Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Pertama Kalinya Ajari Anak Buang Air di Toilet

Senin, 7 September 2020

Hari ini aku mulai ngajarin anakku si A, bagaimana buang air di toilet. Ternyata nggak gampang. Bagaimana caraku ngajarin? Jadi, aku kan tahu tanda-tanda A kalau mau pup itu seperti apa. Begitu terlihat tanda-tandanya, langsunglah aku bawa dia ke toilet. Kebetulan toilet di rumah mertuaku itu toilet jongkok. Bukan toilet duduk (rumahku juga sih). Dan ternyata, anakku masih kebingungan menerjemahkan arti kata jongkok.

 

Pondok Mertua Indah

Sebelum aku cerita panjang lebar soal anakku yang aku nggak mau kalau dia disebut anak kecil padahal dia memang anak yang masih kecil, aku mau cerita dulu kalau dua bulan sejak September  2020 ini, aku bakal tinggal di rumah mertuaku. Bulan-bulan sebelumnya sejak menikah, aku tinggal di rumah orang tuaku tapi di lantai dua. Sama Ibu dan adikku aja yang baru lulus dari FH UI. Ya, niatnya nemenin Ibuku yang di rumah sendiri. Tapi belakangan, aku merasa harus memberi pelajaran pada adikku yang terlalu menyepelekan peluang pekerjaan karena idealisme yang dia miliki. Kapan-kapan aku ceritakan di seri #OneDayOnePost.

Iyes, mulai hari ini aku mau bangun kebiasaan nulis setiap hari lewat komunitas One Day One Post. Programnya berjalan dua bulan. Dan kebetulan, dua bulan ini aku berencena tinggal di rumah mertua. Jadi, aku mau angkat cerita sehari-hariku aja di rumah mertua. Siapa tahu kalau ke depan seri #OneDayOnePost di blogku ini mau diterbitkan jadi buku, aku makin mudah cari judulnya. Yaitu, Pondok Mertua Indah. Oke, mungkin itu intermezonya ya.

 

Anakku Bukan Sekedar Manusia Kecil

Bagiku, anakku bukanlah manusia bertubuh kecil dengan otak kecil. Mungkin fisiknya saja yang terlihat mungil. Tapi otaknya, aku selalu percaya selalu ada alasan yang logis atas apapun yang dia lakukannya. Sekalipun baru berusia 16 bulan. Ya, sesederhana bagaimana dia menjatuhkan gelas dari meja ke lantai. Aku tidak pernah berpikir tingkahnya itu menjengkelkan. Justru aku selalu berpikir bahwa dia sedang melakukan eksperimen. Percobaan tentang gaya grafitasi mungkin ya. Meskipun dia tidak tahu istilahnya, tapi aku yakin dia punya maksud kenapa sengaja menjatuhkan gelas dari meja ke lentai. Intinya dia sedang belajar.

Tentu saja, sebagai orang tua aku harus bisa melihat tingkahnya dari sisi positif dan selalu memberikannya dukungan agar dia yakin pada proses belajarnya sendiri. Menurutku, posisi orang tua pada anak itu seperti mentor yang mengarahkan tanpa ikut mencampuri. Soal kreatifitas, aku berupaya tidak menyalahkan atau membenarkan apa yang dia lakukan. Sedangkan soal perilaku yang mengarah pada moral, aku mencoba untuk membimbing pelan-pelan. Sedangkan soal practical life, seperti makan dengan sendok, menuang air, menyapu, dan lain sebagainya aku biarkan dia untuk mencoba sendiri.

 

Buang Air Di Toilet itu Perkara Moral dan Skill Bertahan Hidup

Ini definisi yang aku ciptakan sendiri ya. Mohon maaf kalau salah karena ini memang bagian dari nulis suka-suka. Jadi, menurutku buang air kecil di toilet itu perkara moral dan skill bertahan hidup. Kenapa begitu? Secara moral, malu dong kalau buang air nggak di toilet. Secara skill, ternyata kususnya untuk anak zaman sekarang untuk bisa buang air di toilet itu harus dilatih. Ya soalnya dari lahir kebiasaan buang air baik besar maupun kecil di diapers, sih. Makannya itu buang air jadi life skill tersendiri. Anak perlu dikenalkan kalau ada toilet untuk buang air. Pengenalan itu dalam dunia parenting disebut Toilet Training.

Menurut buku Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori, idealnya Toilet Traning dimulai paling cepat usia 18 bulan dan paling lambat usia 3 tahun dengan indikator, anak sudah bisa berjalan dan mengenali sinyal buang air. Nah, meskipun anakku masih usia 16 bulan tapi dia sudah lancar jalan dan bisa mengenali sinyal buang air utamanya buang air besar. Maka aku latih mulai hari ini setiap tanda-tanda buang air besar itu ada aku ajak dia ke toilet. Tapi aku belum buka diapersnya total ya. Karena masih pengenalan. Hari-hari sebelumnya, aku selalu bilang kalau buang air itu baiknya di toilet. Sambil terus memberi tahu juga definisi pipis, jongkok, pup, itu seperti apa dengan bahasa yang sekiranya dia paham.

 

Anakku Ngerti, Kok…

Sebenarnya anakku sudah paham tentang apa itu pipis. Akhir-akhir ini dia selalu bilang kalau pipis meskipun sebenarnya udah keluar pipisnya. Aku tetap menghargai kemajuan berpikirnya sekecil apapun. Tadi siang, waktu tanda-tanda pup itu muncul dan aku bawa ke toilet, ternyata dia belum paham apa itu jongkok. Iya, aku kurang sounding soal jongkok. Alhasil, di toilet dia main air dan nggak jadi pup.

Keluar dari toilet, mertuaku tanya, “Ya bisa pup dia.”

Aku jawab, “Sedikit.”

Sambil iris bawang kata mertuaku, “Anak sekecil itu, emang bisa.”

Nggak sih, aku nggak baper juga digituin. Orang dulu sama orang sekarang kan beda. “Ya, emang lagi dilatih pelan-pelan,” begitulah aku membuat pembelaan.

Yah, memang nggak mudah membuat anak mengerti. Kita sebagai orang tua hanya bisa ikhtiar. Masalah hasil, biar Allah yang menentukan kapan berhasilnya. Kalau ada yang komentar, menurutku itu sebagai penyemangat agar kita kembali menengok tujuan pengasuhan kita. Ya, aku pribadi punya tujuan kenapa melatih anakku Toilet Training lebih cepat. Selain sudah konsultasi sama psikolog, ada hal-hal yang ingin aku fokuskan di kemudian hari setelah anakku tuntas skill ini. Ya, aku percaya anakku akan mengerti pada waktunya.

 

#OneDayOnePost

#ODOP

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *