mengenal. Ya, mengenal caranya bisa macem-macem. Tapi ta’aruf diidentikan dengan mengenal calon pasangan dengan tidak jalan berdua atau pertemua ditemani dengan perantara.Undang-undang sendiri tidak ada aturan bagaimana proses mengenal yang seharusnya. Ya, bebas dong masak mengenal pakai di atur-atur?

Zaman sekarang ada banyak sekali proses mengenal sebelum akhirnya tunangan dan di dibawa ke pelamina. Aturan hukum terkait pacaran juga nggak ada dalam undang-undang. Mau pacaran atau enggak sebelum menikah, terserah individunya masing-masing.

Kalau aku pribadi, emang sih ngagk pacaran, nggak ta’aruf juga. Tapi, kenal di kantor. Identitas segala macem, taunya juga lewat kantor. Jadi, kalau mau pro kontra tentang ta’aruf atau pacaran menurutku tidak sesempit itu juga. Ada banyak cara untuk mengenal pasangan meskipun tidak lewat ta’aruf atau pacaran.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

16 Comments

  • Maria Tanjung Sari

    Bener banget nih mba. Ada yang lewat proses pertemanan biasa lalu cocok kemudian menikah. Biasa ya masyarakay kita jika ada yang trending terjadi di kalangan artis lalu seperti dijadikan panutan. Boleh-boleh aja sih ya mba, tapi kadang diexpose berlebihan

  • elva s

    Untuk sebagian wanita,umur menjadi momok yang menakutkan.
    Terlebih lagi bisa dikatakan sudah dewasa atau berumur tetapi belum juga menikah, memang pada dasarnya baik secara hukum atau agama seseorang menikah disaat usia mereka pas dimasa produktif.
    Tapi kenyataannya masih sering ditemukan ada pasangan yang masih belia sudah menikah pun sebaliknya.

    • Sitatur Rohmah

      Aku juga nggak lewat pacaran, mbak. Tapi memang udah mengenal calon suami sebelumnya meskipun tidak dekat. Soal usia memang harus jadi pertimbangan. Nggak hanya secara fisik sudah siap (terutama perempuan) tapi juga secara mental

  • BayuFitri

    yang pasti orang mau nikah hrs ada pasangannya dulu ya mbak hehe..bener jg sih kesiapan menikah tdk tergantung umur.. mau ada undang2 nikah klo jiwa dan mentalnya blm siap ya gak kejadian deh ya..

    • Masruhin

      Waktu yg tepat menikah, idealnya sama2 sudah siap lahir Bathin, mental dan material,serta ilmunya.
      Kalo umur tidak lebih dari 30th untuk laki2. Lewat dari itu biasanya sudah enggan menikah 😁

  • Jihan

    Baca soal dispensasi nikah, jadi inget ratusan anak SMA di Jepara yang minta dispensasi nikah karena mereka hamil sebelum menikah. Ya ampun. Kayak gini gimana generasi Indonesia mau maju ya mba. Sebelumnya aku ga paham kayak gimana tuh dispensasi nikah, oh ternyata jawabannya di sini. Thanks edukasinya mba

  • Nurhilmiyah

    Urusan usia dan menikah menjadi penting karena menjadi standar kecakapan seseorang di mata hukum. Menurut kajian para pakar angka 19 itu pun masih dianggap terlalu muda Mbak, namun dg pertimbangan solusi untuk yg anak-anak muda yang pacarannya sudah terlalu lama (ada yg sejak SD sudah pacaran), akhirnya ya sudahlah dilegalkan saja lewat lembaga pernikahan. Mendinglah ketimbang UU lama yg 15 pr, 19 lk2, masih kategori anak soalnya. Nice share, Mom Lawyer… semangat!

  • Sani

    Saya kenalan emang unt cari iatri jd pas ga cocok saya mundur. Pas cocok eh dia ga coxok. Alhamdulillah ada juga saya cocok dia cocok, lalu kami menikah hehe

  • Sani

    Ortu saya merid pas sudah aqil baliq, dijodohkan. jd muda sekali. Sama kakak saya yg pertama jadi spt kakak adik. Jodoh kadang prosesnya macam macam ya

  • Damar Aisyah

    Menarik bahasannya. AKu pribadi menikah di usia yang lumayan matang untuk ukuran perempuan pada masa itu. Dan gak pacaran, gak taaruf. Kenalan biasa, trus langsung lamaran aja. Aku pribadi gak mempermasalahkan mau gimana prosesnya, yg penting niat melakukan pernikahan bukan sekedar coba-coba.

  • Ina - ceritamamah.com

    izin meluruskan ya mbak jihan, kebetulan aku menikah lewat ta’aruf. ta;aruf bukan berarti ga boleh mengenal sama sekali. justru aku merasa di proses ta’aruf (yang sesungguhnya, tidak berkhalwat, selalu ditemani mahrom. ya kalau ditanya kapan waktu yang tepat untuk menikah adalah pas jodohnya dateng eh..eheh

  • Seno Ns

    Menarik nih, enggak harus pacaran atau taaruf untuk bisa saling mengenal. Sekarang sepertinya sudah terlanjur jadi pro kontra. Tapi bagi saya pribadi, ya diambil hikmahnya aja.

  • Nanik Nara

    Emang ya mbak, banyak jalan menuju pelaminan *eh

    Saya dan suami kenal lewat dunia maya, jaman masih chat pakai yahoo mesengger. Dia saat itu sedang kerja di Korea. Dua bulan sepulang dia dari Korea, kami menikah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *