Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Belajar Dari Perubahan Emosinya Adna di Usia 1 Tahun Ke Atas

“Betu, betu, betu, betu,” kata Adna sambil menunjuk TV. Maksudnya adalah betul-betul. Itu tanda dia ingin nonton serial Ipin Upin.

Baca Juga : Artikel Tentang Emosi Balita (disini)

“Kita main yang lain aja, yuk!” ajakku. Ternyata, dia tetap ngotot ingin menonton TV. Anaknya mulai merajuk. Aku tetap menolak. Akhirnya dia menangis kencang. Mau aku peluk, tapi dia menolak. “Adna marah ya?” tanyaku. Tetap menangis dia. Aku bawa ke kasur, biar dia nangis sambil gulung-gulung dan aku biarkan sampai berhenti.Kejadian itu, berulang hampir sampai lima hari.

Perlahan, aku amati dia paham bagaimana orang tuanya memberikan batasan. Adna sekarang usia 18 bulan. Kejadian itu terjadi semasa usianya masih sekitar 13 bulan. Sebenarnya aku tidak terlalu memberikan tayangan televisi ataupun gadget padanya. Hingga pada akhirnya, negara api pun menyerang. Tiba-tiba aku mendapat banyak kerjaan. Mulai dari via zoom sampai berangkat sidang. Adna aku titipkan pada utinya. Ya, kalau utinya capek ajak main langsung TV beraksi.

 

Sepertinya Ada yang Salah

Aku sempat kebingungan mengidentifikassi beberapa kejanggalan yang terjadi pada anakku beberapa waktu terakhir kemarin. Antara emosinya yang mulai berkembang atau memang ada yang salah dengan cara pengasuhanku. Aku pun mulai baca-baca terkait perkembangan emosi anak. Dan ternyata memang belum banyak yang aku update perkembangan tumbuh kembang anak satu tahun ke atas. Tapi yang bikin aku mulai merasa janggal adalah…….

 

Susah Fokus dan Susah Diatur

Adna terbiasa dengan pola rutinitas yang teratur. Aku mulai lihat dia susah diatur ketika mulai susah diajak tidur, mandi, kalau makan udah agak biasa ya. Dan yang paling heran kalau diajak main fokusnya kurang. Biasanya, 36 buah kancing bisa dia masukin dalam toples celengan. Sekarang baru beberapa kancing aja udah menunjukkan frustasi.

 

Susah Tidur

Anakku biasa tidur habis isya tanpa drama. Tepatnya pukul 20.00 WIB paling malam. Tapi sejak kebanyakan nonton TV, bawaannya pengen nonton TV mulu dan susah diajak tidur. Bahkan pernah dia baru mau ke kasur setelah aku nyalakan chanel youtube favoritnya “Baby Einstein”. Akhirnya tidur bisa sampai pukul 23.00 WIB. Meskipun begitu, bangunnya masih tetap pagi. Pukul 05.00. Mungkin susah fokusnya itu akibat kurang tidur kali ya.

 

Sering Tantrum

Kalau udah ngantuk tapi nggak kunjung tidur, akhinya tantrum. Kalau aku habis zoom atau sidang gitu, setelah selesai pasti ada aja yang diminta dan karena keterbatasan kemampuan verbalnya banyak hal yang aku nggak ngerti. Sedangkan anak meluapkan kemarahannya dengan gulung-gulung di lantai. Anakku masih mendingan, sih nggak sampai lempar-lempar atau menyakiti dirinya sendiri. Tapi nangis kejernya bikin tetangga pada panik.

Mulai Belajar Perkembangan Emosi

Alhamdulillah Allah masih menyadarkanku tentang perubahan anakku. “Seharusnya nggak kaya gini,” pikirku. Meskipun banyak yang bilang wajar kalau anak-anak rewel. Tapi hati kecilku berkata seharusnya, anaku sudah bisa memahami sinyal tubuhnya. Merasakan lelah dan kantuk misalnya dan dia tahu harus melakukan apa. Dari permasalahan di atas, aku coba analisa dan ternyata aku butuh solusi bagaimana anakku bisa merasakan sinyal dalam tubuhnya dan tahu bagaimana menyampaikan sinyal itu pada orang tuanya sehingga orang tuanya tahu harus berbuat apa.

Akhirnya, aku belajar tentang emosi. Nah, dari situ aku mulai paham perkembangan emosi dari 1 – 2 tahun.

“Masih membutuhkan bantuan dari orang tua untuk mengelola emosinya” – poin itu aku highlight. Adna mungkin belum tahu kalau yang dirasakan adalah mengantuk, lelah, lapar, ataupun gembira. Tapi dia bisa mengekspresikannya. Perasaan positif dia salurkan lewat tawa sedangkan perasakan negatif dia salurkan dengan tantrum.  Wajar memang kalau frekuensi tantrum meningkat apalagi saat dia marah dan frustasi. Masalahnya adalah bagaimana mengatasi setiap emosi yang terjadi?

 

Langkah Merespon Emosi Anak Usia 1 – 2 Tahun

Ternyata, merespon emosi anak ini ada ilmunya. Ya, salah-salah anak tantrum orang tuanya malah ikutan marah-marah. Akhirnya tantrum nggak selesai. Anak dan orang tua saling dongkol satu sama lain. Dan aku nggak mau ini berlanjut sampai Adna dewasa. Jadi langkah yang aku pilih berdasar membaca beberapa artikel dan mengikuti kulWa sebagai berikut :

 

Batasi Gadget

Kenapa batasi? Untuk mempelajari emosi ini, anak perlu kesadaran yang tinggi. Fokusnya juga harus diperhatikan. Karena bisa jadi, gadget malah mengabaikan perasaan yang dia rasakan sebenarnya. Contoh nih, aku tahu sekali anakku merasa ngantuk. Tapi malah minta TV. Diturutilah sama kakeknya. Yang ada, dia nggak bisa malah nggak bisa tidur dan rewel. Aku simpulin permasalahannya adalah, dia nggak bisa identifikasi apa yang terjadi dalam tubuhnya dan tidak tahu harus merespon apa. Gara-gara kelamaan nonton TV, jadi dia nggak sadar kalau sebenarnya dia ngantuk.

 

Mengenalkan Nama Emosi

Sewaktu aku bawah susu UHT kesukaannya dan aku berikan pada Adna, dia menerimanya dengan mata berbinar. “Adna happy?” tanyaku. “Yang dirasakan namanya happy, Nak. Adna happy ya dapat susu.” kataku menjelaskan perasaannya. Begitu pula ketika aku menemukan perasaan-perasaannya yang lain. Aku sebutkan nama perasaan itu. Bahkan aku juga belikan dia buku tentang gambaran perasaan dan ekspresi.

 

Mengajarkan Ekspresi yang Tepat

Nama-nama emosi tadi penting untuk dijelaskan agar anak paham dan selanjutnya, diajarkan bagaimana mengekspresikannya. Misalnya, ketika marah triak-triak sambil menangis bahkan memukul orang lain. Maka, kita sebagai orang tua harus meluruskan cara menyikapi emosi tersebut. Memang kalau emosi negatif agak PR, ya. Beda kalau emosi positif yang bikin kita juga ikut bahagia. Tapi anak juga manusia, nggak selamnya punya emosi positif.

 

Merespon Emosi Negatif

Waktu aku ikutin kelas bahas emosi ini, narasumbernya menegaskan kalau yang salah bukan emosinya. Wajar manusia punya emosi. Penting perlu diperhatikan adalah, bagaimana meresponnya. Emosi negatif, seharusnya tidak direspon dengan sikap negatif juga. “Jadikan emosi negatif adalah kesempatan untuk belajar dan mengajarkan pada anak tentang mengelola emosi,” begitu katanya.

Tentu manfaatnya banyak kalau anak bisa mengelola emosinya sejak dini. Pastinya akan lebih dewasa dan bijaksana. Dan yang aling disuka orang tua adalah anaknya jadi nggak merepotkan. Eh, jangan salah ya. Menuntut anak agar tidak merepotkan harus diimbangi dengan menuntut diri juga agar tidak merepotkan si anak. Loh, iya…. respon negatif kita pada emosi negatif atau tantrum anak bikin anak repot loh. Pada prinsipnya, dia pengen diperhatikan dan dipahami. Eh, malah dibentak. Balas bentak, malah makin menjadi bentak-bentakan. Caranya bagaimana?

Tarik Nafas

Anak ingin dipahami. Kita sebagai orang tua sebenarnya kan juga ingin dipahami ya hati kecilnya. Pertanyaannya mana anak mana orang tua. Ya orang tua ngalah dulu dong pahami anaknya. Iya, sulit. Capek-capek kerja anak rewel nggak karuan. Gimana nggak mau bentak? Ok, kalem. Iya, aku mulai belajar kalem sejak punya anak. Kalau mau marah, aku ingat dulu. Aku harus lebih bisa bijak dan dewasa mengontrol emosiku. Aku tarik nafas panjang, dan membiarkan aliran darahku mengalir lancar. Kalau sudah bisa tenang, aku baru berkata-kata.

 

Tenangkan Pikiran

Nggak apa yingkir bentar untuk tenangkan pikiran kita. Iya, kalau kata pemateri kelas yang aku ikuti begitu. Wajar kita orang tua juga manusia pengen marah. Kalau aku masih butuh waktu buat tenangkan pikiran, aku biarkan anakku nangis kencang. Dan Ayahnya yang emosinya lebih stabil yang pegang.

Keluarkan Kata-Kata Menenagkan

Kata-kata menenagkan memang hanya bisa keluar kalau kita tenang. Coba bayangin anak lagi tantrum. Dia bingung sama perasannnya. Terus kita bentak. Hhhhmmm….. aku pun masih belajar. Setelah pikiran tenang baru aku bilan, ” Adna marah ya?” kalau memang marahnya gara-gara kesalahanku atau dia minta diperhatikan lebih misalnya. Aku tidak segan bilang, “Maaf ya, Adna. Tapi Ibu harus masak.” Begitu terus. Kalau konsisen dia paham.

 

Jadi, Atur Emosi Diri Dulu Sebelum Atur Emosi Anak

Adna akhirnya membawa aku untuk kembali belajar. Ini tidak hanya soal dirinya. Tapi soal aku juga. Ketika keadaannya udah kacau, yang penting akunya. Aku harus tenang mennyikapinya. Dan itu butuh berlatih berulang-ulang. Selamat mencoba!

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *