Dunia Anak,  Jurnal Keluarga

Idealis yang Fleksibel Sama Anak

Makan tuh idealis! Idealisme berdasarkan wikipedia merupakan suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Sebenarnya unik juga sih, kalau kita membedah definisi idealis dari penjabaran ini. Idealisme itu seolah membentuk sebuah karakter yang kaku dan nggak fleksibel. Apa iya begitu?

Kalau idealisme itu merupakan suatu keyakinan bukankah setiap orang itu pasti memiliki keyakinan dalam dirinya? Seperti seseorang yakin kalau dia tidak bisa melompat indah dari ketinggian sampai ke kolam renang. Sehingga, dia tidak berani melompat. Sedangkan ada sebagian yang yakin dengan kemampuannya maka dia berani melompat. Apakah keyakinan ini muncul tiba-tiba. Ternyata tidak. Keyakinan ini perlu dilatih. Aku yakin kalau aku bisa menulis ya karena aku telah melakukan pengulangan dalam menulis sejak lama.

 

Idealis VS Realistis

Itu artinya, idealisme sebenarnya bisa kita bentuk. Bisa kita belokkan tergantung kondisi. Terus apa bedanya idealis sama realistis? Idealis mungkin masih berada dalam zona awang-awang. Tapi orang realistis udah berpijak di atas tanah. Tapi bukankah untuk bergerak dalam hidup ini kita butuh idealisme tertentu agar kita senantiasa berusaha bersikap sesuai idealisme tersebut?

Berdasarkan pergulatan pemikiran tersebut, aku jadi mikir bahwa idealisme ini sebenarnya penting dan nggak bisa disepelekan. Seseorang dengan idealismenya misalnya dia hanya ingin bekerja menjadi PNS. Karena baginya, PNS adalah profesi yang bisa membantu membangun negeri. Sekalipun dia butuh pekerjaan, dia tidak akan bekerja kalau tidak kerja PNS. Sedangkan orang realistis, bisa jadi kerja apapun diambil yang penting halal dan bisa kasih makan keluarga. Aku pun jadi mikir, bukankah kalau gitu orang realistis sekalipun sebenarnya punya idealisme? Sesederhana idealisme bisa kasih makan keluarga. Katanya tadi kan, idealisme merupakan suatu keyakinan yang dianggap benar oleh individu. Bukankah memberi nafkah keluarga itu juga benar?

Jadi, apa bedanya idealis sama realistisi? Kalau aku sih mikirnya idealis itu semacam cita-cita. Sedangkan realistis itu adalah keadaan diri kita yang sekarang. Jarak antara realistis dan idealisme bisa saja beririsan. Karena idealisme juga buah dari pemikiran atas renungan yang kita pikirkan atas apa yang terjadi sekarang ini. Realistis adalah, pemikiran sebagai dasar kita untuk melakukan tindakan sekarang.

 

Idealisme yang Fleksibel jadi Ibu

Menurutku memang penting kita punya idealisme. Apalagi sebagai Ibu, aku merasakan ketika aku idealis agar anakku diberi ASI. Aku juga idealis agar anakku makan tidak sambil digendong. Apa yang aku dapatkan.? Suatu kenyamanan yang mungkin tidak aku dapatkan jika aku tidak melakukan itu. Misalnya, anakku jadi lebih mudah fokus pas udah makan makanan dewasa kaya sekarang ini. Tapi pada hal-hal terntentu, kita memang harus bersikap fleksibel. Seperti aku tidak membolehkan anakku menonton TV saat di rumah. Tapi kalau di rumah utinya, mana mungkin bisa aku cegah. Ya, aku coba turunkan ekspektasiku dan mempersilahkan anakku untuk menikmati layar hingga batas waktu. Realistis aja deh, kadang kita nggak bisa mengendalikan lingkungan sesuai idealisme kita. ya sudah, turunin aja.

Kalau udah gitu, aku biasanya sambil doa. Ya Allah, terimakasih sudah menitipkan putri kecil nan cerdas ini padaku. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk memberikan pengarahan, pendidikan, dan penghidupan yang baik baginya. Tapi, jika ada suatu hal yang aku tidak mampu berikan padanya, berikanlah dia keiklasan. Dan jika aku tidak mampu terus bersamanya dan mengawasinya, maka aku kembalikan padamu. Jagalah dia dan jangan biarkan dia terbelenggu pada hal yang tidak seorang Ibupun inginkan.

Dan ketika doa itu kupanjatkan, ya sudah…. ilmu parenting menjadi meluap begitau saja.

 

#OneDayOnePost

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *