Hukum Keluarga,  Jurnal Keluarga

Hak-hak Perempuan yang Bisa Dituntut Saat Perceraian

Rabu, 16 September 2020

Hari ini tadi, di salah satu WAG kumpulan emak-emak ada yang cerita tentang pelakor dan juga cerita tentang asal mula status jandanya. Intinya, dia janda karena bercerai dengan suaminya lantaran suaminya sudah punya kekasih lain. Alhamdulillahnya, si pencerita ini sudah dalam kondisi emosi yang stabil. Dia sudah jauh lebih bahagia. Ceritanya jadi nggak melo-melo malah memberikan semangat buat perempuan lain apa lagi yang sedang mengalami hal serupa dengan dirinya.

 

Perceraian Bikin Bahagia

Aku disclaimer dulu ya. Pada dasarnya, aku tidak mendukung perceraian. Bahkan aku sempat resah sebagai pengacara di sekitaran Madiun yang lebih sering menangani kasus perceraian. Bener nggak sih kerjaanku ini nyerain orang. Tapi memang kadang Tuhan punya maksud tersendiri dalam amanah yang Dia beri. Dari cerita teman-teman WAG ini, aku jadi tercerahkan bahwa ada memang suatu hubungan yang harus diakhiri dengan perceraian.

Sorenya, aku ikut zoom-nya #SaveJandangobrol bareng salah satu LBH di Jakarta bahas soal hak-hak perempuan setelah perceraian. Tujuanku ikut, sebenarnya ingin menggali sudut pandang dari penyitas janda. Ternyata stigma masih banyak bermunculan di masyarakat. Dan itu faktor utama yang menyebabkan proses perceraian secara hukum terhambat. Padahal tidak sedikit kejadian yang sudah parah banget tapi tetap nggak berani cerai karena takut omongan orang, anak, dan lain sebagainya. Wajar. Karena ini adalah pilihan berat.

Sebagai perempuan, empatiku muncul. Sempat sih, bertanya koko tega, kenapa begini, atas kejadian-kejadian yang sering aku dengan. Seperti cerita seorang perempuan hamil 8 bulan perutnya ditendang oleh suaminya sendiri. Tidak diberi nafkah oleh suami dan ditinggal begitu juga tanpa kabar sama sekali. Toxic relationship memang benar-benar nyata terjadi. Ada yang memilih bertahan. Namun tidak sedikit yang memilih mengakhiri hubungan. Mengakhiri pernikahan, artinya mengakhiri hubungan hukum berdasarkan UU Perkawinan. Aku ucapkan selamat bagi perempuan yang berhasil menemukan bahagia dengan caranya sendiri.

 

Hak-hak yang Bisa Dituntut Saat Perceraian

Perceraian mengakibatkana danya perpisahan antara dua pasangan yang pernah menikah, memiliki anak bersama, memiliki harta bersama, dan terikat dalam suatu ketentuan perundang-undangan. Setelah cerai, kepemilikan jadi milik sendiri-sendiri. Lalu, bagaimana perempuan mendapat miliknya kembali. Apa yang bisa didapat perempuan secara hukum setelah menikah? Aku paparkan satu-satu ya…

 

Hak Asuh Anak

Apabila anak usianya kurang dari 12 tahun, maka hak asuh anak langsung jatuh ke tangan Ibu. Dan setelah 12 tahun, anak berhak memilih ikut Ayah atau Ibu. Tapi memang ini tidak mutlak. Kalau bisa dibuktikan Ibu tidak bisa merawat dengan benar si anak, maka Hak Asuh bisa ke tangan Ayah. Perlu dicatat, Ibu bekerja tidak dianggap tidak bisa merawat anak. Yang dianggap Ibu tidak bisa merawat anak misalnya karena Ibunya gila, terkena kasus pidana, dan lain sebagainya.

 

Harta Gono-gini

Harta gono-gini ini harta yang didapat setelah pernikahan yang dilakukan tanpa perjanjian pranikah. Tentang perjanjian pranikah sudah aku jelaskan disini ya. Nah, kalau harta gono-gini ini pembagiannya rata sekalipun pihak isteri yang cari duit lebih banyak. Kecuali kalau udah ada perjanjian pranikah ya milik isteri milik isteri sendiri, suami ya suami sendiri terganting bagaimana klausul perjanjian pranikahnya.

 

Nafkah Anak

Orang tua yang bercerai tidak berarti bercerai dengan anaknya. Kedua orang tua harus tetap memberi nafkah lahir batin meskipun hak asuh tidak ada di tangan. Nah, nafkah anak ini emang agak memusingkan karena kalau Ayahnya tidak memberikan nafkah juga proses hukumnya susah.

 

Mut’ah

Mut’ah ini macam hadiah atau tanda terimakasih. Nominalnya terserah. Tapi suami bisa nggak kasih kalau bisa buktiin isteri itu memangkang selama pernikahan.

 

Nafkah Iddah

Nafkah iddah adalah nafkah yang diberikan selama masa iddah selama 3 bulan. Besarannya tergantung berapa hakim mengabulkan.

 

Semoga Pernikahan Kita Selalu Dilindungi

Aku hanya share ilmu ya. Kalau harapannya sebenarnya pernikahan kita selalu dilindungi, selalu diberi petunjuk oleh Sang Pencipta.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *