Renungan

Refleksi Berada di Dua Dunia (Hukum dan Blogger)

Kuliahku Pengantar Ilmu Hukum dulu aku diajarin kalau norma hukum itu ada 4. Pertama norma hukum keasusilaan, kedua norma hukum kebiasaan, keempat norma hukum peurndang-undangan, dan kelima norma hukum agama. Itu nempel banget loh di otakku. Bahkan sampai lulus pun, aku masih mereka-reka norma itu dengan rasionalisasi pribadi dan kepekaanku menangkap permasalahan yang ada di sekeliling. Jadi apa, sih norma-norma itu. Oke, aku jabarkan dan aku disclaimer sumber sengaja nggak aku cantumkan karena ini rangkuman catatan kuliahku semester 1 pas S1. Masih ada buku tulisnya kalau mau cek.

Norma Hukum Kesusilaan

Sumbernya berasal dari hati nurani. Sanksi hukumnya bisa jadi perasaan bersalah jika melakukan sesuatu yang salah. Bisa juga dikatakan soal empati saat kita memandang orang lain.

Norma Hukum Kebiasaan

Sumbernya dari kebiasaan masyarakat yang ada. Dilakkan terus menerus dan berulang-ulang dan secara nggak langsung menjadi aturan. Sanksinya bisa jadi dikucilkan masyarakat sekitar. Atau kalau masih berhubungan dengan masyarakat adat yang sesuai dengan adatnya bagaimana.

 

Norma Hukum Tertulis atau Perundang-undangan

Bersumber dari aturan tertulis, norma ini diibuat oleh negara dalam hal ini DPR dan disahkan oleh presiden. Sanksinya sesuai yang tertulis juga.

 

Norma Hukum Agama

Norma hukum tertinggi, yang sumbernya dari kitab. Sanksinya, sesuai kepercayaan agama yang dianaut.

 

Kenapa Bagiku Penting Memahami Norma Hukum Di Atas?

Dalam perjalananku menapaki hidup, pemahaman norma hukum di atas penting banget untuk membantuk value-ku sebagai individu. Bahkan sebagai penulis sekaligus influencer. Kenapa? Aku jelaskan pelan-pelan ya logikanya. Sabar, tarik nafas panjang. Aku suprut teh dulu.

Sebelumnya, udah baca artikelku yang ini (kilk aja)? Tentang fase perjalananku dalam menulis.

Jadi, sebenernya penemuan fase menulisku tidak lepas dari pemahamanku soal norma hukum ini. Sebagai sarjana hukum normatif (Hukum Unair terkenal dengan logika hukum normatif), aku selalu berusaha menemukan pijakan dulu sebelum aku pertindak. Nggak cuma pijakan permukaan aja. Tapi juga pijakan dasar. Pijakan permukaan ini makasudnya pijakan yang ditemukan dari hasil riset dan pengamatan. Sedangkan pijakan dasar ini munculnya dari value yang ada dalam diri. Bagaimana cara menemukan value dalam diri itu, pakai pijakan norma hukum yang aku sebutkan di atas.

 

Kok Bisa?

Oke, aku tegaskan ini rasionalisasi pribadiku ya. Bisa salah bisa benar. Mau nggak terima ya silahkan. Kalau mau jadi refrensi ya Alhamdulillah semoga bisa ngebantu.

 

Perjalanan Nurani

Jadi gini, norma keasusilaan ini kan asalnya dari hati nurani. Maka sebelum menulis penting untuk asah hatinya dulu. Nah, kalau ditanya tips menulis untuk pemula. Selalu aku jawab, ya udah nulis aja. Nggak usah pakai mikir. Ini kenapa? Karena di fase ini, sebenarnya kan kita masih mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. Ini sebenarnya adalah norma dimana kita hanya bisa menemukan jika kita menghargai setiap bagian dari diri kita, termasuk karya kita.

Barulah, seiring berjalannya waktu jiwa-jiwa manusiawi yang ambisius itu muncul. Inginlah tulisan lebih ini lebih itu. Apalagi kalau udah ketemu orang-orang sekufu. Oh ya, mengasah hati itu juga penting loh untuk menemukan orang-orang sekufu. Kok bisa? Logikanya kapan-kapan aku bahas ya. Dengan sendirinya kalau memang kamu passion dengan nulis, pasti bakal dipertemukan dengan orang-orang yang juga senang menulis. Intinya kalau kamu jujur sama nuranimu, kamu juga akan dipertemukan dengan orang-orang yang senurani denganmu.

 

Nurani Menemukan Kelompoknya

Setelah menemukan orang-orang sekufu, bakal dapat ilmu baru tuh. Biasanya kamu akan menemukan teori-teori tertentu. Percaya enggak, sih. Kalau teori itu sebenarnya didapat dari sample pengalaman orang-orang yang kemudian dianalisis berdasarkan variabel-variabel tertentu hingga menemukan benang merah kesamaannya dan disahkan menjadi teori oleh semesta. Jujur, sebenarnya nggak tahu siapa yang mengesahkan setiap teorinya. Tapi dari sini kamu memhami kebiasaan dalam menulis. Atau dalam hal lain yang kamu passion.

Disinilah aku menemukan adanya hukum-hukum kebiasaan menulis yang kalau nggak dijalankan, membuat tulisan ternyata tidak masuk standar media, tidak bisa diterbitkan jadi buku, dan lain-lain. Karena mereka udah punya kebiasaan dengan pedoman yang sudah mereka tentukan. Bisa jadi tertulis. Bisa jadi enggak juga. Tapi kalau mau jujur, kadang di posisi ini kaya ada semacam pergolakannya gitu. Seperti, “Oh, harusnya begitu ya. Tapi hatiku kan masih begini.” Kita nggak bisa pungkiri kalau ragam menulis itu banyak sekali.

Setelah kita paham nurani kita itu cenderung kemana, dan kita tahu ada banyak kelompok dengan berbagai aliran disana, kita kan bisa pilih mana yang cenderung sesuai dengan nurnai kita. Jadi menjalankan teori, atau kebiasaan yang ada tuh tanpa terpaksa. Jadi mau belajar yang kaya gimana enteng juga. Karena nurani sebenarnya sudah ditata. Nggak semua teori harus kita gunakan. Tapi semua teori bisa kita pelajari untuk menemukan titik ternyaman kita sekaligus menganalisa dimana kelompok kita berada. Ya, kita kan manusia mahkluk sosial. Butuh kelompok untu melakukan perjalanan panjang menghasilakan setiap tulisan. Jadi, norma hukum kebiasaan adalah norma yang harus kita pahami sebagai blogger dan penulis untuk menentukan nurani kita tadi lebih diakui di masyarakat yang mana, sih.

 

Standarisasi yang Sudah Dibakukan

Nurani udah tertata dan kita berada di kelompok yang bisa mendorong potensi kita. Seperti kelompok #OneDayOnePost, yang nantangin buat setiap hari nulis. Aku puji dulu deh, programnya. Karena disini cukup mudah untuk menemukan orang-orang yang super auto sangat aduh banyak benar wes pokoke seng super super super passion. (Ya Allah semoga aku lulus). Ya, gimana enggak gampang tantangannya out off the box gitu. Aku menggunakan standar kelulusan odop sebagai standar tingkat passionate ku terhadap menulis. Kalau aku nggak lulus, artinya ada dua kemungkinan yang ada dalam diriku. Antara belum benar-benar passion atau masih banyak kendala.

Kalau sudah lulus kan dapat sertifikat tuh (Iya, nggak sih?) tapi orang yang passion kayaknya nggak butuh sertifikat deh. Terlepas dari itu, sertifikat kan jadi dasar pengakuan tertulis kalau kita memang benar-benar penulis. Nah, skarang kan ada tuh sertifikasi penulis dan editor perofesional. Nah, itu bisa jadi dasar tertulis kalau kita diakui secara profesional di bidang tersebut.

Masalahnya yang terjadi dalam norma hukum tertulis sering kali benar berdasarkan tulisan aja. Tapi rentetan dalemnya sampai ke nurani-nuraninya. Hhhhhmmm… itulah kenapa hukum selalu jadi problematika. Kalau aku kata nggak akan ada habisnya bahas undang-undang kalau nurani individunya belum ditata. Percuma juga punya sertifikasi penulis kalau hanya tulisan di atas kertas aja. Tapi, kita kan hidup bernegara. Negara butuh bukti fisik. Makannya yang tetrulis itu jadi penting bir mudah dibuktikan. Ya, meskipun tulisan kita yang beredar udah bisa jadi pembuktian, sih.

 

Ketika Kita Meresapi Agama

Sebagai individu yang bernurani, dan hidup bermasyarakat, serta bernegara, kita tetap tidak akan bisa berdiri tegak tanpa bantuan agama. Hati sudah tertata, lingkungan sudah mendukung, jelas sudah diakui secara de facto maupun de jure (pelajaran ppkn dan sejarah SMP ini kalau masih ingat), terus ngapain kalau udah gitu? Maka pentingnya disini kita belajar meresapi agama. Untuk apa sih kita menulis? Apakah hanya passion. Kalau lama-lama gairah itu habis. Kita harus cari sumber energi dimana? Sumber energi terbesar berasal dari Sang Pencipta. Untuk menemukan sang pencipta, kita harus mendengar nurani. Untuk memahami rahasiannya kita haru belajar dan berguru dengan orang-orang sekufu. Jadi, menulis sebenarnya tidak hanya menghasilkan kata. Tapi tentang perjalanan kita membawa pada siapa sejatinya kita.

 

Kesimpulan

Sampai disini aku mulai menyadari untuk lebih menata diri lagi dalam mambangun niat dan berprasangka. Karena, hukum nurani itu dibentuknya sebenarnya dari niat dan prasangka. Tetap berprasangka baik dan berniat untuk jalan kebaikan, Alhamdulillah aku bisa dipertemukan dengan orang-orang yang sekufu dan biarkan mereka yang mencatatku dalam hati mereka sekalipun aku belum memegang sertifikat.

Aku pernah baca ada ayat yang bilang, “Tuhan itu sesuai dengan prasangka hambanya.” Akhirnya aku menyimpulkan begini. Kalau karyaku lagi kering, mungkin aku harus memperbaiki niat dan prasangkaku terhadap Tuhan serta pemahamanku tentang Tuhan. Dan itu memang nggak gampang. Semoga kita bisa belajar bersama sampai benar-benar paham sekalipun tidak mungkin kita akan paham secara keseluruhan karena memang ilmu Tuhan seluas lautan.

Ya sudah, pelan-pelan. Semampu kita aja dulu, kawan.

#OneDayOnePost

 

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *