Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Peluk, Nak! Masih Ada Hari Esok Untuk Kita Perbaiki

Ambisius. Perfeksionis. Ingin segalanya serba teratur adalah sifat dasarku. Udah menyusun bla bla bla bla ternyata bleset dikit wadaw, kacau sudah otakku. Begitupun dengan parenting. Kenapa aku rajin baca buku parenting meskipun banyak orang bilang, “Ah…. itu kan cuma teori!”
Gini ya, aku tuh orang sibuk (gaya). Aku pun paham energiku sekarang bakal nggak sama dengan sepuluh tahun lagi. Dari pada nantinya aku buang-buang energi karena nggak kuat ngasih pondasi ke anak, mending mulai sekarang aja aku kuatin pondasi parentingnya. Mumpung dia masih 2 tahun.

Capek. Iya, nggak apa capek sekarang. Sebenernya yang bikin capek itu orang-orang sekitar. Apalagi kalau dalam satu rumah nggak cuma aku, anak, dan suami. Tapi ada kakek, nenek, buyut, budhe, dan lain-lain. Ya sebenernya nggak masalah juga tinggal jadi satu dengan mereka. Gimana-gimana anakku juga harus kenal dekat dengan saudara-saudaranya.

Nah, tapi kalau aturan parenting yang udah aku sepakati dengan suami banyak yang dilanggar? (Salahnya banyak aturan). Dan masalahnya kalau hidup anakku lagi nggak beres tuh rewelnya nggak karuan. Aku dan suami kan juga punya startegi biar dia nggak tantrum. Kalau strategiku disimpangi kan ya haduhh……. Ya usah aku biarin tantrum.

Kalau udah tantrum, akhirnya aku peluk anakku sambil bilang, “Nak, masih ada hari esok buat kita perbaiki bersama ya. Yuk, kita belajar lagi. Sekarang tenang ya….” Memang tidak diam seketika. Tapi bikin hatiku lebih lega. Kalau hatiku lega, jadi lebih bisa menangkan si dia.

Nah, kalau hatiku belum lega juga aku lebih memilih mengerjakan sesuatu yang lain. Sedangkan anakku aku biarkan tenang di pelukan Ayahnya. Untuk hal ini aku lega. Suami lebih bisa menata emosinya. Coba kalau suami ikutan galau. Ya malah bertiga jadi galau.

Ketika anakku sudah terlelap, aku bicarakan masalah parenting yang mengganjal dengan suami. Kita kupas akar masalahnya, lalu kita cari solusinya. Kita sepakati bersama sambil berkata. “Ya, masih ada hari esok untuk kita perbaiki. Lebih baik lagi.” Sejak menggunakan prinsip “Masih ada hari esok untuk kita perbaiki” aku jadi lebih bisa menangkal ego prefeksionisku.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *