Laugh

Cerita Cinta Kata-Kata Saat SMA

Ini cerita kata bukan cerita cinta. Aku nggak sedang bahas soal mantan. Ini memang benar-benar cinta yang aku temukan saat SMA dan masih terasa hingga sekarang. Cinta aini sudah menjadi darahku yang membantu mengendalikan denyut jantungku. Dia juga sudah mempengaruhi jiwaku. Meskipun dia bukan suamiku.

Duh, jangan kaget dulu. Emang kalian pikir apa? Ini adalah cinta yang membara di dada. Namanya Cinta Kata. Dulu kami bersahabat. Tapi belum selekat ini. Maaf dari tadi hiberbola. Jadi, cinta kata ini maksudnya cerita jatuh cinta pada kata yang aku sadari mulai SMA.

 

Curhat Lewat Kata

Sebenarnya, aku mecintai kata sejak aku masih TK. Waktu itu aku mendapat hadiah buku dari Ayahku yang aku baca berulang-ulang sampai lesu. Aku hanya menikmati. SD aku suka bikin puisi bahkan sampai SMP. Rasa tidak percaya diriku muncul ketika bertemu teman yang bacaannya lebih berat dari yang aku baca. Tulisannya, lebih berasa dan mendayu dari tulisanku.

Aku mulai merasa tidak layak menjadi penulis. Sekalipun suka menulis puisi. Tapi aku tetap membutuhkan kata untuk menulis. Aku membutuhkan kata sekedar untuk cerita. Kelegaan hati, hanya bisa aku rasakan dengan menulis. SMA aku lebih sering membuat tulisan curhat.

Tulisan itu aku tuangkan di blog. Ada yang menggunakan nama asli. Ada yang menggunakan nama samara. Ada tulisan yang bermakna. Ada juga tulisan bodoh. Bahkan curhatan tentang cinta pertama juga aku ungkapkan di blog. Kayaknya kalau aku baca sekarang, jadi nggak banget deh.

 

Ngeblog Sampai Malam

Meskipun aku orang ekstrovert, aku bukanlah orang yang gampang menceritakan masalah sendiri. Kecuali lewat tulisan ya. Makannya aku sering berdoa, โ€œYa Allah jagalah hati ini biar nggak sembarangan ketak-ketik.โ€ Karena aku ngrasain yang susah menjaga jari dari pada mulut.

Ribuan kata bisa aku tuliskan. Mengalir saja, Namanya curhatan. Itulah awal aku jatuh cinta dengan kata. Dan menyadari, cinta ini sudah ada sejak lama. Saking jatuh cintanya, kadang aku lupa waktu bergelut dengan kata. Waktu kelas satu SMA, aku sering sekali ngeblog sampai larut malam.

Sayang blognya udah aku musnahkan karena merasa memalukan. Padahal kalau nyimak comedian zaman sekarang, yang memalukan itu justru jadi aset, kan! Waktu SMA kelas 1, aku belum menyadari itu. Aku hanya paham, menulis itu melegakan. Kalau memang memalukan ya udah akan aku musnagkan.

 

Kirim Tulisan Selalu Gagal

Alhamdulillahnya, Allah tuh ngarahin aku ke jalan yang benar. Aku bisa merasakan bahwa tulisan minatku yang paling besar. Aku akhirnya ikut ekstrakulikuler majalah cetak dan majalah dinding. Jusnalis SMA gitulah.

Aku juga sudah mulai percaya diri dengan tulisan fiksiku berkat mendapat pujian dari salah satu guru Bahasa Indonesia. Mulai deh aku kirim-kirim cerpen ke majalah remaja. Aku juga nggak segan lagi buat ikutan lomba-lomba menulis. Sakitnya, selalu saja gagal.

 

Rasanya Masuk Nominasi

Sampai akhirnya, waktu kemenanganku tiba. Tulisanku masuk 100 besar tulisan terbaik lomba esay lingkungan se-Jawa Bali. Meskipun nggak masuk 3 besar, senengnya yang masuk 100 besar itu berhak ikut camp dan pelatihan di tepi pantai wilayah Tuban. Waktu itu, penyelenggaranya Institut Teknologi Surabaya (ITS) Fakultas Perkapalan dan Kelautan.

Masuk nominasi itu senangnya bukan main. Ya akhirnya bikin aku yakin kalau menulis itu jalanku. Bikin aku juga bisa buktikan ke orang tua, kalau apa yang aku pelajari di luar bidang akademik itu nggak sia-sia. Iya, karena dulunya orang tuaku tuh pengennya aku dapet nilai di sekolah bagus. Sekolah lurus-lurus aja. Nggak usah ngoyo ikutan ekskul. Belajar yang bener, lulus SNMPTN masuk kampus negeri jurusan hukum. Terus jadi pengacara.

 

Menjadi Ketua Majalah

Ealah, doa orang tuaku terkabul juga. Tapi aku nggak pernah bisa melepas cintaku satu ini. Cinta Kata yang aku rasakan sejak SMA. Pertengkaranku dengan orang tua semakin menjadi, kala aku mendapat rangking 3 dari bawah di sekolah. Tapi aku berprestasi loh di bidang non akademik. Kelas 2 SMA aku ditunjuk jadi ketua ekskul majalah.

Serunya, SMAku bisa ngisi rubrik remaja di Radar Madiun waktu itu. Serunya lagi aku juga jadi jurnalis mudanya ekspresi muda Radar Madiun. Di kelas tiga sebenarnya tulisanku sudah mulai terarah. Udah nggak melulu soal galau-galau dan cinta kala remaja. Tapi udah mulai menjajaki essay, cerpen, sayangnya aku nggak berani untuk melangkah lebih jauh. Karena tuntutan untuk bisa masuk SNMPTN fakultas hukum mau tidak mau harus aku wujudkan.

 

Guru SMA Penunjuk Jalan

Meskipun aku tidak mendapat dukungan dari orang tuaku, aku mendapatkan dukungan penuh dari guru SMA-ku. Satu guru yang begitu serius dalam memberikan bimbingan. Baik saat aku ikut lomba ataupun mencoba kirim tulisan ke media masa. Beliau adalah guru honorer.

Meskipun honerer, dedikasinya begitu besar. Beliau menunjukkanku jalan dan mengetuk keyakinanku akan kemampuanku dalam merangkai tulisan. Namanya Pak Mawan. Lima tahun kemudian, secara kebetulan beliau dipertemukan Almarhum Ayahku setahun sebelum meninggal.

Waktu itu, aku sudah jadi wartawan yang sebenarnya. Di bawah naungan majalah nasional. Sayangnya, hati masih ragu dalam menapaki jalan. Sampai akhirnya, mungkin memang karena Ayahku dipertemukan Pak Mawan. Dan mendengarkan ceritanya langsung tentang ketertarikanku di dunia tulisan.

Ayahku akhirnya merelakan. Namun hatiku justru berbalik kemudian. Aku juga ingin wujudkan apa yang Ayahku harapkan. Itupun tanpa meninggalkan jati diriku yang sudah tertancapkan. Terakhir aku bertemu guru SMA-ku itu setelah Ayahku meninggal. Beliau berkata, โ€œJohn Grisham dia pengacara dan penulis juga. Maka kesempatanmu di bidang keduanya juga ada.โ€

Terimakasih Cinta, mengizinkanku bercerita lewat kata.
Sekarang perasaanku, lebih lega dari sebelumnya.

 

#ODOP

#OneDayOnePost

 

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *