Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Menerapkan Mindful Parenting dalam Keseharian

Sebenarnya udah beberapa bulan yang lalu ikutan kelas mindfull parentingnya Mbak Dita Kencana. Baru kali ini aku mulai mau menuliskannya. Mindful Parenting atau Pengasuhan yang Berkesadaran. Namanya pengasuhan pasti dengan kesadaran dong. Mana ada orang tua yang nggak sadar sama pengasuhannya?

Hallo, aku sendiri ngalamin loh. Sebenernya kejadiannya pas awal-awal pandemi. Jadi pandemi ini tuh justru bikin aku makin sibuk kan. Karena banyak banget zoom yang antri. Masalahnya, kalau udah nge zoom banyak banget gutu bikin lelah dan akhirnya nggak fokus sama anak.

Kata Mbak Dita, menyadari kalau kita mulai hilang atau kurang bonding dengan anak justru itu poin penting dalam mindful parenting. Mindful parenting bukanlah tekhnik jadi orang tua sempurna. Justru dengan ini, kita jadi lebih mudah menyadari bahwa kita bukan orang tua yang sempurna. Setelah menyadari baru kita berupaya mencari solusi.

 

Poin Penting Mindful Parenting

Biar lebih jelas, Mbak Dita juga udah rangkumin nih poin penting mindful parenting. Perlu banget aku tulis ulang disini biar kita bisa highlight dan lebih paham tentang mindful parenting.

Awarness

Memahami apa yang sedang dilakukan dan apa yang sedang terjadi di masa ini. Memahami disini maknanya lebih dalam ya. Misalnya yang dilakukan anak adalah menumpahkan air. Sebagai orang tua, kita harus memahami kenapa anak menumpahkan air. Apakah ini periode masa sensitifnya? Dengan memahami, kita jadi tahu kalau yang dilakukan anak sebenarnya bukan suatu kesalaha besar. Menang ada sesuatu yang ingin dia pahami dan kita sebagai orang tua harus menampung dengan bijaksana.

Intentional Beahviour

Perilaku bertujuan dan sengaja. Bukan auto pilot. Artinya, kegiatan mindful parenting bersama anak ini memang kita lakukan sengaja untuk mendalami emosi dan tumbuh kembang si anak. Hal ini bisa terjadi karena kita memang melakukannya dengan fokus. Tanpa distraksi apapun seperti ponsel misalnya.

Atitude

Mindful parenting juga berarti tidak melakukan judment terhadap tingkah laku anak tapi berusaha lebih memahami dengan mendengarkan sudut pandangnnya.

 

Caraku Menerapkan Pada Anakku Selama 24 Jam

Sebenarnya, mindful parenting nggak cuma bermanfaat buat anak. Tapi juga bermanfaat buat diri sendiri sebagai individu dan orang tua. Aku ibaratin gini, sih. Gimana bisa mindful sama anak kalau kita nggak mindful sama diri sendiri. Jadi perlu bagi kita memahami emosi diri sebelum memhami emosi anak dan pasangan. Maka yang aku lakukan setiap hari selama 24 jam begini :

 

Bangun Pagi

Normalnya, anakku bangun pagi pukul 05.00. Maka aku harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan diriku sendiri menyambut hari. Maka, aku bangun jam 04.00. Sambil nunggu anakku bangun, aku melakukan kegiatan yang lebih membangun spiritualisme. Sholat subuh dan membaca buku atau Al-Quran misalnya.

Setalah anakku bangun, kami berdoa bersama dan memberaihkan tempat tidur. Terua berlanjut saling kiss sama Ayahnya juga sebagai ucapan selamat pagi. Aku bacakan Adna satu buku cerita rohani, setelah itu kita jalan-jalan pagi.

Iya, sama. Ketika aku membiasakan mempersiapkan diri secara spritual setiap pagi maka dengan mudah aku membiasakan pada anakku juga. Tujuan dari ritual ini adalah untuk membangun awarness pada tubuh dan jiwa kita. Menarik nafas panjang dan menghirup udara pagi, agar kita lebih menyadari bahwa kita masih bepijak di bumi ini dan ada tujuan yang harus kita ikhtiarkan hari ini.

 

Kesibukan Pagi

Setalah olahraga, atau jalan-jalan pagi yang dilakukan biasa aja yang penting menggerakkan tubuh Adna udah aku ajak mandi. Aku dan suami bagi tugas. Kalau pagi aku pegang Adna, bersih-bersih dan cuci piring, maka suamiku yang masak. Atau sebaliknya. Jadi pas sarapan pagi semua udah beres.

Beruntungnya Ayah Adna berangkat kerja sekitar jam 8.00 sampai 08.30. Jadi, kalau persiapan pagi kita udah selesai di jam 07.00 masih ada waktu main bareng sama anak. Atau kadang aku nyiapin foto buat konten sebelum suami berangkat lumayan ada yang fotoin. Kalau foto konten, aku selalu bilang ke Adna dulu sebelumnya kalau dia dilibatkan. Jadi dia paham dan aku sendiri nggak mau memaksakan.

Meskipun satu jam yang penting kualitasnya. Dalam waktu satu jam, kita bisa menari bersama dan membangun percakapan ringan. Barulah, saat jam kerja dimulai pukul 08.00 anakku aku titipkan ke utinya. Biar lebih teratur, aku biasanya udah siapin mainan yang bisa dimainkan tanpa harus aku dampingi. Jadi bisa main sama utinya.

 

Siang Hari

Karena aku lebih banyak kerja di rumah dan freelance, jam 12.00 biasanya aku udahin kerjaanku. Istirahat sejenak sambil makan siang barsama Anakku. Pada waktu inilah aku mulai respon dengan cara makannya. Apalagi kalau makannya anaku lagi bermasalah. Jam-jam ini aku baru bisa menyalurkan energiku untuk lebih memahami.

Aku juga selalu membiasakan tidur siang. Memang ini agak rumit ya. Apalagi kalau jam 14.00 aku ada zoom. Pengennya Adna udah lelap aja. Tapi masih minta main mulu. Cuma beberapa kali aku amati kenapa dia susah tidur siang biasanya karena terpapar gadget yang terlalu lama. Iya, pernah pas aku kebanyakan nge zoom sampai makan siang aja nggak sempat akhirnya ikut utinya dan akhirnya banyak dikasih gadget.

 

Sore Hari

Pukul 16.00 Ayahnya udah pulang dan aku udahin aktifitas kerjaan. Pernah aku masih urus kerjaan aja di jam 17.00 yang ada setelah itu menejemenku berantakan dan anakku jadi banyak rewelnya. Maka waktu yang ideal buat udahan kerja dan kembali ke keluarga versiku pukul 16.00.

Setelah magrib adalah waktu yang paling berkuakitas untuk bermain bersama. Di jam ini, permainan yang aku berikan ke Adna sifatnya lebih ke kognitif. Karena di waktu inilah aku dan suami lebih bisa berkonsentrasi cuma buat Adna. Tentunya tanpa gadget ya. Kalau memahami emosi kami tentatif aja tergantung suasana hati anakku dalam menjalani hari.

Menjelang Tidur

Aku berusaha memasukkan nilai-nilai kebaikan lewat dongeng. Sebelum tidur aku usahakan membacakan dongeng. Dan tidak terlewat juga aktifitas sebelum tidur seperti cuci tangan dan kaki serta gosok gigi. Aku ajarkan pada anakku juga nggak cuma sekedar doa sebelum tidur tapi juga rasa syukur dan ucapin terimakasih sama sang penciota atas kesematan yang diberikan hari ini dan meminta maaf atas kesalahan diri. Sedangkan aku dan seuami, lebih pada mengevaluasi hal-hal yang kita jalani hari ini.

 

Awalnya Susah, Tapi Lama-lama Jadi Lebih Lega

Sejak menerapkan mindfullnesa ini, jujur hariku jadi lebih teratur dan lega. Aku tahu apa yang harus aku fokuskan hari ini, aku juga paham cara memaafkan hari kemarin dan lebih optimis dengan hari esok. Daei sisi pikiran jadi lebih releks, dari segi emotional jadi lebih mudah woles dan bisa kontrol. Sedangkan dari sisi fisik jadi lebih bugar.

Manfaatnya dalam parenting, aku jadi lebih bisa mendengar dan memahami anakku. Aku jadi lebih bisa menerima tingkah anakku yang super kreatif tanpa harus meluapkan emosi. Iya, aku paham ini sulit diterapkan apalagi kalau kita kerja dengan banyak tekanan. Tapi bagiku, buat apa kerja yang bikin kita nggak sepenuhnya sama keluarga.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *