Cerita Ibu,  Jurnal Keluarga

Terjebak jadi Mom Influencer

 

Seperti yang aku bilang sebelumnya, di seri #OneDayOnePost ini aku mau cerita aja soal sehari-hari di rumah mertua. Hehehe. Tapi kok judulnya Terjebak di Dunia Influencer? Yes, sehari ini aku udah posting 3 iklan terus masih ada 3 iklan yang belum aku posting. Dan, semua barangnya dikirim ke rumah mertuaku.

Nggak sih, mertuaku baik kok nggak nyinyir aku dapet kiriman barang bertubi-tubi. Kakak iparku juga kebagian souvenir dari salah satu brand. Aku kasih ke dia sovenirnya soalnya nggak aku pakai. Udah intinya senang semuanya aku kelihatan punya kerjaan.

 

Pekerjaan Utamaku Ibu Rumah Tangga

Aku sempat bingung loh, sama pekerjaanku sebenarnya apa sih. Oke aku Ibu rumah tangga. Ibu dari anakku bernama Adna. Dan kebetulan aku punya lisensi pengacara. Memang profesi pengacara jadi kebetulan yang sudah dirancang orang tuaku. Nah, kebetulan juga aku suka nulis dari lama. Makannya blog ini ada.

Belakangan, setelah berbulan-bulan agak seret juga penghasilan kini mulai membaik. Alhamdulillah. Nah, setelah membaik aku jadi makin bingung sebenarnya pekerjaanku apa sih? Kok banyak banget yang aku kerjain ya. Mana akhirnya jadi nggak satu linier gitu loh mikirnya. Kenapa gitu?

 

Otak Kanan Kiri

Bayangin aja, influencer dan blogger itu kan zona kreatif ya. Kita dituntut bikin konten yang disukai sama audience. Ya memang ada logika dan Analisa terkait grafik pengunjung dan semacamnya sih. Tapi pekerjaan utamanya kan tentang kreatifitas. Dominan otak kanan dong. Nah, bagaimana dengan profesiku satunya?

Profesi hukum itu sebenarnya lebih banyak menggunakan otak kiri. Tapi, karena pengacara ada entertainnya jadi kaya semi-semi otak kanan juga. Sedangkan jadi Ibu rumah tangga harus seimbang antara otak kiri dan otak kanan. Nah, kadang itu aku kagum sendiri sama otakku kenapa tiba-tiba perbindah begitu cepat.

 

Keluarga Bahagia

Meskipun selama ini aku menikmati bagaimana otak kanan dan kiriku bekerja, tapi sebenarnya aku kadang agak pusing juga. Makannya nggak jarang kalau kerjaanku ada yang kurang rapi, tulisan banyak typo. Alhamdulillahnya ada suami yang selalu ngingetin.

Terjebak di dunia influencer, awalnya aku pikir ini profesi apa sih. Posting doang dapat bayaran. Eh, ternyata nggak gitu juga. Kita harus mikir gimana tampilan blog kita, tampilan IG kita. Dan mikir kreatif ternyata malah rentan emosi, loh. Begitu sih yang aku rasakan.

Kenapa? Karena sebenarnya kreatifitas itu tidak bisa dipikirkan. Tapi dirasakan. Nah, ketika aku terjebak di dunia blogger dan influencer, akhirnya profesi ini aku gunakan sebagai wadah untuk mengolah rasa. Selalu ada yawa di setiap kata. Sedangkan logikaku, aku asah di dunia pengacara. Ketika dua-duanya seimbang, aku lebih mudah menjaga bahagia dalam merawat keluargaku. Akhirnya, aku juga lebih mudah berkompromi dan berkomunikasi dengan mertuaku. Jadi bisa meminimalisir drama-drama seperti cerita yang ada umumnya. Kalau kamu gimana?

 

#OneDayOnePost

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *