Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Caraku Membantu Adna (18 Bulan) Mengenali Emosinya

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak tantangan dalam pengasuhan. Kini anakku Adna sekarang usianya sudah 18 bulan atau 1,5 tahun. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada dirinya. Terlebih terkait dengan emosi. Perasaan marah, kecewa, sedih, dan takut sudah mulai bisa dia respon dengan ekspresif.

Nah, aku sebagai orang tua sudah mulai mengenalkan nama-nama emosi yang sedang Adna rasakan.Meskipun begitu terkadang untuk hal-hal yang kurang baik aku masih meresponnya dengan negatif. Kadang masih nggak sengaja bentak juga. Padahal aku tahu ini masa emasnya dia. Masanya dia untuk belajar banyak hal dan aku harus mendampinginya dengan kesadaran yang penuh.

 

Kenapa Penting Memahami Emosi?

Ini jawaban versiku ya. Kalau versi psikolog pasti lebih canggih. Intinya begini, aku yakin bahwa anak yang bisa meregulasi emosinya dengan baik dia akan tumbuh jadi anak yang percaya diri dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Penting banget untuk diajarkan pada anak sejak dini agar kemampuan dia dalam kontrol diri bisa terlatih sejak dini. Akibatnya anak lebih mudah mengembangkan potensi dirinya dan bersoisalisasi dengan orang lain.

Kalau ada yang bilang, bukannya tanpa dilatih anak sudah paham sendiri ya emosinya. Bisa jadi iya. Tapi bukankah mengenali emosi sama dengan mengenali diri? Coba, direnungkan dulu. Sejauh mana kita yang nggak belajar emosi sejak dini mampu mengali diri sendiri. Nah, kalau kita sebagai orang tua belajar tentang emosi menuruku manfaatnya itu kita jadi lebih bisa tenang dalam merespon emosi anak. Kusunya emosi yang menjengkelkan seperti tantrum, mogok makan, dan lain sebagainya. Respon kita begitu penting karena bisa menjadi bekal pemahaman anak mengenai pengelolaan emosi.

 

Memahami Prinsip Dasar Emosi Anak 18 Bulan

Sampai hari ini pun aku masih berlatih untuk menguasai emosiku. Terlebih, dulu orang tuaku sendiri nggak ngajarin ya, tentang regulasi emosi ini. Sehingga waktu dewasa aku mencoba meraba-raba sendiri. Coba kalau dari kecil udah paham, begitu usia remaja emosiku sudah stabil mungkin akan banyak hal yang aku pelajari lebih dalam.

But it’s oke. Zaman dahulu nggak secanggih zaman sekarang juga, sih. Nah karena sekarang aku sudah belajar sedikit-sedikit tentang emosi, maka aku harus mampu mempraktikkannya pada anakku. Meskipun nggak gampang. Aku harus coba. Pertama-tama, yang aku lakukan adalah memahami perkembangan emosi satu sampai dua tahun. Ini aku lakukan agar aku bisa lebih tenang menghadapi anakku jika emosi-emosi di bawah ini muncul.

 

Gambar : Captured dari kulwa Grace Melia dengan Psikolog Ruang Mekar Azila

Caraku Mengenalkan Emosi Pada Adna

Kalau kita sudah paham prinsip dasar emosi sesuai dengan usia anak kita, maka tugas kita selanjutnya adalah mentransfer pemahaman itu pada anak. Dengan kata lain, membantu anak mengenali perasaannya sendiri. Membantu anak untuk jujur menyikapi perasaannya sendiri. Caranya bagaimana? Aku melakukan ini.

Mendengarkan

Mendengarkan tanpa kata-kata ini penting banget agar anak merasa emosinya diterima. Kalau tujuan kita anak mengenal emosinya pertama yang dilakukan adalah mendengarkan dulu emosinya. Mendngar tanpa kata-kata. KIta tidak boleh melakukan judge, menggurui, bahkan memarahi. Kalau aku pribadi biasanya kalau dia mengungkapkan emosinya sambil nangis, aku nggak menyuruh dia buru-buru diam. Aku peluk, sambil aku elus punggungnya.

 

Berempati

Setiap anak, inginya diperhatikan. Kalau emosinya keluar, kita tidak boleh abai. Meskipun harus tegas tapi tidak boleh sampai kasar. Empati adalah kunci agar kita bisa ikut merasakan apa yang dirasakannya. Karena kita menerima emosinya, dia juga mudah menerima emosinya.

 

Ada di Sampingnya

Membiarkan anak menangis untuk merasakan emosinya, bukan berarti kita terus tinggalkan begitu saja. Sekali lagi, orang tua tidak boleh abai. Kalau anak tidak mau dipeluk, orang tua harus tetap di samping anak.

 

Belajar Melabel Emosi

Kalau sudah bisa merasakan dan menerima emosinya, saat sudah hampir tenang aku biasanya menunjukkan apa yang dia rasakan. “Oh, Adna sedih gara-gara ditinggal temannya pulang?” Kalau dia sudah tahu nama emosinya, maka aku biasanya langsung arahkan dia untuk mencari solusi agar emosinya tidak berlarut. Inilah waktu untuk mengajarkan meregulasi emosi itu sendiri. Marah boleh, tapi tidak banting barang. Marah boleh, tapi pukul bantal aja ya. Begitulah agar dia bisa leluasa mengekspresikan emosinya.

 

Membacakan Buku

Aku menggunakan bantuan buku cerita untuk mengenalkan emosi pada Adna. Aku tunjukkan ekpresi marah lewat buku dan bagaimana menyalurkannya agar tidak menyakiti dirinya maupun orang lain. Lalu bagaimana selanjutnya mengatasi rasa marah itu tadi. Sebagai manusia, bisa marah itu wajar. Tapi ekspresi dan pengendaliannya memang harus ditata. Nah, dengan buku aku bisa mdah menyampaikan lewat cerita.

 

Jika Sudah Kenal Emosi, Maka…..

Kalau sudah kenal, aku amati. Apakah saat situasi sedang tidak mendukung Adna dia bisa mengendalikan diri atau tidak. Ya, Adna masih belajar. Aku bukannya berambisi yang gimana-gimana. Kalau Adna bisa meregulasi emosinya sejak dini, kelak dia bisa melakukan banyak hal bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *