Jurnal Wisata,  Tempat Kumpul

Menikmati Jalan Pahlawan Bersama Keluarga Besar

Lampu-lampu berjajar rapi di pinggir jalan. Orang-orang sedang asik berjalan bahkan ada yang berswafoto di sekitar trotoar. Kendaraan berjalan berlahan disini. Tidak ada yang melaju dengan kecepatan lebih dari 40 km/jam. Disinilah kami sekarang. Duduk bercengkrama sambil menikmati pemandangan malam. Jl. Pahlawan Kota Madiun itu nama tempatnya.

Katanya, ini Malioboronya Madiun. Mulai dibangun tahun 2019 lalu, dan mulai bisa diakses sekitaran tahun 2020 ini. Sempat ramai sebelum pandemi. Ya, meskipun sekarang juga ramai namun tidak seramai dulu. Aku pun baru memberanikan diri berkunjung sekarang ini. Gara-gara kedatangan tamu agung dari Pasuruan yang merupakan kakak iparku sendiri.

 

Apa yang Menarik?

Belum ada kuliner yang berjajar. Pembangunanpun belum dituntaskan. Bus wisatanya juga belum dioprasikan kembali sejak pandemi. Lalu kenapa kami memilih berkunjung di tempat ini? Ya, jawabannya karena penasaran dengan hasil kerja wali kota, setelah setahun menjabat. Sekilas, keliatannya tempat ini akan lebih menarik jika sudah jadi. Katanya, akan dibangun replika-replika dari berbagai simbol negara di dunia. Salah satunya yang sudah jadi adalah ka’bah. Dan di tempat ini, ka’bah itu dijadikan mushola.

Pemandangan yang bisa dinikmati sekarang adalah, cahaya lampu yang bersinar elok di tengah malam. Serta bunga-bunga warna-warni yang bermekaran. Biasanya juga ada pagelaran seni seperti musik dan teater di halaman Balai Kota. Pastinya, yang paling asik ya buat berswafoto selain duduk santai menikmati malam. Memang kalau kesini paling enak malam. Siang juga nggak papa, sih. Tapi panas dan lampunya kan nggak nyala.

 

Amankah Untuk Anak-Anak?

Kalau yang di pinggir trotoar agak mengkhawatirkan ya. Tapi kalau mau jalan ke sebrang Balai Kota, ada semacam area luas yang bisa bikin anak-anak lari bebas. Nggak tahu bakalnya dibikin apa. Yang jelas, pas malam itu kami kesana anak-anak malah asik mainan gelembung. Pinter banget, nih yang jualan gelembung memanfaatkan situasi dan harganya agak dimahalin. Anak-anak siapa yang nggak bahagia bisa berlarian di bawah sinar lampu sambil bermain gelembung yang menyenagkan.

 

Bagaimana Protokol Kesehatannya?

Karena masih masa pandemi, kita nggak bisa abaikan protokol kesehetan ini ya. Pastinga, masker harus selalu dipakai. Anak-anak juga. Bawa hand senitizer dan jaga jarak dengan orang yang tidak dikenal. Disana, juga ada petugas yang selalu mengingatkan untuk jaga jarak. Mereka juga mengawasi orang-orang yang tidak pakai masker diberlakukan aturan yang sudah disahkan Pemerintah Kota Madiun yaitu apabila tidak memakai masker denda Rp 100.000,- Selain itu, Kota Madiun juga menerapkan jam malam. Orang-orang tidak boleh berkerumun di luar rumah sampai jam 21.00 WIB.

 

Jadi, Cocok Nggak Buat Kumpul Keluarga

Rasanya kalau kumpul-kumpul tanpa makan kurang lengkap ya. Nah, itu memang yang kurang. Tapi seengaknya, lampu-lampu disini bisa memberikan energi positif yang mendorong kelekatan antar pengunjungnya. Kalau aku pribadi sebenarnya lebih prefer kesini sendirian buat melamun, baca buku, atau cari inspirasi. Kalau kesininya bareng keluarga, enaknya buat foto-foto bersama aja deh.

 

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *