Jurnal Keluarga,  Rumah Tangga

Pembicaraan Panjang Tentang Keputusan Besar

Iya, di seri #OneDayOnePost seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku tuh pengen curhat. Tentang keseharianku di rumah mertua. So far, sebenarnya nggak ada drama kaya yang di instagram-instagram gitu. Cara pandang kami yang berbeda tetap bisa dikomunikasikan. Alhamdulillah mertuaku open minded juga. Terus apa yang menarik buat diceritain kalau gitu? Eh, jangan mentang-mentang yang negatif aja ya yang bisa diceritakan. Kita itu harus bisa mengambil sisi positif dari senegatif apapun.

Nah tapi tapi, aku masih deg-degan untuk membicarakan keputusan besar yang akan diambil suamiku. Sebenarnya sih, itu keputusan kami. Tapi tokoh utamanya suami. Apa sebenarnya keputusan itu? Rahasia dulu yaa…..

 

Apakah Ini Terlalu Muluk?

Sejujurnya aku terbiasa bermimpi besar. Bagiku di waktu SMP, masuk SMA 3 Madiun itu mimpi besar. Dan ternyata aku bisa mewujudkannya. Langkah-langkah berikutnya pun demikian. Maka dari itu, akhirnya aku nggak takut untuk bermimi besar. Bermodal keyakinan itu, aku dukung penuh keputusan suamiku.

Tapi justru disini masalahnya. Jadi, latar blakang keluarga suamiku itu punya quote “trimo ing pandum, lakoni ae opo eneke” dalam bahasa Indonesia artinya ya terima saja keadaannya, jalani apa adanya. Prinsip itu yang nggak sejalan dengan keputusan besar kami.

 

Aku Sebagai Isteri

Kami belum mengkomunikasikan dengan Ibuku dan juga mertuaku. Berharapnya, mereka memberi doa restu dan tidak perlu memikirkan bagaimana kami berjuang nantinya. Apalagi baik di lingkup keluargaku maupun keluarga suami tidak ada yang memiliki latar belakang pemikiran seperti kami.

Saat suami mengutarakan niatnya ingin mengambil keputusan besar ini, aku cuma bilang “Watak itu sangat susah barubah yang pasti berubah dan mudah itu status sosial, ststus ekonomi, bahkan keyakinan sekalipun. Karena aku milih kamu atas dasar watak dan aku bisa menerimanya, jadi perubahan yang lain aku santai aja.” Itu bentuk dukunganku pada keputusan besar ini. Nggak kaget, karena sebelum nikah udah bisa aku prediksi.

Menurutku, sebelum menikah itu nggak cuma bibit, bebet, bobotnya yang harus dipertimbngakan. Tapi juga peluang hidup ke depan. lah, emangnya kita peramal bisa lihat masa depan orang. Usia rata-rata orang Indonesia nikah kan 25 tahunan atau 20 tahunan. Sebelum menikah, apa saja yang sudah dilakukan merupakan bekal untuk menjalani masa depan. Ya memang nggak bisa diprediksi. Namun dengan mempelajari latar belakang dan karakter seseorang kita pasti tahu bagaimana caranya mengambil keputusan dan menyikapi perubahan.

Intinya, hidup ini dinasmis sekalipun menikah sama sultan. Jadi isteri jangan cuma siap dengan kehidupan dengannya di hari sekarang. Makannya penting untuk terus belajar termasuk ilmu ilmu pernikahan.

 

Tips Rumah Tangga 101

Hidup ini tentang mengambil keputusan, menikmati resiko, dan merasakan sebentar kebahagiaan. Kalau kita bisa menjalaninya dengan orang yang tepat, Insya Allah segala perubahan tidak membuat kita berbutus asa. Justru dengan orang yang tepatlah kita bisa mengambil dan menjalani keputusan yang tepat. Aku dan suami merasakan ketepatan itu karena cara pandang kita sudah kita padu padankan selama dua tahun menikah ini.

Aku dan suami, sejujurnya dari latar belakang yang berbeda. Dengan karakter yang berbeda pula. Tapi saat kami bersepakat untuk menikah, kami juga bersepakat untuk menyelaraskan perbedaan itu. Menurutku, nggak papa rumah tangga berdebat di awal demi menentukan jalan tengah yang terbaik. Dari pada memendam kan lebih baik dikomunikasikan dengan baik ya.

 

#OneDayOnePost

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

One Comment

  • fanny_dcatqueen

    Bermimpi besar itu ga ada salahnya kok mba. Aku dulu slalu punya impian utk bisa kliling dunia. Pas ngayal begitu rasanya ga mungkin, bukan Krn ga mampu, tp Krn keluargaku bukan tipe yg suka jalan2. Tapi kok ya malah diksh rezeki nikah Ama pak suami yg hobi nya traveling, ya klop banget :D. Pelan2 impianku kliling dunia mulai 1 per 1 terwujud. Setidaknya tiap THN bisa nambah 1 negara baru yg blm prnh divisit sblmnya.

    Makanya aku slalu percaya dengan mimpi. Ga usah nanggung kalo bikin impian, yg besar sekalian, plus doa agar dibantu utk mewujudkan itu :).

    Setuju dengan kata2 trakhir. Karakter suami istri biasanya memang beda2. Tp asal kita mau slalu berkomunikasi dengan baik, perbedaan apapun pasti bisa dijembatani dan dicarikan jalan tengah 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *