Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

17 Bulan Usia Adna, Sampai Lupa Teori Parenting Apa yang Aku Terapkan

Alhamdulillah, anakku sudah 17 bulan. Bentar lagi udah 18 bulan. Rencana, update milestonenya kalau udah usia 18 bulan. Karena di montessori 18 bulan itu kaya usia perpindahan. Periode sensitivenya udah mulai kompleks lagi. Aku berterimakasih sama Allah udah ngasih anak yang Alhamdulillah cerdas banget menurutku. Akupun agak bingung kalau diminta menjelaskan metode parentingku. Yang jelas, aku sering baca-baca tenteng montessori, prinsip cinta dari Najle Shihab, dan fitrah based edu. Aku peling ngena dengan fitrah based adu.

Dari bangun pagi tadi, sampai malam ini aku menuliskan blog post ini aku tengah terkagum-kagum dengan perkembangan anakku yang begitu pesat. Kalau Buibu atau Pakbapak merasa yang aku tulisakan tentang anakku ini biasa aja, dan tampaknya lebih hebat anaknya Pakbapak atau Buibu…. ya aku nggak mau berdebat soal itu, sih. Aku cuma pengen mencurahkan rasa syukurku aja melihat tumbuh kembang anakku.

Ok, hari ini aku masih di rumah mertua. Sedikit terkendala untuk stimulasi rutin seperti di waktu di rumah dulunya. Tapi nggak apa, keuntungnnya lebih banyak yang perhatian sama anakku. Kita memang nggak bisa minta segala sesuatunya jadi ideal dan sempurna. Aku merasa lebih beruntung karena sebelum aku tinggal lama di rumah mertua ini, aku udah susun rutinitas anakku dan aku ajarkan pola-pola sederhana untuk mengasah ketrampilan hidup.

 

Tertarik Dengan Aktifitas Rumahan

Waktu di rumah yang dulu, emang sih tinggalnya sama Ibuku. Cuma ibuku di lantai 1 dan aku di lantai dua sama anak dan suamiku. Jadi, Ibuku nggak banyak intervensi sama keluarga kami. Tantangan banget aku harus ngurus anak sama suami berdua. Aku titipkan, hanya pas aku kerja. Itupun pukul 08.00 – 13.00 WIB. Sedangkan Ayahnya sampai pukul 17.00 WIB.

Nah, selama Ayahnya belum pulang kerja aku dan anakku sering menyelesaikan tugas rumah berdua. Dia aku libatkan cuci piring waktu pagi. Kebetulan kan, cuci piringku di bawah gitu. Jadi anakku bisa ikut sambil main air. Basah-basah nggak apa, nyatanya dia juga lama-lama tahan. Begitupun pas aku nyuci, sampai nyapu sekalipun anakku juga ikutan. Kecuali setrika ya, karena itu masih bahaya menurutku dan kami setrikanya di laundry. Masak anakku masih ikut. Meskipun cuma sekedar pindahin bawang dari wadah satu ke wadah satunya.

Anakku mainnaya termasuk dikit. Karena ya itu, lebih sering bermain dengan cara mengikuti aktifitasku. Hasilnya, pagi-pagi dia peka banget kalau lihat halaman rumah kotor. Ambil sapu kecil miliknya, terus nyapu. Ya, meskipun masih berantakan aku nggak pernah marah. Namanya juga masih bealajar. Aku nyuci baju pun dia paham gerakan mengucek itu kaya gimana. Jadi selalu ikutan ngucek dengan semangat.

 

Teratur dalam Rumah

Aku selalu membiasakan untuk teratur di dalam rumah. Mulai dari kegiatan bangun tidur sampai tidur lagi itu apa aja. Terus juga penempatan barang-barang kaya sepatu, topi, jaket, aku usahakan aku letakkan yang mudah dia jangkau. Sekarang dia paham, kalau mau pergi ambil perlengkapan apa saja. Terus tempatnya di mana aja. Nah, di rumah mertua aku usahakan juga seperti itu meskipun agak susah karena barang di rumah mertua terlalu banyak.

Bahkan anakku sekarang tahu apa aja yang dilakuin kalau mau tidur. Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, sikat gigi, ganti diapers, ganti baju, dan sampai lelap dia paham betul. Dimana letak minum, dan mainnya dia juga paham.

 

Makan Dengan Sendok

Aku juga biarin anakku makan dengan sendok meskipun masih kocar-kacir. Tapi, aku kasih itu pas jam makan siang. Jadi habis makan siang terus mandi. Selalu seperti itu. Bagiku susah sekarang nggak apa, gampang nanti pas dia besar.

 

Minum Sendiri Dengan Gelas

Alhamdulillah belum ada gelas yang pecah meskipun anakku sering minta gelas kaca untuk minum. Tentu ini karena koordinasi motoriknya bagus. sekarang minumnya juga udah nggak tumpah-tumpah. Tapi sayangnya, kalau bawa cangir bergagang kadang masih gag sadar kalau dalamnya ada air terus dia tarik gelasnya dan airnya tumpah. Ya sudah, masih belajar.

 

Kosa Kata Beragam

Bebek, bobok, mimik, gajah, cicak, mama, papa, bapak, pakpoh, lepas, sudah, dan lain-lain sudah bisa anakku ucapkan. Alhamdulillah kosa katanya beragam. Aku dan suami sering kali mengajak dia ngobrol sambil menggunakan tekanan sehingga artikulasi setiap suku kata jelas dan mudah ditirukan. Selain itu, kata temanku yang spikolog ketrampilannya oral motor juga pengaruh. Seperti ketrampilan mengunyah, meniup, dan lain sebaginya. Nah, Alhamdulillah anakku udah bisa ngunyah kacang di usia ini. Itu prestasi loh. Dia juga udah bisa kumur dan meniup lilin. Itu juga bagian dari ketrampilan untuk anak bisa bicara.

 

Lari-lari Sampai Panjatan

Ini yang sering dikeluhkan Ibuku dan mertuaku. Anak perempuan kok sukanya manjat-mnjat. ya memang milestonenya mau bagaimana lagi. Aku nggak pernah neriakin yang gimana-giman kalau dia lari-larian atau panjatan meja kursi. Aku perhatika aja, sambil aku awasi. Ayahnya malah nyemangatin dia kalau larinya kenceng. Pengen sih, belikan pikler atau bakriasi. Biar aktualisasi dirinya tersalurkan. Tapi sek bentar dulu karena rumah belum punya. Kalau beli bingung mau ditaruk dimana. Hehehe

 

Menghargai Setiap Apapun Yang Dilakukan Anak

Kecuali memukul dan menghardik ya, aku larang keras banget. Tapi Alhamdulillah nggak pernah. Kalau masih dalam tahap mengembangkan ketrampilan dirinya aku masih oke dan berupaya menjaganya. Seperti naik-naik meja kursi itu tadi. Aku nggak pernah mematahkan dengan bilang, “Awas! Nanti jatuh, loh!”

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *