Jurnal Keluarga,  Liburan

Tipis-tipis Bareng Keluarga di Desa Wisata Madiun Selatan : Raden Sekar

Sekitar bulan Agustus kemarin, aku dan keluarga nyobain jalan-jalan di Desa Wisata dekat rumah. Namanya Raden Sekar. Lokasinya dari rumahku daerah Kecamatan Dolopo, kabupaten Madiun, itu nggak sampai 10 km. Aku, suami, dan anakku, kami bertiga pergi ke sana naik motor.

Ok, ini update harianku untuk #OneDayOnePost. Kenapa nggak cerita soal rumah mertua lagi kaya post yang sebelum-sebelumnya? Jadi, suami itu kan saudaranya banyak. Kalau ngumpul bawaannya pengen main. Biar kami nggak bingung kalau ditanya enaknya main dimana, ya udah survey dulu aja. Biar kalau ditanya nggak bingung.

Aku pergi ke lokasi kalau nggak salah pukul 07.00 WIB. Waktu itu hari Minggu. Di kala Adaptasi Kebiasaan Baru nggak papa dong ya, nyicip dikit udara luar rumah. Hitung-hitung wisata tipis-tipis. Lagian selain kesehatan, kantong juga harus tetap dijaga. Dengan memilih tempat wisata dekat rumah, bisa menghemat uang bensin. Intinya, yang penting bisa hidup udara dengan nuansa berbeda.

Meskipun Raden Sekar ini lokasinya tidak jauh dari rumahku, tapi keadaan alamnya jauh berbeda. Daerah rumahku itu cenderung ramai karena memang dekat pasar. Bisa dibilang, daerah rumahku itu sekitar pusat kecamatan. Aku juga baru tahu ketika menelusuri perjalanan ke raden sekar ini kalau ternyata, kecamatan tempat tinggalku itu luas banget. Selain luas, rupanya juga ada daerah dataran tinggi dan hutan pohon jati yang tinggi-tinggi. Ya, meskipun datarannya lebih tinggi tapi juga masih agak panas, sih.

 

Pagi Waktu yang Tepat Untuk Berangkat

Nggak salah aku milih pergi ke Raden Sekar pagi hari. Kalau siang hari udah pasti panas dan kalau musim kemarau berdebu. Kalau pagi juga masih sepi pengunjung. Biasanya nih, kalau agak siangan banyak banget warga dari desa lain dateng itu pakai kereta kelinci. Bahkan sampai satu RT pada ikut. Ya maklumlah, ini semacam wisata untuk rakyat dari rakyat. Hehehehe

 

Apa sih yang ada disana?

Kalau dibilang lengkap sih ya nggak juga. Tapi kalau bisa dinikmati ya jelas bisa. Jadi apa aja yang ada di sana?

 

Kuliner

 

Di sekitar tempat parkir, banyak berjajar ruko dan orang-orang jualan. Paling banyak jual makanan. Waktu itu aku nggak beli, sih. Karena masih belum ngeh makanan apa yang enak disana. Oh ya, ada satu lagi yang jualan di dalam area wisata. Cuma satu toko aja. Menunya ala-ala angkringan gitu, sih.

 

Spot Foto

Sepertinya emang lagi musim ya, tempat wisata ada spot foto ala-ala gitu. Sebenarnya aku lebih suka foto dengan latar pemandangan yang alami. Dari pada dibuat-buat gitu spotnya. Tapi nggak apalah biar cantik dipajang di instagram.

 

Gashebo Santai

Saranku, kalau kesini bawa bekal aja. Banyak Ibu-ibu yang naik kerata kelinci bawa bekal. bahkan sampai bawa tikar buat dimakan di sekitaran bunga-bunga. Kalau aku sih, pilih makan smabil duduk di Gashebo. Jumlah Gashebonya juga sedanglah. Nggak sedikit cuma satu, dua. 10an mungkin. Lumayan juga bisa santai sambil menikmati pemandangan.

 

Bunga-bunga

Wisata utama di tempat ini Sepertinya memang taman bunga yang jadi tampilan utama. Jadi kalau ditanya, Raden Sekar itu apa? ya taman bunga. Bunga-bunga atau tanaman-tanaman disana ditata rapi jadi bikin mata seger.

 

Area Kelinci

Nah, area kelinci itu bentuknya kelinci dibebaskan di area yang luas dengan berbagai ornamennya. Kemudian, pengunjung terutama anak-anak bisa bermain kejar-kejaran bersama kelinci. Sayangnya, banyak kelinci yang kasihan karena dibuat mainan anak-anak.

 

Dan Berbagai Hiburan Lainnya

Masih banyak lagi sarana hiburan lainnya. Seperti motor yang dinaiki anak di gambar bawah ini. Sayangnya sih, nggak dikasih helm. Terus ada ayunan, jungkat-jangkit kaya gitulah. Dan ada hiburan panggung seperti dangdut atau tari-tarian.

 

Jadi, Worth It Nggak?

Nilai sendiri aja ya. Dengan tiket seharga Rp 5000 / 5k / limaribu rupiah, Buibu dan Pakbapak udah bisa dapetin fasilitas yang aku jabarin di atas. Oh ya, tambah parkirnya 2k aja. Gimana minat nggak dateng kesini?

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *