Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Anak Pintar Jangan Dibohongi

Senin, 21 September 2020

#OneDayOnePost, masih di rumah mertua. Nggak kerasa udah hampir sebulan aja. Karena anakku udah punya pola, jadi gampang aja tinggal disini. Parentingnya anakku tetap bisa aku kuasi. Ya, kendala sebenarnya masih sama TV dan pengalihan perhatian dengan membohongi. Ha, gimana maksudnya?

Sebelum aku cerita panjang, seperti biasa aku mau disclaimer dulu. Baik, ini memang tulisan tentang parenting. Tapi maaf aku menuliskannya tanpa mencantumkan pendapat dari orang yg ahli seperti psikolog misalnya. Tulisan ini terinapirasi dari pengalamanku mengasuh anakku sendiri dengan landasan logikaku sendiri. Meski ada intervensi dari buku yang aku baca, mungkin aku lupa buku yang mana.

 

 

Kisahku Dengan Kebohongan

Aku pernah membentak ibuku (jangan ditiru) karena membohongiku. “Ojo ngapusi to, buk!” dalam Bahasa Indonesia artinya “Jangan berbohong, Ibu!”.  Kenapa ibuku berbohong? Tujuannya biar masalah cepat kelar dan aku nggak banyak lagi pertanyaan. Tapi tetap aku tidak terima saat aku tahu kebenarannya.

Pada puncaknya, Ibuku akhirnya tidak pernah lagi membohongiku. Itupun setelah aku sudah menikah. Nah, ketika aku titipin anakku, sering kali aku mengingatkan Ibu agar tidak berbohong pada anakku sekecil apapun itu. Misalnya, saat anakku ingin main air tidak dibolehkan dibohongi kalau main air nanti dimarahi tukang PDAM. Selain bohong, nggak logis pula.

Komunikasiku dengan ibuku soal pengasuhan relatif gampang. Iya, karena aku paham gaya berkomunikasi dengan Ibuku sendiri. Dan ibuku juga, ngikut aja gaya pengasuhanku. Memang jadi masalah sendiri sama mertua karena kadang aku yang masih sungkan dan takut dianggap sok pintar.

 

Tidak Ingin Kuulang dengan Anakku

Nah, aku nggak pengen pengasuhan metode pengalihan perhatian dengan kebohongan diteruskan pada anakku. Menurutku boleh, mengalihkan perhatian untuk menghindari hal-hal bahaya seperti saat anak bermainn colokan listrik. Cuma ya nggak dengan kebohongan juga. Ya dengan sesuatu yang memang ada. Misalnya dialihkan perhatiannya dengan kucing lewat ya karena memang ada kucing lewat.

Soal mengalihkan perhatian dengan kebohongan ini aku agak sensitif memang. Menurutku meskipun kecil dan niatnya baik, kebohongan tetap tidak bisa ditolelir. Dan anakku anak yang cerdas. Nggak bisa dialihkan dengan kebohongan apalagi yang nggak masuk akal. Ya, aku nggak mau membunuh akal cerdasnya dong. Aku juga nggak mau dia terlalu sekit hati karena sering dibohongi. Bahkan meniru untuk berbohong.

 

Melibatkan Mertua Dalam Pengasuhan

Emang orang tua zaman dulu suka mengalihkan perhatian dengan kebohongan ya? Mertuaku juga gitu ternyata. Nggak cuma orang tuaku aja. Masalahnya, aku kurang bisa mengkomunikasikan prinsip parentingku sama mertua. Suamiku sendiri ya udah mengusahakan sih, tapi ya namanya anak laki-laki kayaknya beda sama anak perepuan.

Dan, akhirnya…. hari ini aku berhasil mengkomunikasikan ketidak sukaanku pada pengalihan perhatian dengan kebohongan. Nggak berujung drama, sih. Mertuaku akhirnya mikir juga demi kebaikan cucunya. Ya, memang kunci dari pengasuhan selain belajar ya mengkomunikasikan dengan pendukung pengasuhan yang ada. Orang tua dan mertua misalnya.

Jadi, jangan keburu baper kalau ada masalah sama mertua. Dicari apa masalahnya, dan komunikasikan. Menurutku memang yang sulit itu mengkomunikasikan. Ya, belajar. Dari pada dipendam bikin dendam. Nggak baik juga buat iklim pengasuhan.

#OneDayOnePost,

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *