Inspiratif,  Jurnal Perempuan

Inspirasi Dibalik Sunpride: Kebaikan untuk Memberdayakan Petani Sekitar

Sudahkah persediaan buah di rumah teman-teman cukup? Biasanya kalau beli buah yang seperti apa? Ternyata meskipun buah itu adalah tanaman alami, tapi ada proses pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan yang membuat kualitas buah itu lebih terjamin. Tentunya, kita harus paham produk buah yang memiliki kualitas yang bagus. Nah, aku suka banget nih sama kualitas buahnya sunpride.

Pasti teman-teman pembaca sudah tidak asing lagi dengan buah Pisang Cavendish Sunpride yang khas berwarna kuning cerah. Hayo, siapa yang mengira itu buah impor? Sebelumnya, aku juga mengira itu buah impor. Ternyata aku salah. Setelah mengikuti webinar yang diselenggarakan Great Giant Food pada tanggal 11, 12, dan 13 Agustus 2020 lalu, baru aku mengerti kalau ternyata Pisang Cavendish dengan merk Sunpride itu merupakan buah lokal asli Indonesia yang kantor produksinya ada di Lampung Tengah. (Vidio Webinar bisa disimak disini). Selain pisang, masih ada produk lain seperti nanas, jambu, dan lain sebagainya.

Great Giant Food, atau yang kita singkat dengan GGF merupakan salah satu perusahaan agriculture perintis green company pertama dan terbesar di Indonesia. Dengan perkebunan yang luasnya sekitar 34.000 hektar, GGF sudah melakukan ekspor ke lebih dari 65 negara. Tidak hanya di Lampung, perkebunan GGF tersebar berbagai penjuru Nusantara seperti ke Blitar Bali. Selain ada perkebunan pisang, GGF juga mengelola perkebunan nanas serta peternakan sapi. GGF memiliki banyak turunan perusahaan yang aku jabarkan di bawah ini.

 

Sunpride itu Sebagian Kecil dari GGF

Jadi buah-buahan Sunpride hanyalah salah satu merk dagang dari GGF. Struktur perusahaan GGF sendiri itu merupakan bagian dari unit korporasi Gunung Sewu Group. Gunung Sewu Group itu turunan perusahaannya banyak banget. Salah satu yang bergerak pada bidang produk makanan dan pertanian (agriculture) ya GGF.  Sejak diluncurkan pada tahun 2016, GGF melakukan produksi utama mencakup produk-produk buah segar, makanan dan minuman dalam kemasan, seperti jus, protein, dan susu yang dikelola oleh berbagai turunan perusahaan dari GGF. Apa saja perusahaannya? Berikut aku jabarkan satu-satu :

 

PT Umas Jaya Agrotoma (UJA)

UJA merupakan produsen tepung tapioka yang digunakan untuk produk makanan dan minuman serta untuk industri pulp dan kertas. Lokasi pabrik berada di Lampung Tengah dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 40.000 metrik ton.

 

PT Great Giant Pinaple (GGP)

GGP merupakan produsen nanas kaleng terbesar di dunia, sekaligus penghasil nanas dan buah segar berkualitas premium. Lokasi Pabrik di Lampung Tengah, dan memiliki kantor perwakilan di Amerika, Cina, Singapura, jepang, dan Korea Selatan.

 

PT Great Giant Livestock (GGL)

GGL merupakan perusahaan bidang ternak sapi yang terkemuka di Indonesia. Beragam jenis sapi dibudidayakan secara lokal termasuk sapi yang diimpor dari Australia. Sapi diberi pakan yang aman dan bernutrisi sehingga menghasilkan daging yang memiliki keempukan  merata dengan merek Bonanza Beef. Inovasi terbaru GGL adalah memelopori peternakan sapi perah tropis dataran rendah. Lokasi Peternakanya di Lampung Tengah.

 

PT Sewu Segar Nusantara

PT Sewu Segar Nusantara ini sejak 1995 berfokus pada distribusi serta pemasaran buah-buahan lokal sekaligus buah-buahan impor, diantaranya pisang, nanas, jambu, apel, dan pir dengan merk dagang Sunpride. Lokasi Perkebunannya ada di Blitar, Bali, dan Aceh.

 

PT Bromelain Enzime (BE)

BE memproduksi bromelain olahan dengan mengekstraksi batang nanas yang dipanen dari perkebunan milik GGF sendiri. Sejak tahun 2011 beroprasi, BE sudah memproduksi produk bromelain olahan untukdiekspor ke Belgia. Lokasi Pabriknya sendiri berada di Lampung.

 

PT Nusantara Segar Abadi

Merupakan produsen perkebunan pisang kususnya Cavendish Highlind (Golden Banana) yang sudah melakukan suplly buah di beberapa daerah seperti Bali, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan. Lokasi perkebunan Pisang ini berada di Blitar dan Jimbaran Bali.

 

PT Sewu Segar Primatama (SSP)

Merupakan perusahaan yang menerapkan konsep retail untuk brand Re.juve sebagai pelopor jus Cold Pressed segar, murni, dan alami di Indonesia. Dalam produksi hingga sampai ke konseumen, Re.juve tidak terpapar panas dan oksidasi karena dikemas dalam botol dan dijaga tetap dingin. Lokasi pabriknya sendiri ada di Tanggerang.

 

Setia Karya Transport (SKT)

Merupakan perusahaan penyewa support transportasi untuk kebutuhan distribusi produk PT GGP dari penyedia hulu ke hilir.

 

PT Inbio Tani Nusantara

Merupakan perusahaan yang memasarkan produk pertanian berupa Liquid OrganicBiofertilizer (LOB) ke berbagai daerah seperti ProvinsiLampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lokasi pabriknya sendiri berada di Lampung Tengah.

 

Jadi, jelas ya kalau buah-buahan dengan merk Sunpride itu hanyalah satu diantara jenis produk unggulan yang diproduksi oleh perusahaan argiculture terbaik Indonesia yaitu Great Giant Food atau GGF. Selain Sunpride, ada merk dagang lain yang dikelola GGF yaitu :

Sumber Informasi : Webinar yang diselenggarakan GGF pada 13 Agustus 2020 Sumber Gambar : Berbagai sumber di Internet — Diolah oleh tim jurnaljihan.com

 

Apa sih, yang Menarik dari GGF?

Banyak juga ya, anak perusahaan GGF. Makannya nggak heran kalau produktifitasnya juga besar. Ekspornya nggak main-main karena udah sampai ke 65 negara. Standar mutunya sudah tidak perlu diragukan lagi. Ternyata, salah satu rahasia kesuksesan GGF tidak hanya tentang kecerdasannya dalam mengelola produk. Tetapi ada nilai-nilai kebaikan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Selain peduli dengan karyawannya sendiri, GGF juga sangat peduli dengan petani Indonesia utamanya yang ada di sekitar lingkungan pabriknya.  The Power Of Giving ternyata memang membawa dampak kebaikan yang begitu masif. GGF bisa menjadi contoh untuk perusahaan lain dengan konsep-konsepnya agar perusahaan tidak hanya mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi juga berbagi seluas-luasnya.

Yang perlu digaris bawahi adalah, pemberdayaan yang GGF lakukan itu lebih dari sekedar filantropi yang dibungkus dengan Corporate Social Responsibilty (CSR). Artinya, GGF dalam memberdayakan masyarakat sekitar, tidak sekedar memberikan bantuan secara langsung. Tapi dengan cara mengoptimalkan potensi warga sekitar untuk dilibatkan dalam model bisnis yang dijalankan oleh GGF. Sehingga hubungannya tidak sekedar Sinterklas yang memberikan kado natal, tetapi seperti seseorang yang memberikan kawan baiknya sebuah kail dan memberi tahu cara memancing ikan yang benar daripada memberi ikan secara langsung. Kedepannya GGF ingin memberikan dampak yang lebih luas lagi kepada Indonesia tercinta dengan menjalin kemitraan bersama petani-petani di setiap wilayah di Indonesia.

Nah, berangkat dari visi GGF yaitu Nourising Peoples’s Live with Quality Foods Produced in Sustainable and Innovative Way, GGF memiliki tiga pilar utama yaitu :

Diambil dari meng-capture slide atau paparan presentasi webinar GGF 12 Agustus 2020 Diterjemahkan dan diolah oleh tim jurnaljihan.com

Because Our People is Our Assets

Siapa yang menanam kebaikan pasti akan memanen kebaikan pula.

Dengan menerapkan 3 pilar GGF yaitu Great Food, Great People, dan Great World, tentu banyak sekali kebaikan yang sudah GGF berikan untuk banyak orang. Tapi aku nggak akan bahas semuanya, disini ya. Aku mau bahas tentang Great People aja. Bagiku pilar Great People ini menarik. Karena ada konsep pemberdayaan manusia yang dilakukan dengan cara berbeda.

Bicara soal memberdayakan tidak lepas dari manusia yang memiliki semangat untuk maju dan berkembang. Bagi GGF untuk tumbuh menjadi perusahaan yang besar dan berdaya, maka juga harus mememberikan yang terbaik pula untuk orang-orang di dalamnya dan di sekitarnya.

Orang-orang yang berada di dalam GGF mencangkup karyawan, diberikan berbagai fasilitas agar nyaman bekerja. Selain gaji dan bonus-bonus tentunya, para karyawan diajurkan untuk tinggal dalam satu perumahan di lingkungan GGF yang dilengkapi dengan fasilitas rumah ibadah, klinik kesehatan, dan fasilitas pendidikan. Sehingga karyawan dan keluarganya bisa betah berada di lingkungan GGF.

Selain karyawan, GGF juga berupaya memberdayakan komunitas sekitar seperti Ibu Rumah Tangga yang merupakan isteri pegawai GGF dan juga warga desa sekitar yang banyak menjadi petani maupun peternak. Bagaimana konsep pemberdayaannya? Aku jabarkan di bawah ini ya….

 

Menerapkan Konsep Pemberdayaan yang Tepat

Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Repubik Indonesia Tahun 1945, mengisyaratkan bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia tidak semata-mata merupakan tanggung jawab salah satu pihak saja. Akan tetapi tanggung jawab semua yang berkepentingan (stakeholders) seperti negara dan pengusaha yang ikut menikmati kekayaan negara Republik Indonesia.

Bagi GGF, memberdayakan petani di desa-desa sekitar atau disebutnya dengan desa-desa penyangga GGF merupakan bentuk kepedulian sosial GGF dalam rangka meningkatkan kamajuan ekonomi masyarakat Indonesia. Apa bedanya dengan Corporate Social Responsibility (CSR)? Nah, aku jelasin satu-satu ya bentuk-bentuk kegiatan sosial perusahaan pada umumnya yang kemudian GGF coba membuat inovasinya.

 

Corporate Social Responsibility (CSR)

Udah nggak asing lagi kan, dengan istilah CSR? Apalagi musim pandemi kaya gini istilah itu jadi membumi lantaran perusahaan-perusahaan besar berbondong-bondong melakukan kegiatan sosial seperti bagi-bagi makanan sehat dan masker dengan menggelontorkan dana CSR-nya. Jadi, bagaimana sih detailnya CSR?

CSR itu, bagian dari amanah pasal 33 UUD 1945. Bunyinya, perusahaan atau pelaku usaha harus memiliki tanggung jawab yang meliputi aspek legal, ekonomi, etis, dan lingkungan. Lebih khusus lagi, CSR menekankan aspek etis dan sosial dari perilaku korporasi, seperti etika bisnis, kepatuhan pada hukum, pencegahan penyalahgunaan kekuasaan dan pencaplokan hak milik masyarakat, praktik tenaga kerja yang manusiawi, hak asasi manusia, keamanandan kesehatan, perlindungan konsumen, sumbangan sosial, standar-standar pelimpahan kerja dan barang, serta operasi antar negara.

GGF juga punya nih program CSR sebagai tanggung jawabnya di bidang ekonomi. Nah, yang dapat kita ambil ilmunya yaitu GGF tidak sekedar memberikan sumbangan langsung dalam bentuk tunai dalam menjalankan program CSR-nya. GGF menerapkan konsep Creation Shared Value (CSV) agar masyarakat sekitarnya juga tumbuh dan berkembang seiring dengan semakin majunya GGF. Apa itu CSV?

 

Creation Shared Value (CSV)

GGF pada dasarnya ingin berkembang dengan masyarakat dan melihat masyarakat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. CSV sendiri, pada konsepnya adalah hubungan kemitraan yang saling mengguntungkan dengan saling mengisi value (atau nilai-nilai kebaikan setiap pihak yang terlibat). GGF sendiri menerapkan perkawinan antara : pertama masalah sosial atau masalah yang ada di sekitar perusahaan, kedua peluang bisnis yang bisa dikembangkan bersama, dan yang ketiga kemampuan perusahaan dalam menjalankan sistem bisnisnya.

Dalam hal ini GGF lingkup fokusnya ada di masalah pertanian dan peternakan masyarakat sekitar kususnya dan di Indonesia pada umumnya. GGF menangkap bagaimana petani dan peternak ini mendapati masalah akan pasar yang tidak pasti. Seperti rantai niaga yang begitu panjang dan menyebabkan penghasilan petani rendah. Selain itu, secara kualitas produk juga kurang memenuhi keinginan pasar

Kemudian, GGF juga melihat kesempatan bisnis di bidang pertanian ini begitu besar. Aku jadi ingat pelajaran waktu SD, kalau Indonesia itu disebut negara agraris. Jadi memang harus digunakan semaksimal mungkin peluang mengembangkan pertanian di Indonesia. Selain itu yang bisa dijadikan acuan peluang adalah kebiasaan masyarakat mengkonsumsi bahan lokal seperti sayur dan buah. Terakhir terkait teknologi pertanian, masih banyak yang belum diterapkan di Indonesia.

Di samping itu, GGF sebagai perusahaan yang sudah berdiri sejak tahun 1979 memiliki kemampuan dalam mengelola pasar, memiliki standar produk yang baik, bibit yang unggul, teknologi yang mumpuni, kemitraan dengan lembaga pembiayaan, kemitraan untuk melakukan pemasaran dan kemampuan sumber daya manusia untuk memberikan bimbingan kepada petani sekitar.

Maka, dari perkawinan tiga variabel keadaan ini akan terjadi Shared Value Opportunity atau peluang bekerja sama secara kemitraan dengan masyarakat sekitar sebagai berikut :

Sumber Gambar : Capture slide webinar yang diselenggarakan GGF 12 Agustus 2020

 

Konsep Kemitraan Berdasar UU No. 20 Tahun 2008

Ferdy selaku Head of Finance Great Giant Livestock (GGL) dalam webinar mengungkapkan bahwa program pemberdayaan selain bentuk CSR dan CSV, ada juga program kemitraan.  Menurut Ferdy, perusahaan harus membuka mata bahwa kemitraan merupakan ruh dari UU NO 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil Menengah.

Dalam Pasal  1 angka 13 undang-undang tersebut menyebutkan, kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar. Secara singkat bisa dilihat dalam kolom berikut :

Skema kemitraan menurut UU No 20 tahun 2008 diambil dari capture slide webinar GGF 12 Agustus 2020

Nah, GGF kususnya GGL mengedepankan prinsip kemitraan terhadap peternak-peternak sekitar. Sehingga hubungannya setara tidak seperti si kaya memberikan kepada si miskin. Dengan prinsip di atas, peternak juga diuntungkan dan lebih bisa meningkatkan mutu karena bedara di lingkungan yang bisa saling memberikan wawasan dan arahan terkait dunia peternakan.

Bagaimana Penerapannya di Lapangan?

Kemitraan yang dibangun GGF tidak hanya seputaran Lampung saja tetapi tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Bali, Blitar Jawa Timur, Sumatra Utara, Garut, Tasikmalaya dan berbagai daerah lainnya yang masih diupayakan. Seperti apa?

 

Memberdayakan Komunitas Sekitar

Gilang M. Nugraha selaku Jurnior Manager Sustainability Great Giant Food menyebutkan dalam memberdayakan komunitas sekitar, GGF merujuk pada memaparkan dalam sircular model yang dyang sudah dibentuk. Salah satunya ketika dalam proses produksi ada hasil produk sortir yang tidak diminati pasar, GGF tidak langsung membuangnya. Karena sebenarnya produk tersebut masih bisa dikonsumsi. Produk sortir ini GGF sebut dengan produk reject. Dimana, produk reject tersebut diberikan kepada ibu rumah tangga di desa sekitar untuk diolah menjadi kripik buah, selai buah, ataupun dodol. GGF pun tidak asal memberikan saja. GGF juga membantu komunitas ibu-ibu tersebut dengan cara pendampingan, akses pemodalan, memberikan masukan terkait pengemasan, sampai cara pemasaran.

Tentu ibu-ibu tersebut senang mendapatkan ilmu dan peningkatan mutu produk berkat kebaikan GGF. Seperti yang bisa kita simak di vidio yang saya ambil dari chanel youtube Great Giant Food berikut :

 

Great Giant Food Peduli Petani

GGF dengan turunan perusahaannya yaitu Sewu Segar Nusantara yang berfokus pada produksi sayur dan buah-buahan, juga memikirkan bagaimana memotong rantai niaga yang begitu panjang dari petani hingga sampai ke konsumen.

Vera Monica selaku Head od Local Sourcing PT Sewu Segar Nusantara memaparkan ada dua tehnik dalam menjalankan kemitraan bersama petani antara lain :

Skema Hubungan GGF kususnya SSN dengan Mitra

Mengembangkan Apa yang Sudah ada dari Petani

Contoh yang sudah GGF lakukan di daerah Dampit dalam memproduksi pisang mas bekerja sama dengan kelompok petani di sana. Dalam hal ini GGF membantu para petani dari penanaman sampai panen, melakukan pendampingan sampai membantu memasarkan.

Membangun Sesuatu yang Baru bersama Petani

Di daerah Jombang, belum ada perkebunan pisang mas. GGF bersama petani sekitar sana, melakukan penanaman pisang mas. GGF membantu pembibitan hingga panen sampai produksi.

 

 

Great Giant Food Peduli Peternak

Dalam lingkup peternakan juga Great Giant Food dengan turunan perusahaannya Great Giant Livestock berupaya membentuk Capacity Building dengan memberikan bibit unggul sapi, panduan pengobatan sapi, perawatan dan sebagainya. Pembinaan tentang mengenai ternak sapi juga sudah diberikan kepada lebih dari 500 Petani Lokal. Uniknya lagi, petani sekitar juga diajarkan mengolah kotoran sapi menjadi biogas untuk bahan bakar pengganti gas LPG mereka.

Foto Sarjono dan kegiatannya sebagai mitra GGF

Sarjono selaku peternak binaan dari GGF mengaku banyak sekali manfaatnya bergabung menjadi mitra Great Giant Food kususnya Great Giant Livestock yang menaungi peternakan sapi. Sarjono juga merasa dibentuk untuk mandiri oleh GGL. Karena GGL tidak hanya memberikan bantuan secara langsung. Sarjono juga dibekali bagaimana tehnik pembudidayaan sapi yang baik hingga mendapatkan kualitas yang bagus. Selain itu juga bagaimana pengolahan kotoran sapi juga dibimbing oleh GGF. Tidak hanya itu, tehnik berhubungan dengan bank untuk mendapatkan modal juga Sarjono pelajari dari GGF. Menariknya lagi, sejak menjadi mitra GGF, Sarjono tidak perlu kebingungan lagi bagaimana memasarkan sapi-sapinya. Karena, GGF telah memangkas rantai pemasaran dengan cara mendatangkan langsung pembeli ke tempat peternakan. Pencairan hasil penjualan pun sangat cepat dan mudah. Sehingga bisa segera diputar sebagai modal.

 

GGF Memutus Rantai Pemasaran yang Begitu Panjang

Pemasalahan petani lokal yang paling signifikan yaitu rantai pemasaran yang begitu panjang dari petani sendiri hingga sampai ke konsumen. Hal ini, membuat petani menjadi berpenghasilan rendah. Tidak sebanding dengan proses yang dikerjakan. GGF berusaha mengatasi masalah ini salah satunya dengan cara membangun  packing house satelit. Harapannya membuat hasil panen petani bisa langsung dipasarkan ke toko-toko dan mudah didapat oleh konsumen. Menurut Vera Monica selaku Head od Local Sourcing PT Sewu Segar Nusantara program ini sudah berjalan 3 tahun dan memberikan dampak positif baik dari sisi petani maupun konsumen. Karena konsumen bisa langsung menikmati buah dengan kualitas yang lebih baik dan masih segar.

 

Skema pemasaran yang dilakukan GGF kususnya SSN

Kesimpulan

Great Giant Food perusahaan agriculture perintis green company pertama dan terbesar di Indonesia, dalam menerapkan Corporate Social Responcibility-nya, tidak hanya memberikan bantuan secara langsung dalam bentuk uang saja. Namun, GGF juga berupaya memberdayakan masyarakat sekitar melalui pendampingan, pembekalan, mulai dari pembibitan, proses produksi sampai panen, bahan hingga memasarkan. Dalam hal ini, GGF menerapkan konsep Creation Shared Value (CSV)

 

  • Merasa lebih mandiri dan punya posisi tawar yang lebih baik dalam pengajuan modal ke perbankan dan saat melakukan jual beli dengan custumer.
  • Menjadi SDM yang lebih baik berkat GGF yang telah memberikan pelatihan seperti manajemen pakan, pembibitan, financial, penjualan, sampai pengolahan kotoran.
  • GGF membentuk mental Sarjono untuk kerja keras dan kerja cerdas hingga bisa menikmati hasil yang diharapkan. Karena GGF memberikan kail bukan ikan. Sementara ikan harus diperoleh dengan mental bekerja yang baik.
  • Bersama-sama dengan warga desa lain terutama anak muda, Sarjono membuka lapangan kerja baru di bidang peternakan.

Pada intinya, dengan konsep CSR yang tidak hanya sekedar memberi dan menggunakan konsep CSV dengan menganggap petani ataupun peternak sebagai mitra, terjalin simbiosis mutualisme yang masing-masing mendapat keuntungan sebagai berikut :

Diambil dari capture slide webinar GGF 12 Agustus 2020 diolah dan diterjemahkan oleh jurnaljihan.com

 

Sumber :

  • Webinar GGF yang diselenggarakan tanggal 11, 12, dan 13 Agustus, materi bisa disimak di chanel youtube Great Giant Food
  • Undang-undang Republik Indonesia tahun 19945
  • UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
  • Jurnal UNS tentang Corporate Social Responsibility
  • Vidio : Youtube Chanel Great Giant Food
  • Gambar sampul : Dokumen pribadi jurnaljihan.com
  • Infographis : Diambil dari slide webinar GGF 12 Agutus 2020 diolah oleh jurnaljihan.com

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

3 Comments

  • Ghina

    Hai mbak jihan, slam kenal. Seneng nemu bloger lawyer nih. Saya lulusan hukum jg tp ga jadi lawyer, hehe

    Eh ya ampun saya denk dan suami suka males beli ini karena tak kira ini pisang dari luar negeri. Jadi sok2an beli pisang lain deh. Baru tahu banget lho mbak. Keren csrnya gede gitu yaa. Semoga tetep terus berkembang memberdayakan perkebunan dan masyarakat indonesia yaa.

  • Yustrini

    Nggak salah berarti kalo selama ini, saya selalu beli buah-buahan Sunpride. Sempat bertanya-tanya juga sih, ini hasil kebunnya siapa, ternyata produk lokal, he, he. Kualitas buahnya memang baik sekali 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *