Cerita Ibu,  Jurnal Keluarga

Perjalanan ASI Untuk Memberikan Nutrisi Terbaik Sang Buah Hati

Aku percaya bahwa ASI merupakan nutrisi terbaik bagi si buah hati. Aku pribadi merasakan manfaat ASI yang luar biasa dari Ibuku atau sekarang menjadi utinya anakku. Ibuku berhasil memberiku ASI hingga usia dua tahun. Dan manfaatnya sekarang yang paling terasa adalah aku nggak gampang sakit. Jelas nggak mau kalah sama Ibuku. Aku juga kepengen dong bisa kasih ASI ke anakku sampai dua tahun penuh.

QS al-Baqarah [2] ayat 233 yang artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya”.

Bagiku, memberi ASI tidak hanya sekedar membuat anakku kenyang di awal kehidupannya. Selain nutrisi yang baik, ASI juga tentang bagaimana Ibu membangun ikatan emosional dengan buah hatinya.  Memberikan ASI, merupakan perjalanan spriritual yang membuatku kembali belajar bagaimana seharuanya bersikap sebagai Ibu. Allah, lewat Al Quran juga sudah menganjurkan para Ibu untuk menyusui selama dua tahun. Kalaupun nggak sampai dua tahun juga nggak papa. Allah tidak akan membebankan dosa seperti yang tercantum pada Al-Baqoroh (2) ayat 233.

Lalu bagaimana prosesku dalam memberikan ASI anakku? Oke, aku cerita dikit ya….

 

Belajar Sejak Masa Kehamilan

Kebetulan Ibuku merupakan kader posyandu sekitar rumah. Sering kali Ibuku bercerita tentang anak-anak di posyandu yang tidak diberi ASI. “Apa susahnya sih, ngasih ASI. Wong setiap perempuan itu punya ASI,” begitu keluh Ibuku. Setelah aku hamil, akhirnya aku belajar tentang parenting. Mulai dari tema kehamilan sampai merawat bayi, aku pelajari. Ternyata, memang nggak sedikit Ibu yang mengeluhkan kalau memberi ASI itu susah. Oleh karenanya, belajar itu penting banget. Meskipun teori tidak semudah praktik.

ASI pada 3 Malam Pertama

Aku inget banget ketika anakku lahir terus Ibuku dan mertuaku malamnya tidak lagi jagain kami di Rumah Sakit. Akhirnya hanya ada aku, suamiku, dan anakku yang baru mengenal dunia itu. Oh ya, waktu itu kami ada di kamar kelas 3, karena di rumah sakitnya hanya kamar itu yang tersisa. Sebenarnya memang ada kesalahan teknis waktu reservasi. Mau pindah rumah sakit juga, sudah bikin janji sama dokternya. Waktu itu ya udah nggak bisa complain juga sih, rasanya udah bisanya menerima aja yang penting anakku lahir dan kami selamat.

Bayangin di kamar kelas 3, dengan 3 pasien lainnya. Anakku lahir siang pukul 11.00 WIB. Malamnya, anakku rewel dan aku belum bisa melakukan pelekatan puting dengan sempurna. Berulang kali diajari susternya masih aja salah. Apalagi bayi masih merah itu kan belum kencang ya. Suamiku juga bingung merespon anakku setiap kali menangis. Kami juga nggak bisa bedain mana tangis buang air, lapar, atau lainnya. ASIku juga belum keluar sempurna.

Esoknya, aku harus rela anakku diberi susu formula 20 ml karena dia demam. Sempat sedih sih, tapi aku terus bilang ke suami kalau aku ingin sekali bisa menyusui. Akupun terus berdoa agar dipermudah dalam memberikan ASI. Setelah anakku diberi formula 20 ml, dia terus tidur pulas. Aku nggak langsung santai tidur gitu aja. Aku pompa ASI-nya agar keluar. Alhamdulillah hari ketiga kelahiran anakku ASI sudah mulai bancar. Ibuku mencontohkan tehnik pelekatan dengan benar. Alhamdulillah sejak itu ASI tidak ada kendala.

 

Ketika Tak Punya Stok ASIP

Awal menyusui, bisa dibilang stok ASIku melimpah. Jadi nggak ada masalah kalau aku tinggal sidang. Sayangnya, aku tidak punya tempat penyimpanan yang mumpuni. Selama ini, aku simpan ASIP di freezer kulkas pintu satu. Tentu nggak bisa awet lama dong ya. Mau beli baru ya jujur masih mikir dana. sampai anakku usia 12 bulan, stok selalu cukup. Sehari sebelum berangkat aku masih bisa mempersiapkan ASIP fresh.

Belakangan, aku sudah nggak bisa stok lagi karena jarang pompa. Apalagi kondisi pandemi seperti ini juga jarang sekali aku keluar rumah. Akhinya ya susah banget mau sedia ASIP. Tiga pilihan dihadapkan padaku antara lain dibantu susu formula, ajak anak kerja, atau mengurangi intensitas kerja. Dan ternyata Allah memberikan kerjaan lebih banyak lewat online. Jadi bisa dikerjain di rumah. Sesekali memang ada acara di luar rumah juga urusan kerja. Mau gimana lagi, mau tidak mau anaknya aku ajak juga. Bahkan sampai sempat ke luar kota.

 

Tekat dan Dukungan Harus Kuat

Pada akhirnya, memberikan ASI merupakan suatu tekat. Dan agar Ibu lancar menyusui dibutuhkan dukuangan kuat. Aku memtuskan untuk meminimalisir pekerjaan yang mengharuskan keluar rumah karena tidak sanggup stok ASI lagi. Sebenarnya, solusi lain bisalah konsultasi. Tapi aku lebih memilih untuk mengurangi pekerjaan dulu. Dua tahun ini, aku investasikan untuk membangun kelegatan yang begitu dalam dengan anakku tersayang.

 

#OneDayOnePost

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *