Renungan

Investasi yang Tidak Terbatas Nilainya

Tulisan ini terinspirasi dari percapakan tentang investasi bersama keluarga besar saat kumpul bersama. Bermula dari emas. Aku dan suami percaya kalau emas buat investasi itu batangan aja. Sedangkan emas perhiasan ya buat mejeng aja. Kemudian, ada satu kakak iparku yang percaya bahwa emas buat mejeng ya harus buat investasi dong. Sampai akhirnya, aku cerita tentang jual emas perhiasan yang nilainya turun. Kakak iparku pecinta mas perhiasan nggak terima dong. Aku sendiri salah jelasinnya. Nggak bisa bedain apakah itu emas karat sekian persen atau permata sintetiknya yang bikin nilainya turun. Yes, aku bilang karat sekian persen yang bikin turun. Baru keinget pas bikin tulisan ini permata sintetiknya, sih yang bikin turun.

Definisi Investasi

Menurut wikipedia investasi adalah suatu kegiatan menanamkan modal, baik langsung maupun tidak, dengan harapan pada waktu nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut. Kita pegang kata kuncinya ya, menanam modal, harapan pada waktu tertentu, dan keuntungan. Artinya investasi berarti kia ada uang lebih untuk ditanam sebagai modal. Modal berarti, uang tersebut harus berkembang suatu saat nanti menjadi keuntungan.

Maka aku dan suami memilih untuk berinvestasi ketika kebutuhan pokok, utang, dan zakat wajib sudah terpenuhi. Kenapa? Karena disitulah kita tahu ada modal yang bisa diputar. Oh ya, pemahaman ini sudah kami sepakati sebelum nikah, loh. Jadi ketika ada keputusan keuangan dalam rumah tangga kami selalu kembali ke kesepakatan sebelum menikah. Tidak ada utang kalau tidak sangat-sangat mendesak. Tidak ada kredit kalau nggak butuh butuh butuh butuh amat.

Dan yang kami lakukan di awal menikah adalah, mengetahui jumlah pokok rata-rata konsumsi pokok kita perbulan tanpa harus hidup yang hedon banget atau melas banget. Ini risetnya nggak sebulan dua bulan. Bahkan setelah kehadiran anak, kita riset lagi sampir setahun. Kemudian rata-rata konsumsi pokok kami bandingkan dengan rata-rata pendapatan yang nggak pasti. Caranya ya dicatat memang. Itu yang bikin aku dan suami paham kapan harus investasi. Karena kita jadi tahu, mana pendapatan kita yang bisa kita ambil untuk modal di luar konsumsi. Bisa dipraktikkan? Bisa banget. Karena kami menyepakati keuangan ini sejak sebelum akad. Jadi kalau ada apa-apa terkait urusan keuangan, ya kembali ke kesepakatan awal.

Investasi Apa yang Nggak Terbatas Nilainya?

Aku nggak mungkin lah jabarin investasi saham, reksa dana, tanah yang bikin investasi itu makin besar nilainya. Udah ada pakarnya sendiri. Apalagi itu ranah kakak iparku lain jurusan ekonomi ya aku nggak berani bersuara. Terus apa yang mau ditulis tentang investasi nggak terbatas nilainya? Sabar. Aku sendiri udah berhenti sama urusan emas per emasan. Karena punya emas itu tanggung jawabnya besar. Yes, dalam islam emas itu ada wajib zakatnya. Dan kelemahanku belum detail soal pencatatan dan perhitungan.

Oh ya soal keuangan, karena aku punya trauma berlebih dalam hal ini maka aku paling takut untuk mengambil keputusan keuangan tanpa dasar hukum agama. Aku takut rumah tanggaku kenapa-kenapa kalau kami sekeluarga karena salah memahami sistem keuangan. Bahkan anakku yang masih 1.5 tahun aku belain beli buku economic for babies untuk memberikan pemahaman tentang keuangan sejak dini. Tapi aku dan suami, belum bisa mengungkapkan dalam sebuah percakapan tentang prinsip landasan agama yang mengandung banyak ilmu bukan hanya sekedar teori.

 

Investasi Pilihan

Jadi, apa investasi keluarga yang kami anggap tak terhingga nilainya? Baiklah, sejujurnya aku dan suami masih belajar melakukan investasi ini. Bukan karena kami orang yang sangat taat agama. Tapi ketakutan kami adalah keluarga kami nggak bahagia. Maka saat ini yang sedang kami usahakan adalah berusaha iklas memberikan sesuatu yang terbaik dan yang bagus bagi kami untuk orang lain. Memberi itu mudah. Apalagi memberi sesuatu yang nggak kita senanangin. Aku dan suami memilih untuk belajar. Mengiklaskan apa yang kami senangi untuk diberikan pada orang-orang yang kami sayang dan yang membutuhkan.

Kenapa aku bilang belajar? Karena investasi ini berat. Kita nggak boleh berharap investasi ini akan kembali. Karena kita berinvestasi pada Tuhan yang nggak boleh meminta imbalan. Biar Tuhan yang kasih kejutan. Sedangkan nilai barang atau pemberiannya adalah sesuatu yang kita inginkan atau terbaik. Kita juga nggak tahu adakah noda hitam dalam tangan yang kita ulurkan? Perlu pelajar memang untuk mencapai sepernol. 1/0 = ~ jika kita memberikan satu hal kebaikan dengan dasar iklas hati benar-benar nol maka akan menghasilkan sesuatu yang tak terhingga.

 

 

 

 

Lifestyle Blogger Indonesia yang tinggal di Madiun Jawa Timur.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *