Jurnal Inspirasi,  Menulis

Big Why Harus Lulus ODOP dan Begini Strateginya

Awalnya, alasanku ikutan ODOP atau One Day One Post itu untuk wadah biar aku bisa konsisten menulis setiap hari. Pertanyaannya, kenapa aku butuh menulis setiap hari? Selain karena merawat kebiasaan, menulis itu sudah jadi bagian dari diriku yang tak terpisahkan. Rasanya kurang aja kalau nggak nulis. Memang sih, sekarang mulai targetnya ke cuan. Tapi aku harus hati-hati dengan tujuan cuan. Salah-salah menulisku jadi nggak dari hati lagi, tapi ada maksud tersembunyi sehingga tulisan jadi nggak berisi.

 

Pertama Kenal ODOP

Aku kenal ODOP itu dari Mbak Maria Tanjung. Bagaimana cara Mbak Maria promosi ke aku sampai aku tertarik? Sebenarnya nggak promosi aneh-aneh juga sih. Mbak Maria cuma cerita sedikit kalau dia ikutan ODOP. Nah, aku tuh salut gitu sama ilmu blog nya Mbak Maria dan dengan sukarela mau ngajarin aku. Tapi waktunya aja sih, yang belum ketemu. Kok ada ya orang setulus itu mau ajarin gratis? Hehehe. Dibalik itu aku menduga, pasti ada semacam wadah atau komunitas yang yang juga sefrekuensi dengannya. Beberapa komunitas blog yang dia ikuti, akhirnya aku ikuti juga. Salah satunya ODOP ini. Dan beruntunglah aku ketemu blogger-blogger keren lewat ini.

Aku kenal Mbak Maria sekitar bulan Juli di salah satu wadah tukar backlink. Setelah project selesai, kami masih sering chit chat nya dong. Sampai akhirnya ada pendaftaran ODOP di akhir bulan Agustus. Awalnya ragu mau ikut ya karena aku ada bayi dan setiap hari harus nulis itu bayanginnya Masya Allah. Tapi kalau inget-inget dulu waktu jadi wartawan dan berada di lingkaran penulis aku itu bisa loh. Akhirnya aku putuskan gabung ODOP. Kalau ditunda-tunda sampai tahun depan kayaknya bakalan nggak banyak progres. Apalagi aku juga punya target di bidang literasi yang mungkin ODOP bisa jadi komunitas yang mendukungku nanti.

 

Big Why

Kalau big why kenapa aku harus menulis ya karena menulis itu udah kaya jadi berak buat aku (maaf ya agak jorok). Tapi emang iya, kalau nggak dikeluarin malah sakit. Aku suka menulis sejak SD sebenarnya. Dan mulai serius sejak SMA. Kalian bisa lihat portfolio aku. Tapi seriusnya pas SMA itu masih ragu apakah menulis kela akan jadi profesiku. Apalagi banyak yang bilang kalau jadi penulis itu nggak ada duitnya. Eh, nyatanya sampai lulus kuliah aku malah jadi Wartawan Hukum. Masih berkutat di dunia menulis. Jadi kalau ditanya kenapa aku menulis ya mungkin masih sebatas untuk diriku sendiri karena butuh menulis ya.

Sedangkan big why kenapa ODOP? Ya, kenapa memilih wadah ODOP untuk melatih otot menulis? Karena ODOP ini unik. Sehari suruh posting apa itu nggak kaya lari maraton? Apalagi yang join perkejaan utamanya nggak menulis aja. Banyak banget urusannya. Hehehe. Selain itu, ternyata ODOP punya program bagus banget setelah lulus dari posting setiap hari selama dua bulan. Kebetulan aku punya target untuk nerbitin buku tahun ini. Nah, dengan lulus ODOP aku harap bisa menemukan jalan yang pas untuk rencana bukuku ke depan.

Selain program menulis, rupanya ODOP juga punya program pelatihan berupa materi yang nggak hanya seputar teknis menulis. Tapi lebih dari itu. Seperti tanggal 7 September 2020 kemarin, ada materi seputar writing for healing yang disampaikan lewat kulWA. Ternyata, menulis itu juga bisa menjadi media untuk terapi menyembuhkan penyakit mental. Tapi dengan teknis dan cara-cara tertentu. Menulis bisa menjadi katarsis atau sebagai pengurai masalah baik untuk diri sendiri dan orang lain. Dari materi itu pun aku mendapat pencerahan tentang alasan menulis yang lebih besar lagi. Yaitu untuk mengurai masalah secara lebih positif dan bisa dijadikan pelajaran untuk banyak orang. Intinya, lebih bersyukur sehingga bisa menebar kebahagiaan dan manfaat yang lebih besar dengan menulis. Selengkapnya akan aku uriakan di postingan lain nantinya.

 

Strategi Lulus ODOP

Setelah menguatkan big why, aku menguraikan strategiku secara teknis untk lulus ODOP. Karena ODOP ini terlihat seperti maraton karena tiap hari harus menulis, maka aku ubah mindsetku dulu bahwa ODOP ini wadah untuk melatih nafas menulisku agar lebih releks. Maka strategi yang aku terapkan seperti ini:

Memahami Aturan

Yang penting dari yang paling penting di antara semuanya adalah, memahami aturannya ODOP. Yaiyalah, kalau kamu mau berhasil kan kamu harus mengikuti apa yang jadi rule dalam lingkaran itu. Jadi aturan harus diperhatikan baik-baik. Mulai dari jumlah kata per tulisan, bagaimana kumpulin tugasnya, mekanisme pemberian tugasnya, sampai hukuman yang diterima kalau kelewat nggak kumpulin tugas.

Mengikuti Kata Hati Saja

Menulis apa hari ini? Ketika bangun pagi aku memikirkan itu, seraya aku mengaktifkan kepekaan hatiku untuk menangkap suatu peristiwa yang bisa memberi makna apabila dituangkan dalam tulisan. Dan itu akan jadikan tema tulisan hari ini. Dengan begini selain untuk melatih otot menulis, ODOP juga menjadi wadah bagiku untuk melatih kepekaan hati. Dan benar, ketika aku mengaktifkan kepekaan hati ini aku merasa lebih menikmati irama kehidupan terutama saat-saat bersama anakku.

Menulis yang Mengalir

Jadi, setelah hatiku menangkap sesuatu yang bisa aku tulis maka aku menuliskannya mengalir begitu saja. Tanpa karangka. Sesekali didukung dengan materi yang ditemukan saat berselancar di google namun tidak seperti mencari materi saat membuat skripsi. Cukup sekedarnya aja yang terpenting aku bisa menikmati proses menulis ini tanpa terbebani. Tujuan dari aku menerapkan cara ini agar aku menemukan sebenarnya kekuatanku untuk menulis itu ada pada tema, atau genre tulisan yang seperti apa. Berhubung menulis bareng ODOP setiap hari temanya bebas (cuma tugas mingguan aja yang ditentukan), jadi aku lebih bisa bereksplorasi lebih setiap harinya. Ya, semoga sampai program ODOP selesai aku menemukan titik kenyamananku yang sebenarnya dalam menulis.

Menentukan Jam Menulis

Bagiku menentukan jam menulis ini tidak bisa disepelekan lantaran aku juga penya keluarga yang harus diurus dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Nah, karena pagi setelah bangin pagi aku baru membuka hati untuk menangkap tema, maka aku memilih jam menulis di malam hari setelah anakku tidur yakni pukul 22.00 ke atas. Nah, kan pengumupulan tulisan ODOP setiap harinya itu pukul 23.59, maka yang aku tulis dari pukul 22.00 itu bukan tulisan yang aku kumpulkan hari itu, melainkan untuk esok harinya. Ini penting untuk menghindari utang tulisan. Karena kalau sampai utang tiga kali udah di kick dari komunitas dna harus mengulang tahun depan. Hiks… jadi sedih kan…

 

Bismillah……

Oke, mulai 7 September 2020 kemarin, member ODOP sudah mulai posting. Karena aku masih bingung sama panduan yang diberikan ODOP jadi aku belum terapkan jadwal menulis sepenuhnya dengan tepat. Mungkin mulai hari ini, aku mulai dengan menulis dua tulisan untuk postingan hari ini dan besok. Jadi, untuk besok aku bisa menulis untuk besoknya lagi sesuai strategi yang sudah aku susun agar lulus ODOP. Minimal dengan mengumpulkan tulisan setiap hari tepat waktu. Semangat!

 

#OneDayOnePost

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *