Jurnal Pengacara,  Wajib Tahu

Mengurus KIA Anti Ribet Tanpa Calo

Awal Juni 2020 ini, akhirnya aku membuat Kartu Identitas Anak (KIA) untuk anak pertamaku (ya, emang anakku cuma satu Adna aja). Awalnya, aku pikir ngurusnya ribet banget. Ternyata enggak sama sekali. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Madiun relatif sepi. Selain karena masyarakat yang urung keluar rumah, pelayanan juga dibatasi. Akhirnya nggak sampai nunggu lama Kartu Idenitas Anak (KIA) punya Adna jadi.

 

Dasar Hukum KIA

Menurut Permendagri Nomor 2 tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak menyebutkan Kartu Identitas Anak yang selanjutnya disingkat menjadi KIA adalah identitas resmi anak sebagai bukti diri anak yang berusia kurang dari 17 tahun dan belum menikah yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak ditetapkan Mendagri Tjahjo Kumolo pada tanggal 14 Januari 2016 di Jakarta. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak diundangkan di Jakarta pada tanggal 19 Januari 2016 oleh Dirjen PP Kemenkumham Widodo Ekatjahjana. Permendagri 2 tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak ditempatkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 80.

Tujuan Adanya KIA

Menurut pasal 2 Permendagri 2 tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak yaitu bahwa Pemerintah menerbitkan KIA bertujuan untuk meningkatkan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik serta sebagai upaya memberikan perlindungan dan pemenuhan hak konstitusional warga negara.

 

Manfaat KIA

  • Memenuhi hak anak
  • Untuk persyaratan mendaftar sekolah
  • Untuk bukti diri anak
  • Sebagai data identitas ketika membuka tabungan di bank
  • Proses mendaftar BPJS
  • Dan dokumen lainnya

 

Dokumen yang Diperlukan Saat Mengurus

Ada tiga jenis KIA yang bisa kita dapatkan di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Nah, ketiga jenis ini memiliki syarat yang berbeda. Misalnya anak dibawah lima tahun, tidak perlu ada foto. Sedangkan di atas 5 tahun, diperlukan foto 2 x 3 sebanyak 2 lembar. Anak Warga Negara Asing yang tinggal di Indonesia juga wajib memiliki KIA Indonesia. Nah, berikut syarat-syaratnya :

 

Syarat-syarat untuk mengurus KIA bagi anak usia 0 – 5 tahun adalah :

  1. Fotokopi kutipan akta kelahiran dan menunjukkan kutipan akta kelahiran asli.
  2. Kartu Keluarga (KK) asli orangtua/wali.
  3. KTP asli kedua orangtua/wali.

 

Syarat-syarat untuk mengurus KIA bagi anak usia 5 – 17 tahun kurang sehari adalah (ditambah dengan foto) :

  1. Fotokopi kutipan akta kelahiran dan menunjukkan kutipan akta kelahiran asli.
  2. KK asli orangtua/wali.
  3. KTP asli kedua orangtua/wali.
  4. Pas foto anak berwarna ukuran 2 x 3 sebanyak 2 (dua) lembar.

 

Syarat mengurus KIA untuk Warga Negara Asing:

  1. Fotokopi paspor dan izin tinggal tetap.
  2. KK asli orangtua/wali.
  3. KTP elektronik asli kedua orangtua.

 

Pengalamanku Mengurus KIA

Waktu itu, aku ngurusnya bersamaan dengan ngurus perubahan status KTPku dan suami serta Kartu Kalurga. Sebenarnya sudah diakomodir sama kelurahan setempat tapi nggak kunjung selesai akhirnya aku tanyakan sendiri di Dispendukcapil Kabupaten Madiun. Pukul 08.00 aku mulai antri untuk mengambil KTP dan KK yang katanya sudah jadi (aku cek sehari sebelumnya). Tapi ya mesti nunggu cetak atau pelayanan apalah aku nggak ngerti.

Sedikit bocoran aja, kalau ngurus KTP dari nol di masa pandemi kaya gini tuh antrinya harus pagi-pagi banget. Karena per hari quota dijatah 20 orang. Kalau udah 20 orang ya sudah nggak menerima pelayanan. Kalau tinggal ambil aja ya nunggu. Waktu itu, aku nunggu sampai pukul 09.30 WIB. Langsung setelah itu dokumen-dokumen yang menjadi syarat KIA aku foto copy.

Setelah aku kumpulkan, langsung diterima oleh petugas. Terus diminta nunggu dulu sebentar katanya nanti langsung jadi. Sampai jam 11.00 hampir jam 11.30 nggak kunjung selesai. Akhirnya aku izin untuk pergi sebentar. Setelah duhur, baru aku kembali. Pukul 13.00 WIB. Alhamdulillah kartu sudah jadi. Memang nggak agak nunggu lama. Tapi nggak apa, nggak sampai 24 jam ternyata jadi juga.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *