Essai Hukum,  Jurnal Pengacara

Kaburnya Fakta Membuat Hukum Tak Mampu Bicara : Inspirasi dari Film Cream dan Tilik

Teman jihan, udah nonton film pendek Tilik dan Cream belum? Kalau belum, coba deh nonton. Kalau sudah, yuk kita diskusi bersama. Banyak point of view yang bisa kita bahas dari dua film tersebut. Mungkin itu salah satu faktor kenapa dua film tersebut bisa viral. Ya, dilihat dari manapun kedua film ini memang begitu relate dengan keadaan yang terjadi saat ini. Terlebih Tilik. Walaupun sederhana, tapi ngena. Ocehan khas ibu-ibu dengan Bahasa Jawa di atas truk mengingatkan kita pada realita yang ada. Bahwa derasnya arus informasi saat ini menjadi selalu unik untuk dibicarakan meskipun kebenaran belum bisa dibuktikan.

 

Hukum Itu Tentang Pembuktian Kebenaran

Oke. Sebelum aku cerita banyak tentang filmnya, kita samakan dulu kerangka berpikir kita. Aku menulis postingan ini pun berangkat dari logika hukum. Logika dimana setiap peristiwa itu merupakan fakta yang bisa dibuktikan dengan panca indra. Logika hukum sederhananya begitu. Idealnya, setiap hal yang lihat, dengar, atau mungkin kita lakukan merupakan sebuah peristiwa. Masalahnya, peristiwa itu belum tentu fakta. Agar peristiwa itu merupakan fakta, maka harus dibuktikan keberadaannya. Setiap fakta dan peristiwa, belum tentu ada unsur hukumnya. Harus ditelaah lagi dengan peraturan yang ada.

 

Mengaca dari Film Tilik

Tilik merupakan Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesianya adalah menjengku. Apa yang unik dari peristiwa menjenguk sehingga diangkat dalam film ini? Tonton dulu fikmnya kalau ingin nonton lagi.

Judul             : Tilik
Sutradara     : Wahyu Agung Prasetyo
Produser       : Elena Rosmeisara
Penulis          : Bagus Sumartono
Produksi       : Ravacana Films
Pemeran       : Siti Fauziah, Brilliana Desy, Angeline Rizky,Dyah Mulani, Gotrek, Trisudarsono
Durasi           : 32 menit
Tanggal rilis : 2020 (Youtube)
Asal negara  : Indonesia
Bahasa          : Jawa

 

Dinamika Sosial yang Membentuk Hukum

Keunikan pertama adalah tentang fenomena sosial atau kebiasaan sosial dari kesusilaan atau nurnai yang timbul dari masyarakat Tilik itu sendiri. Dimana lagi coba ada sekelompok Ibu-ibu dengan iklas menjenguk salah satu warga desanya yang sakit dengan jarak tempuh yang tidak bisa dihitung menit. Terlebih, menggunakan kendaraan truk terbuka pula yang seharusnya untuk angkut barang bukan angkut orang.

Sebagai orang Jawa asli yang dari lahir tinggal di Madiun, aku akrab sekali dengan budaya ini. Rumahku di Madiun kebetulan masih terbilang kota jarang sekali warga sekitar Tilik dengan kendaraan bak terbuka. Apalagi pas merantau di Surabaya. Nah, di daerah yang agak pegunungan sana masih banyak masyarakat dengan budaya Tilik menjenguk salah satu warganya dengan truk bak terbuka. Bahkan tidak hanya saat menjenguk. Saat pengajian atau berkunjung ke Kyai keagungan, juga sering demikian.

Menuju suatu tempat yang jauh dengan menggunakan kendaraan truk tentu saja salah di mata hukum. Tapi, siapa yang bisa mengalahkan nurani Ibu-ibu ini yang memiliki niat baik untuk menjenguk salah satu warganya? Polisi-pun kalah. Bukan bermaksud menjatuhkan polisi juga ya. Aku sih lebih ngeliatnya, opini masyarakat sebenarnya yang lebih kuat dalam membentuk aturan itu sendiri dibandingkan aturan yang ada di kertas dan disahkan oleh negara.

Banyak hukum berbelok karena memang opini jauh lebih membumi dari pada aturan hukumnya sendiri. Apakah ini salah? Kalau aku sih nggak perlu banyak berdebat soal banyak salah ya, kaya kita ini orang yang paling benar aja. Ya, balik lagi dengan logika hukum di awal tadi. Peristiwa itu, fakta bukan. Buktinya apa? Fakta memang, ada masyarakat yang menjenguk salah satu warganya dengan truk terbuka. Apakah itu merupakan fakta hukum? Pertanyaannya lagi, kita mau merujuk hukum yang mana? Kalau hukum berdasar Undang-undang jelas salah. Tapi, kalau hukum berdasar suara masyarakat gimana? Lebih dalam lagi, bagamana dengan suara Tuhan. Duh, berat kalau bahas yang ini.

 

Suara-suara yang Mengalahkan Kebenaran

Dalam hukum, sesuatu yang dianggap benar merupakan sesuatu yang bisa dibuktikan. Setelah nonton, tahu kan ya kalau film Tilik itu mengangkat isu tentang kebenaran suatu informasi yang dikemas dengan gaya gunjingan ala Ibu-ibu. Kalau aku pribadi memperhatikan di lingkungan sosial, pada dasarnya Ibu-ibu itu senang membicarakan sesuatu. Entah itu bergunjing, atau sekedar saling curhat. Pada umumnya senang berbicara saat bertemu kawan-kawannya.

Nah, dalam film Tilik ini ketika sekolompok Ibu dalam satu bak truk bersama-sama ingin Tilik ke Bu Lurah sedang asik membicarakan seorang gadis bernama Dian. Topik Dian menjadi pembicaraan panjang lantaran ada sangkut pautnya sama anak Bu Lurah yang mau ditilik itu tadi. Tokoh Bu Tejo memiliki peran sentris dalam menyebarkan informasi tentang Dian yang dia dapat dari internet.

Derasnya arus informasi saat ini, mampu membuat kita tahu banyak hal tapi belum tentu yang kita tahu itu benar. Saat teman kita memasang foto bahagia dengan anaknya di instagram apakah keadaannya benar-benar bahagia? Ternyata belum tentu. Begitupun dengan informasi soal Dian yang disebarkan Bu Tejo belum tentu benar adanya, kan? Dan itu sering kali tidak disadari orang kebanyakan.

Yu Ning, tokoh yang lain berusaha untuk menengahi respon Ibu-ibu atas informasi yang disebarkan Bu Tejo. Yu Ning sendiri tidak berupaya meluruskan informasi tersebut karena belum tahu juag kebenarannya. Tapi Yu Ning berupaya mengajak Ibu-ibu agar lebih bijak merespon berita. Kaitannya dengan hukum apa? Ya memang beginilah yang terjadi di kehidupan kita. Seseorang bisa saja menuduh orang lain dengan bukti yang belum tentu valid. Apakah tuduhan tersebut bisa diproses hukum? Jika bukti-buktinya valid. Tapi bagaimana jika bukti-buktinya dirancang agar valid? Hehehe….

 

Mencerna Fakta dalam Film Cream

Film animasi pendek berdurasi hanya 10 menit ini menceritakan sebuah produk andal yang ditemukan oleh ilmuwan bernama Dr. Belliefer. Produk tersebut mampu memberikan solusi dari pemasalahan setiap orang termasuk kematian. Korporat berdasi dengan kepentingannya, tidak setuju produk cream tersebar di masyarakat luas. Para korporat ini membayar media untuk memberitakan bahwa cream merupakan produk penyebab 3 jenis AIDS, terorisme dan pembuat cream sendiri dituduh pemerkosa.

Judul           : Cream
Sutradara    : David Firth
Produser     : David Firth
Pemeran     : David Firt, Carla Simpson, Christian Webb, Flying Lotus
Penulis       : David Firth
Durasi        : 10 menit
Negara       : Inggris
Bahasa       : Iggris

Kesempurnaan Adalah Ketidak Sempurnaan Itu Sendiri

Manusia berotak cerdas, sering kali berpikir tentang bagaimana seharusnya, bagaimana idealnya, bahkan sampai bagaimana agar manusia bahagia tanpa masalah. Itulah sebabnya muncul alat ataupun produk yang menawarkan solusi untuk mencapai bahagia itu sendiri. Dan Cream dalam film karangan David Firth ini, hadir dengan menawarkan solusi dari berbagai masalah yang dialami oleh manusia. Mulai dari masalah ekonomi sampai masalah mental sekalipun.

Apakah produk ini benar-benar menciptakan kebahagiaan sesungguhnya? Terlepas dari pemberitaan bahwa produk tersebut merupakan penyebab AIDS, terorisme, dan kriminal lainnya nyatanya memang banyak sekali iklan ataupun produk-produk yang menawarkan kebahagiaan saat ini. Cream mampu memberikan solusi dari berbagai permasalahan. Tapi kesempurnanaya, membuat ledakan yang juga sempurna. Terlepas benar atau tidaknya isu negatif tentang cream tad ya. Coba bayangkan di dunia nyata sekarang ini. Dengan berbagai alat canggih yang ada, apakah hidup ini berubah menjadi sempurna?

Sama halnya, dengan produk hukum seperti peraturan perundang-undangan. Ahli hukum pasti sudah berpikir bagaimana aturan ini bisa berjalan ideal. Tapi nyatanya…. kita tahu sendiri kan. Kesempurnaan itu seperti angan-angan. Menurutku, sebagus apapun hukumnya ya memang beginilah dunia. Ada saja sisi buruknya. Bisa jadi, kesempurnaan adalah ketidak sempurnaan itu sendiri.

 

Kepentingan Kita Dibatasi Kepentingan Orang Lain

Sesungguhnya, tidak ada yang namanya kebebasan mutlak. Karena kita dibatasi oleh kepentingan orang lain. Pun, dalam film Cream kita juga bisa belajar bahwa sebenarnya tidak ada produk yang canggih. Tidak ada sesuatu yang terbaik. Ada batasnya yaitu kepentingan orang lain. Dalam hal ini adalah, kepentingan orang berdasi yang tidak ingin kesempurnaan itu ada. Dalam film tersebut sekelompok orang berdasi, digambarkan memiliki kepentingan komersial dari masalah orang. Sehingga mereka tidak setuju produk Cream hadir untuk memberikan berbagai solusi dari semua masalah termasuk peperangan, kelaparan, hingga penindasan.

 

Mana Tokoh yang Benar dalam Film Cream?

Benar nggak sih, tindakan Dr. Belliefer menciptakan produk Cream? Niatnya baik juga untuk memberikan solusi dari setiap masalah yang didera manusia. Apakah sekelompok orang yang tidak setuju dengan hadirnya Cream itu tidak tepat? Kalau Cream memang benar memberikan efek buruk yang begitu signifikan, masalahnya apakah memang benar Cream yang niatnya baik dibalik itu ada efek buruknya? Balik lagi ke hukum Kesempurnaan adalah Ketidak Sempurnaan Itu Sendiri.

Jadi kalau hukum itu adalah tentang kebenaran, mana yang benar dalam film Cream ini? Aku sedikit cerita tentang pengalamanku sebagai wartawan saat liputan kasus hukum yang isunya diangkat dalam pemberitaan Nasional.

Nah, aku memposisikan diri sebagai penonton dimana ini adalah pertunjukan Jaksa yang mengungkap kesalahan terdakwa dan Pengacara yang mengungkap kebenaran terdakwa. Mereka beradu saksi, ahli, dan juga bukti. Mana yang paling benar? Sebagai alumni Fakultas Hukum, aku berpendapat dua-duanya secara logika hukum itu benar.

Ibarat A merasakan apel sisi kiri yang asam. Sedangkan B merasakan apel sisi kanan yang manis. Kalau ditanya apel yang itu rasanya apa? Jawaban mereka jujur sesuai yang dirasakan, siapa yang benar? Kalau di pengadilan Hakim yang memutus kebenaran itu.

Akhirnya kalau kita balik ke film Cream, kita nggak bisa menghakimi mana yang benar dan yang salah. Apakah si ilmuwan atau si korporat. Yes, sering kali ini terjadi di kehidupan kita. Salah dan benar terlalu absurd untuk dipikirkan.

 

Tenang, Ini Hanyalah Hiburan

Lucu. Dua film tersebut, di akhir cerita menghasilkan plot twist yang begitu apik. Kalau kita mengikuti Tilik, sepertinya Bu Tejo ini penebar hoaks. Nggak nyangka kalau infonya Bu Tejo valid. Namanya juga hiburan.. Tapi kan kelompok Ibu-ibu yang Tilik di atas truk tadi nggak tahu apakah benar Dian memang seperti yang dikatakan Bu Tedjo. Bahkan Bu Tedjo juga belum tentu tahu benar.

Sedangkan pada film Cream, ketika animasi digambarkan begitu horor seolah suasana di negara itu pada zaman itu mencekam. Bahkan udah kaya bongkar teori konspirasi. Ternyata, kita masih ada pada realita hari ini. Cream hadir untuk mempercantik wajah nggak lain-lain.

Aku sering terjebak dalam pergukalatan pikiran salah benar. Tapi dengan menulis sebagai hiburan, ya hidup ini bisa dibilang candaan. Dan aku melihat bagaimana Tilik dan Cream mengatakan tidak usah serius-serius sama hidup ini. Nikmati saja….

 

#OneDayOnePost

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *