Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Anakku Jatuh Sampai Berdarah

Aku beryuskur banget dianugrahi anak yang cerdas, aktif, tangkas, dan lincah. Solehah juga amin. Iya, meskipun perempuan, anakku itu suka banget sama manjat-manjat. Manjat kursi tinggi, meja tinggi, dan lain sebaginya. Sampai aku kepikiran buat beli pikler atau bakriasi. Kadang aku bingung, apakah ini memang masanya dan semua anak perempuan juga gitu? Apa anakku aja yang kaya begini? Aku bukan tipe Ibu yang suka membandingkan dan bertanya Ibu lain, sih. Jadi nggak tahu.

Ulah anakku ini selalu bikin deg-degan kakek neneknya. Apa lagi kakenya. Pengennya sih, cucunya duduk manis aja biar nggak jatuh. Lah tapi kan anakku suka esplore. Sebagai Ibu, aku nggak mau larang dia yang sampai dia kapok nggak naik-naik lagi. Aku biarkan dia melakukan eksplorasi. Aku biarkan dia mencoba. Dan aku biarkan dia belajar. Aku paham benar bagaimana anakku. Tinkat bahaya yang bisa dia lalui aku paham.

 

Tapi Kalau Aku Udah Pegang HP…….

Masalahnya adalah, ketika aku lebih fokus sama kerjaan dari pada sama anak. Atau pas aku punya pemikiran sendiri harus begini dan anakku inginya begitu. Nggak ada yang mau ngalah karena kepikiran kerjaan, akhirnya anakku yang jadi korban. Jatuh misalnya. Pernah sih, jatuh dari tangga gara-gara ini. Yes, aku bukan Ibu yang sempurna banget. Makannya aku nggak percaya diri sebenernya berbagi parenting. Karena parentingku nggak bisa jadi acuan.

Nyesel iya setelah kejadian. Tapi nggak mau berlarut-larut juga. Soalnya kalau nyeselnya aku dalami malah bikin bimbang. Lanjut kerja apa enggak, ya. Padahal aku nggak bisa kalau nggak kerja. Apalagi aku generasi terhimpit atau sandwich generation. Nggak bisa dong ngandalin suamiku aja. Ya, mau bagaimana lagi. Selalu berusaha menenangkan diri dengan kata-kata lain kali harus, lain kali harus.

 

Jatuh dan Berdarah

Aku nggak tahu persis gimana proses jatuhnya anakku. Dia sedang main sama akungnya. Suami lagi rebahan karena capek. Aku lagi utak-atik HP siapa tahu ada job. Tapi ternyata nggak ada. Udah buang waktu, nggak main sama anak. Ya, karena biasanya kalau habis Magrib aku dan suami udah main sama anakku.

Lah, kok itu aku pegang hp. Biasanya, anakku kalau suka naik-naik sama Bapak Mertuaku itu dihalang-halangi. Maksudnya dijagain sih, biar nggak naik biar nggak jatuh. Kalau aku dan suami kan seringnya biar anak coba sendiri. Kalau bapak mertuaku, anakku mau naik kursi misalnya ya dibantu naik.

Masalahnya adalah, anakku nggak suka dibantu naik. Biasanya kalau udah gitu jadi gubet-gubet. Badannya menunjukkan penolakanlah intinya. Mana anakku tuh kalau udah gitu kuat banget. Bikin Mbah Kungnya kebingungan.

Ya, dugaanku dia mau naik nggak dibolehin sama mbah kungnya akhirnya berontak trus aku nggak tahu ya natap gimana. Tiba-tiba dia udah nangis kenceng aja sambil megap-megap. Di tengah nangis, dia kaya kesendak gitu terus ngluarin darah. Aku pikir, itu darah asalnya dari krongkongan. Apalgi nangisnya udah kenceng banget. Aku ajak suami ke dokter. Suami masih mikir itu darah dari gusi.

Akhirnya, aku kemas-kemas ganti baju. Anakku tahu kalau kami mau keluar rumah. Seketika nangisnya yang kenceng tadi jadi berhenti, dia ambil jaket, masker, dan sepatunya dengan riang gembira. Aku tanya, “Udah sembuh, Nak?” Anakku jawab dengan angguk-angguk. Habis itu dia ceria lagi dan panjat-panjat lagi. Apakah jatuhnya tadi membahayakan atau tidak? Karena aku bukan orang kedokteran, doa dulu sambil mikir. Perlu nggak sih bawa ke dokter?

 

#OneDayOnePost

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *