Keluarga

Keluarga Milenial, Mungkin Nggak Tinggal di Desa?

Semasa SMA sampai kuliah aku punya impian sama karir tuh tinggi banget. Pengennya ya meniti karir di kota besar. Minimal Surabaya lah ya. Aku nggak asing sama kota itu. Kebetulan Ayahku lahir disana. Sempet sih, punya impian jadi anak metropolitan. Punya karir yang menawan.

Ternyata takdir berkata lain. Aku ambil keputusan berbeda dengan perhitungan berbeda. Dan sepertinya, ini memang udah jalannya Allah. Aku pulang ke Madiun dan menemukan jodoh disini. Membangun kerja disini dan berkeluarga disini. Akhirnya, aku bahagia di tanah kelahiranku sendiri.

Dulu yang awalnya ada perasaan nggak terima, pelan-pelan aku berdamai. Dan setelah punya keluarga disuni justru banyak bersyukurnya. Apalagi di masa pandemi kaya gini. Kenapa lebih menyengkan tinggal di desa?

 

Biaya Hidup Lebih Murah

Percaya nggak sih, pagi hari aku masih bisa sarapan nasi suir ayam harganya Rp 3500 sebungkus. Nasi pecel juga masih ada yang garganya segitu. Sehari, belanja sayur dan lauk buat aku, suami dan anakku Rp 20.000 udah bisa makan dengan nutrisi cukup. Ada karbohidrat, sayur, protein nabati dan hewani.

 

Tinggal Boleh Desa Rezeki Bisa Kota

Karena zamanya udah online, aku dan suami tetap bisa berkorespondensi dengan orang luar kota. Nggak jarang kami dapet klien dari luar kota. Job Blog dan Ig kan datangnya juga dari Jakarta kebanyakan. Alhamdulillah kan kalau bisa biaya hidup minimal tapi pendapatan maksimal. Jadi bisa bantu saudara sekitar. Hehe

 

Ruang Bermain Anak yang Masih Luas

Ini yang palung aku syukuri. Kalau aku tinggal di kota besar, nggak ada ceritanya bangun pagi jalan-jalan sama anak liat bebek berbaris berjajar di jalan pematang sawah. Bahagia bisa lihat anakku lari-larian di halaman rumah yang ditanami rerumputan. Bisa merasakan menginjak tanah dan bermain lumpur. Tanpa harus pergi jauh-jauh dari rumah. Jadi, pandemi gini juga nggak mungkin bosen. Main di belakang runah udah sawah. Banyak anak main layangan disana.

 

Minat Tinggal di Desa?

Indonesia itu nggak cuma Jakarta. Selama ada di bumi Allah, Insya Allah rezeki bisa dateng dari mana aja. Apalagi semua serba online kayak gini. Produk-produk hasil desa bisa dengan mudah didistribusikan. Rejeki kota, gaya hidup desa insya Allah bikin hati tenang. Hehehe. Jadi ya, mungkin-mungkin aja milenial hidup di desa.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.