Menulis

Bagaimana Menemukan Titik Ternyaman dalam Menulis?

Salah satu caraku bertahan dalam menulis adalah mendapatkan posisi ternyaman dalam menulis. Caranya bagaimana. Salah satunya nyaman dengan diriku sendiri. Detailnya, simak ceritaku menemukan titik ternyaman dalam menulis dengan tips nyaman menulis, ini ya!

Memang nggak mudah untuk mencapai titik ternyaman dalam menulis. Kalau sekarang beberapa orang bilang tulisanku bagus, aku sendiri mengatakan tulisanku masih banyak yang perlu diperbaiki seiring diriku yang masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Tapi dibandingkan dulu, sekarang ini rasanya aku sudah lebih nyaman dan bisa merasakan irama jemriku saat mengetikan kata demi kata.

Kini aku lebih bisa merasakan setiap nafas dalam kata yang aku ketikkan. Terlebih jika materi yang aku tulis, risetnya sudah benar-benar mendalam. Butuh waktu berapa lama untuk bisa menemukan titik nyaman dalam menulis? Sambil aku cerita fase menulisku dulu yaa…   menyadari setiap fase ini membuatku menemukan tips nyaman menulis versi aku.

 

Fase Menulis Untuk Diri Sendiri

Fase ini aku habiskan di masa SD dan SMP. Aku sudah merasa suka nulis. Apalagi nulis tentang kegalauan semisal waktu SMP jatuh cinta sama senior yang kelasnya sebelahan. Aku nulis. Tapi aku nggak mau tulisanku dibaca orang lain karena malu. Dan yang jelas, di fase ini aku nggak peduli apakah tulisanku bermanfaat untuk orang lain atau enggak. Pokoknya nulis aja dulu. Gitu aja.

 

Fase Tulisan Ingin Diakui

Baru SMA, aku sadar kalau aku bisa menulis. Bukan lagi suka, tapi bisa. Aku sadar tulisanku patut dibaca banyak orang. Sehingga aku selalu berupaya menulis sedemikian rupa agar dibaca orang. Di fase ini, aku seirng mengirim tulisanku ke berbagai lomba dan majalah. Namun selalu gagal. Ya memang karena di fase ini tulisan masih mengedepankan ego pribadi tanpa memahami sudut pandang pembaca meskipun sudah ingin dibaca banyak orang.

 

Fase Menulis Dengan Banyak Teori

Setelah merasa gagal dan gagal, akhirnya sedikit demi sedikit belajar. Sampai akhirnya menemukan berbagai macam teori menulis yang bisa diterapkan. Fase ini bisa dibilang saat-saat tulisanku kaku daa nggak bisa mengalir karena berupaya memenuhi kaidah-kaidah yang ada. Disini mulai menyadari, untuk tulisan nyaman dibaca banyak orang itu harus diusahakan. Ini terjadi saat aku kuliah sampai menemukan jawabannya bersama redaksi Tempo.

 

Fase Menulis dari Hati

Fase dimana aku sudah mencoba menulis dengan berbagai macam teori tapi merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Akhirnya kembali menulis untuk diri sendiri dengan berusaha mengeluarkan suara hati. Bedanya dengan fase pertama, di fase ini meskipun menulis untuk diri sendiri tapi inginnya tulisan bisa diterima dan dibaca banyak orang.

 

Fase Tidak Menulis Sama Sekali

Disini, aku mulai membenci kegiatan menulis. Bahkan aku mulai membenci diriku sendiri. Ini terjadi pada tahun 2017 sampai 2018. Aku berupaya menerima perasaan ini dengan baik tapi meskipun lagi benci-bencinya, nih. Ibaratnya lagi marah-marahannya, aku nggak sampai hati ingin meninggalkan kegiatan menulis. Aku berhenti menulis. Tapi aku menggantinya dengan menemui orang-orang hebat di bidang sastra. Seperti Leila Chudori, AAN Mansyur, Okky Madasari, Gol A Gong, dan lain-lain. Aku datang ke Jakarta, untuk belajar langsung dengan mereka.

Fase Menulis dari Hati Digabungkan dengan Teori

Ini adalah faseku sekarang. Puncaknya di tahun 2020 ini. Aku kembali menulis dan aku mulai menemukan kenyamanan disini. Aku mulai menemukan titik keseimbangan dimana logika dan hatiku selaras berjalan. Dan itu diiringi juga dengan fase hidupku yang mulai stabil.

 

Sampai Dimana Fasemu Sekarang?

Fase-fase di atas, aku lalui dengan sikap yang jujur dan berusaha menerima kemampuanku fase demi fase. Butuh penelitian secara akurat dan mendalam untuk mempertanggung jawabkan apakah fase-fase yang sudah aku sebutkan menjadi kebenaran dan dianggap sebagai teori yangg pasti dalam proses menulis. Jadi, nggak usah serius-serius. Karena itu fase yang aku alami, boleh jadi orang lain punya fase sama boleh jadi punya fase beda. Cuma disini, aku mau ngasih refrensi aja barang kali bisa dijadikan gambaran proses menulis teman-teman juga.

Jadi, kalau tulisanku di-copas sakitanya memang di dada. Tapi aku selalu menganggap sakit hati itu masalahku sendiri. Bagaimana mengobati lukanya, aku sendiri yang tahu bagaimana caranya. Terlepas pelaku minta maaf atau enggak. Bagi pelakunya, aku cuma butuh dia paham kalau proses menulis itu tahapannya panjang. Kalau benar-benar passion dalam hal menulis, pasti akan merasakan sendiri jatuh bangunnya. Kalau saat mulai aja udah nggak jujur, asli aku nggak yakin bakal passion. Dan dari pada buang-buang waktu ya mending cari kegiatan lain aja yang passion. Tapi kalau tebakanku salah. Selamat belajar dan berproses.

Baca Juga :
Tips Menemukan Ide Menulis

Artinya Aku Harus Naik Level

Tidak sampai 24 jam, luka itu sembuh dan akhirnya aku bisa menuliskannya disini untuk kalian. Yes, ini sebenarnya tulisan sakit hati yang aku upayakan agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Meskipun nulis dari hati, aku nggak lupa sama teori. Jadi meskipun nulis untuk diri sendiri dan pengennya dibaca sama banyak orang, tetep bisa gaya ala-ala free style.

Dan aku ucapkan Terimakasih bagi yang udah copas tulisanku. Sakit sih iya, tapi senengnya juga ada. Karena di copas, tandanya tertarik dengan tulisanku. Aku seperti mendapatkan signal setelah pelaku meminta maaf. Signal itu ada dua. Semakin mantap dengan karya selanjutnya. Semakin yakin untuk membentuk wadah belajar menulis guna membagikan pengalaman yang sudah aku dapatkan.

Jadi, menemukan tips nyaman dalam menulis itu ya caranya nikmati setiap fasemu. Ada dimana kamu sekarang? Jangan pungkiri. Ikuti fasenya!

 

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

13 Comments

  • Lintang

    Jahat banget sih copy tulisan ga pake sumber? dikira nulis kaga pake mikir apa? btw aku fase menulis dari hati buat bermanfaat bagi orang lain. eya eyaa

    • Marita Ningtyas

      I feel you mbak. Pernah mengalami hal yang sama. Nggak hanya satu artikel.. ada hampir 9 artikel kalau nggak salah. Tahu orangnya pula. Yang menggelikan adalah tulisan curhat dicolong.. lucu sih.. sekembar2nya manusia adakah masalah yang sedemikian mirip?

      Sempat ku DM baik-baik.. tapi nggak direspon. Besoknya udah ilang aja semua tulisan dia yang copas dariku..

      Sejak saat itu.. aku belajar woles.. yang sudah keluar ke internet yaa harus diiklaskan. Diiklaskan kalau one day di copas.. baik tanpa izin atau tidak. Setelah itu jadi lebih ringan aja hidup wkwk.

  • Niki Yuntari

    Sepertinya aku baru masuk fase menulis dari hati. Belum siap nih dapat teori-teori 😀 Haduuh, tapi tetep harus semangat buat upgrade skill dan terus belajar biar naik level 🙂

    • SulLfaiNi

      MasyaaAllah udah sampe fase disini. Aku mah apa atuh, masih belum ngapa²in wkwkw.
      Btw aku juga pernah kak, review buku ku di copast, sebenarnya cuma di share sih, tetep di cantumin namanya. Kagetnya, dia ga izin, langsung share. Tapi, pas aku Nemu postingan itu, aku ucapkan terimakasih sudah di share, dan di bumbuhi, “Jangan lupa izin ya kak”
      Eh malah di hapus🤣

  • Aelvin

    Semangat, Kak..
    Emang rada ngeselin sih kalau tulisannya di-copy sama orang..
    Tapi arti lainnya kan berarti tulisan Kakak itu punya nilai jual..

  • Sofia Zef

    Membaca tulisan ini, aku jadi menelusuri gaya tulisanku sendiri. Selama ini aku merasa belum jadi sendiri. Tulisan tulisan ku yang menurutku belum mencerminkan aku, masih belum ada nafasnya. Mungkin ini masih faseku ya, proses menemukan bagaimana sesungguhnya gaya tulisanku. Makasih Mbak..tulisannya menginspirasi.

  • renov

    Sorry to hear that buat tulisannya yang dicuri.

    Tulisannya kakak keren bisa tembus sampai Tempo. 🙂

    Saya sendiri inginnya sudah di fase menulis dengan hati disangkutkan dengan teori. Apa daya yang muncul kebanyakan teori.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *