Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Sekolah Daring Tatap Minta Uang Saku Buat Beli Es Cendol

Wabah corona masuk ke Indonesia sudah hampir delapan bulan, sejak Maret 2020. Masih betahkah teman-teman berdiam di rumah saja? Atau sudah ada yang mulai berlibur bersama keluarga. Adaptasi kebiasaan baru mulai diterapkan sejak bulan Juli lalu. Mall mulai dibuka. Beberapa tempat wisata juga mulai beroprasi. Bagaimana dengan sekolah anak-anak?

Aku lihat keponakan dan anak tetangga rupanya masih sekolah daring. Bagi anak SMA atau SMP mungkin nggak seberapa masalah ya. Ternyata untuk beberapa anak SD dan TK bikin Emak pada kewalahan. Tidak hanya kewalahan mengurus rumah tapi juga harus berjibaku dengan teknologi.

Aku pribadi tidak mengalami. Karena memang anakku belum usia sekolah. Tapi lihat rumput tetangga aku kasihan juga. Nggak semua orang tua siap dengan sekolah daring yang tentunya melibatkan kemandririan siswa dan juga keaktifan orang tua.

Permasalahannya, masih banyak orang tua yang beranggapan kalau anak dititipkan di sekolah aja udah beres. Sudah pasti pinter dah tuh. Padahal belum tentu juga. Dan sistem daring ini seharusnya juga jadi pelajaran buat orang tua bahwa sebaik apapun sistem pendidikan yang ada, tetap orang tua punya peran paling penting untuk anaknya.

Kaya aku bilang gampang gitu ya? Sejujurnya meskipun anakku belum usia sekolah, aku sudah menerapkan kurikulum dan kegiatan stimulasi dalam menunjang tumbuh kembangnya. Kalaupun anakku udah sekolah nanti, ya aku juga nggak mau abai dan tetap mengikuti perkembangannya.

Mungkin memang orang tua yang punya perhatian pendidikan pada anaknya lebih tinggi, bisa membimbing nanak-anaknya dalam belajar daring kali ini. Emak yang berduit dan mampu menyekolahkan anaknya di tempat yang bagus juga mungkin sudah support dengan sistem ini. Bagaiamana dengan anak-anak di desa dengan fasilitas yang terbatas?

Termasuk di sekitaran rumahku. Hari ini aku lihat anak-anak sekolah masih kecil-kecil sekitaran TK dan SD kelas 1 seperti hari-hari sebelumnya, bermain bergerumbul di halaman tetangga. Tugasnya jelas yang mengerjakan orang tua. Mereka tetap diberi uang jajan untuk beli es cendol di sudut jalan. Sampai kapan begini jalannya dunia pendidikan?

Wabah corona masuk ke Indonesia sudah hampir delapan bulan, sejak Maret 2020. Masih betahkah teman-teman berdiam di rumah saja? Atau sudah ada yang mulai berlibur bersama keluarga. Adaptasi kebiasaan baru mulai diterapkan sejak bulan Juli lalu. Mall mulai dibuka. Beberapa tempat wisata juga mulai beroprasi. Bagaimana dengan sekolah anak-anak?

Aku lihat keponakan dan anak tetangga rupanya masih sekolah daring. Bagi anak SMA atau SMP mungkin nggak seberapa masalah ya. Ternyata untuk beberapa anak SD dan TK bikin Emak pada kewalahan. Tidak hanya kewalahan mengurus rumah tapi juga harus berjibaku dengan teknologi.

Aku pribadi tidak mengalami. Karena memang anakku belum usia sekolah. Tapi lihat rumput tetangga aku kasihan juga. Nggak semua orang tua siap dengan sekolah daring yang tentunya melibatkan kemandririan siswa dan juga keaktifan orang tua.

Permasalahannya, masih banyak orang tua yang beranggapan kalau anak dititipkan di sekolah aja udah beres. Sudah pasti pinter dah tuh. Padahal belum tentu juga. Dan sistem daring ini seharusnya juga jadi pelajaran buat orang tua bahwa sebaik apapun sistem pendidikan yang ada, tetap orang tua punya peran paling penting untuk anaknya.

Kaya aku bilang gampang gitu ya? Sejujurnya meskipun anakku belum usia sekolah, aku sudah menerapkan kurikulum dan kegiatan stimulasi dalam menunjang tumbuh kembangnya. Kalaupun anakku udah sekolah nanti, ya aku juga nggak mau abai dan tetap mengikuti perkembangannya.

Mungkin memang orang tua yang punya perhatian pendidikan pada anaknya lebih tinggi, bisa membimbing nanak-anaknya dalam belajar daring kali ini. Emak yang berduit dan mampu menyekolahkan anaknya di tempat yang bagus juga mungkin sudah support dengan sistem ini. Bagaiamana dengan anak-anak di desa dengan fasilitas yang terbatas?

Termasuk di sekitaran rumahku. Hari ini aku lihat anak-anak sekolah masih kecil-kecil sekitaran TK dan SD kelas 1 seperti hari-hari sebelumnya, bermain bergerumbul di halaman tetangga. Tugasnya? orang tua terpaksa menyelesaikannya kalau belum beres. Mereka tetap diberi uang jajan untuk beli es cendol di sudut jalan. Sampai kapan begini jalannya dunia pendidikan?

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *