Dunia Anak,  Jurnal Keluarga

Idealnya Punya Anak Itu Harus Punya Rumah Sendiri

Oke, masih di Pondok Mertua Indah. Sudah hari ke-10 sejak tanggal 1 September 2020 kemarin aku dan suami tinggal di rumah mertuaku. Jadi seperti yang udah aku ceritakan di seri #OneDayOnePost sebelumnya, aku dan suami berniat dua bulan tinggal di rumah mertua. Apakah bisa bertahan? Ternyata 10 hari aja udah drama. Nggak aku nggak berantem sama mertuaku. Mertuaku baik… baik banget sama aku. Tiap hari dimasakin, dibelanjaain juga, nggak ikut bayar listrik, bahkan aku nggak nyapu dan nggak ngepel pun woles.

Oh ya, sebenarnya tulisan ini sudah mulai aku bikin pada tanggal 9 September. Rencana mau upload tanggal 10 September. Nggak tahunya aku capek banget setelah pulang dari Sidoarjo. Perjalanan Madiun – Surabaya lumayan membuat lelah. Sampai rumah pukul 19.00 mandi, makan, nidurin Adna. Terus tidur. Mau buka laptop udah nggak sanggup. Ya, akhirnya ini pertama kali aku punya utang di #OneDayOnePost

 

Sebelum jadi Drama

Sejak menikah, aku dan suami tinggal di rumah orang tuaku bersama Ibuku aja. Ayahku udah meninggal. Dan adikku sedang kuliah di luar kota. Februari 2020 kemarin dia lulus. Aku desek dia dong buat segera cari kerja. Tapi adikku ini nego mau sebulan aja maksimal istirahat dulu. Eh, nggak tahunya sampai September ini dia belum dapat kerjaan. Bukan karena dia malas, bukan karena dia tidak punya potensi tapi karena dia terlalu idealis. Ya, akhirnya aku nyinyir juga sama orang idealis. Lah habis gimana, akhirnya dia tidak bisa melihat sesuatu yang sebenarnya adalah masalah yang harus diselesaikan.

Dibalik semua permasalahan yang ada di rumah orang tuaku, aku senang banget karena aku bisa lebih leluasa menerapkan gaya parentingku. Pertama karena Ibuku tidak mau ikut campur dan yang kedua semua bisa aku komunikasikan dengan baik sama Ibuku. Selain itu juga aku dan suami sebenarnya nggak sepenuhnya tinggal bersama dengan Ibuku. Aku, suami, dan anakku tinggal di lantai dua rumah orang tuaku. Lengkap ada dapur dan toiletnya juga. Jadi udah kaya rumah sendiri.

Masalahnya adalah aku juga nggak mau terlarut sama adikku. Dan kepinginnya adikku segera bantu aku jadi sandwich generation. Aku sendiri nggak ngerti apakah adeikku paham soal ini atau enggak. Saking jibeknya, akhirnya aku dan suami mutusin buat tinggal di rumah mertua. Maksudku, biar adikku ngrasain merawat Ibu tanpa aku.

 

Drama Parenting di Rumah Mertua

Nggak ada ruang pribadi selain kamar di rumah mertuaku. Dan nggak cuma Ibu serta Bapak mertua aja yang di rumah tersebut. Ada Uyut (Ibunya Ibu mertua), ada kakaknya suamiku. Otomatis, ada banyak intervensi parenting disini. Dan tidak semua gaya parenting bisa aku komunikasikan dengan mudah bersama anggota rumah. Untuk hal-hal di rumah mertua, akhirnya aku minta tolong suamiku untuk mengkomunikasikannya.

Perubahan yang paling keliatan yaitu ketika di rumah Ibuku Adna nggak pernah lihat TV karena TV aku sembunyikan, di rumah mertua bebas banget mau nonton kapan aja. Dan apa yang terjadi setelah 10 hari porsi nonton TV nya lebih banyak? Anakku yang biasa tidur jam 20.00 paling malam, di rumah mertua bisa sampek 23.00. Kalau cuma dua tiga hari aja sih, aku woles. Kalau dua minggu apa kaya gini terus?

 

Harus Punya Rumah Sendiri

Soalusinya memang harus komunikasi. Bagaimana kita memberikan pemahaman gaya parenting kita kepada orang-orang yang ada di rumah. Kalau komunikasi dianggap buang energi. Ya sudah, baiknya memang punya rumah sendiri.

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *