Dunia Ibu,  Jurnal Keluarga

Perjalanan Panjang Jadi Ibu Bahagia

Pernah aku punya mimpi, namaku berada di sampul buku yang berjajar dengan buku-buku best seller lainnya di salah satu rak yang ada di toko buku ternama. Namun mimpi itu hanya sekedar mimpi tanpa benar-benar aku rasakan untuk diperjuangkan. Mungkin itu yang menjadi sebab kenapa sampai hari ini aku belum menerbitkan buku. Akhir-akhir ini, keinginanku menerbitkan buku makin kuat dan rasanya seperti harus diperjuangkan.

Tulisan kali ini, demi memenuhi tugas #OneDayOnePost. Aku akan bercerita tentang diriku dan kaitannya dengan mimpi itu yang aku kemas dalam narasi non fiksi berikut ini. Tentu tidak jauh-jauh juga dari menulis. Bagaimana dengan pengacara? Apakah aku juga punya mimpi menjadi pengacara terkenal?

Bahkan sampai usiku 27 tahun sekarang ini, aku belum tahu siapa pemenangnya. Pengacara atau penulis. Pastinya, hari ini aku begitu bahagia karena Allah memberiku kesempatan menjadi Ibu. Sekarang ini, aku seperti nggak peduli mau jadi pengacara atau penulis yang jelas aku harus menjadi Ibu bahagia agar anakku selalu beryukur menikmati hari-harinya.

 

Aku Jauh Lebih Baik dari Tiga Tahun Lalu…..

Titik baliku tentang kehidupan ada pada tahun 2016. Ditandai dengan kembalinya seseorang yang paling berarti dalam hidupku pada pangkuan Allah SWT. Orang itu adalah Ayahku. Sejak itu hidupku berubah 360o. Waktu itu rasanya aku menjadi orang yang paling sedih di dunia.

Seketika aku menghapus mimpiku untuk bisa berkarir di kota besar entah jadi pengacara atau wartawan. Dari Surabaya, aku kembali tinggal di Madiun dan menjadi tulang punggung keluarga karana Ibuku tidak bekerja. Adikku hanya satu, kuliah di universitas ternama di Jabodetabek.

Gajiku belum terlalu besar sebagai pekerja anyaran. Tidak cukup menghidupi tiga dapur kalau aku harus bertahan. Ternyata tidak mudah menerima kenyataan dengan mimpi masih di angan. Aku berhasil memenangkan diriku setelah satu setengah tahun dan aku menyadari betapa yang paling penting saat ini adalah keluarga.

Setelah aku menyadari keadaanku yang telah berubah, posisiku yang tidak lagi mudah, dan keluarga yang ingin kuangkat dari susah, tidak ada lagi mimpi untuk menjadi pengacara Jakarta ataupun wartawan media ternama. Sejak itu aku berpikir bagaimanapun dunia melihatku yang terpenting aku telah memberikan yang terbaik untuk keluargaku.

 

Suamiku Menyelamatkanku

Aku pernah berpikir bahwa tidak dulu menikah sebelum selesai masalah. Terlebih jika itu masalahnya tentang diri sendiri. Pada tahun 2018, aku merasa kalau aku belum tuntas dengan diriku sendiri karena harus mengentaskan adikku yang masih kuliah dan perekonomianku yang jadi berantakan.

Tapi ternyata, Tuhan memberikan jalan berbeda. Seorang laki-laki datang, melamarku dan mengajakku hidup bersama. Dia melihat bahwa aku punya potensi bergerak lebih dari itu. Hanya saja aku butuh motivasi dan dorongan yang lebih menenangkan. Aku terima lamarannya, hingga akhirnya dia jadi suamiku sampai lahir anak pertama.

Perasaanku pun lebih lega dengan hadirnya keluarga baru yang lebih memberikan warna. Aku sama sekali tidak meninggalkan keluarga lamaku hidup sendirian. Justru dengan hadirnya keluarga baru aku juga makin semangat untuk memperjuangkan kehidupan keluarga lama.

 

Soal Pekerjaanku Hari ini

Kini, aku bekerja hanya untuk keluarga tercinta. Aku beryukur saat Tuhan memberikanku kesempatan menjadi perantara rezeki bagi Ibuku dan Adikku. Aku makin beryukur tatkala Tuhan memberiku kesempatan untuk memberikan contoh kepada anakku tentang menjadi perempuan yang berdaya. Jika kelak Tuhan menunjukku untuk bermanfaat lebih di luar lingkaranku sekarang, aku hanya bisa berdoa semoga tetap amanah dan tidak sombong.

Tentu saja, proses yang aku lalui hari ini tidak lepas dari masa lalu. Dua pekerjaan, menulis dan pengacara rupanya yang telah menyelamatkanku dari himpitan ekonomi. Kedua pekerjaan itu juga yang menjadi perantara masuknya rezeki untuk keluarga.

 

SMA itu Masa Mulainya

Jika ditanya kok bisa keduanya? Karena sejujurnya aku sudah mulai dua kebiasaan ini sejak SMA. Sebenarnya aku suka menulis sejak SD. Tapi berasanya waktu SMA ketika mulai menjadi ketua majalah sekolah, mewakili sekolah dalam acara literasi, serta menjadi wartawan muda untuk koran lokal di Madiun.

Aku sendiri anak seorang pengacara. Yes, Ayahku pengacara. Sejak SMA aku pun tahu, bagaimana pengacara bekerja. Dokumen apa saja yang perlu disiapkan dalm sebuah perkara. Meski aku sudah sibuk dengan berbagai kegiatan, tapi aku juga tidak meninggalkan cerita cinta di masa SMA. Bukan sama suami yang akhirnya menikah sekarang. Tapi juga dari situlah aku awal mengenal mahkluk bernama pria. Dan tiga besar aktifitas situ, berlanjut sampai aku kuliah.

 

Karir, Cinta, dan Gairahnya….

Aku menyadari bahwa menulis adalah passion ketika merasakan bekerja dengan media nasional. Yes, tahun 2015 aku berkesempatan menjadi kontributor bidang hukum majalah Tempo. Senangnya bukan main kala itu. Aku bergabung pun bukan karena ijasahku tapi karena portfolio yang kumpulkan sejak SMA. Bidang hukum menjadi bonus karena aku lulusan fakultas itu.

Bisa tersesat di fakultas hukum pun juga karena Ayahku. Awalnya, aku tidak terima berada di fakultas merah ini. Inginya sih, bisa ada di Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Komunikasi. Tapi Tuhan lebih memilih doa orang tuaku. Dan nyatanya itu memang pilihan terbaik sehingga bermanfaat di masa sekarang.

Waktu tinggal di Madiun, aku pernah merasakan sulitnya mencari pekerjaan. Sampai akhirnya, aku sadar Tuhan ingin menjadi satu-satunya bos besar dalam hidup yang aku perankan. Kini aku bekerja, hanya Tuhan seorang yang menjadi bosnya. Tuhanlah yang mendatangkan job blog dan klien dari pengacara. Keduanya masih sama ketika aku SMA. Bergerak, untuk keluarga sebelum yang lainnya.

Setelah jadi Ibu, aku berpikir sempat ingin berhenti jadi pengacara. Tapi nyatanya Tuhan slealu datangkan klien tanpa disangka-sangka. Hatiku berkata, aku masih ingin menulis. Tuhan pun dengan sinisnya bekata, “Kan ada blog, ada media sosial. Kalau mau jadi penulis ya nulis aja.” Memang begitu rupanya. Masalah rezeki, Tuhan pun punya caranya sendiri. Cara berpikir seperti itulah yang membawaku menjadi Ibu Bahagia hari ini.

 

#ODOP

#OneDayOnPost

#ODOPChalange3

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *