Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Kado Terbaik Untuk Anakku yang Tumbuh di Era Digital 101

Menjadi Ibu adalah anugrah luar biasa yang kini aku rasakan. Adna anakku adalah kado teristimewa dari Tuhan di ulang tahunku ke 26 tahun. Gadis kecil yang manis itu, hari ini semakin riang dan aktif kesana-kemari. Aku merasa beruntung. Tuhan memberiku anugrah tinggal di kota kecil yang masih asri dan alami.

Aku tahu tantangannya akan lebih berat jika aku tinggal di kota besar. Seperti ruang bermain yang terbatas dan alam yang tergilas. Meskipun berada di kota kecil, bukan berarti tanpa tantangan. Satu kesamaan yang menyerang dunia ini dan menuntut orang tua lebih bijak adalah kecanggihan teknologi.

Ya, gadget. Seperti dua mata pisau yang akan memberikan manfaat maupun dampak buruk pada penggunanya. Dampak buruk itupun semakin terasa jika digunakan secara berlebihan. Untuk hal ini, baik di kota besar maupun kota kecil sama saja. Bedanya, di kota kecil ide bermain yang alami masih banyak. Seperti bermain tanah, lapangan yang luas, ada sawah, dan hewan-hewan ternak yang bisa diberi makan.

 

Masalahnya…….

Sedikit pengalamanku tentang dampak negatif penggunaan gadget pada anak. Terutama di bawah 2 tahun ya. Seperti yang kita simak paparan psikolog kita Novita Tandry di Kelas My Baby Momversity, secara teori anak di bawah 2 tahun seharusnya tidak diberi gadget sama sekali.

Anakku sekarang usia 18 bulan. Belum ada 2 tahun, kan. Pernah waktu itu, aku kecolongan karena banyak pekerjaan. Dan ternyata neneknya kasih gadget sampai kecanduan.

Aku mulai menyadari ini masalah ketika anakku susah tidur, suka kedip-kedip mata, daya fokusnya menurun, dan yang paling parah jadi mudah tantrum dan susah ditenangkan. Kenapa aku langsung ngarahnya ini disebabkan karena gadget? Lah, habisnya dia akan selalu tenang kalau dikasih gadget.

 

Solusinya…………..

Terus cara sapihnya gimana? Orang tuanya harus tega demi masa depannya. Kuatkan diri dulu, alasan kenapa memberikan batasan gadget pada anak. Kalau memang orang tua berniat nggak kasih ya jangan kasih. Sekalipun dia nangis sampai kejer, tetap tenangkan dengan pelukan atau perhatian. Bukan dengan gadget. Ya, aku lakukan itu. Sampai akhirnya anakku bisa hidup tanpa gadget. Mulainya bagaimana? Dimulai dari kita orang tuanya.

Usahakan tidak bermain gadget di depan anak. Aku lakukan itu. Aku dan suami pegang ponsel hanya waktu anakku tidur atau pas dititipkan. Atau kalau nggak gitu, kami gantian. Ayah butuh pegang ponsel, itu artinya aku yang mengajak bermain. Begitu sebaliknya. Karena kan, kerjaan kita juga selalu butuh gadget. Kalau pas nggak ada Ayahnya, dan aku terpaksa harus pegang ponsel ya aku bilang, “Maaf ya nak, Ibu ada kerjaan bentar. Nanti kita main bareng lagi.” Alhamdulillah dia paham sekarang setelah drama perjuangan panjang.

Aku dan suami pun mengupayakan saat sedang bermain dengan sang anak, maka kita harus benar-benar hadir. Bukan raganya saja yang hadir. Aku merasa, kehadiran yang benar-benar penuh kesadaran ini membuat kepercayaan antar kami orang tua dan anak jadi lebih terbangun. Dengan itu, anakku pun jadi lebih mudah diatur dan nggak gampang tantrum.

 

Sebenarnya…………

Gadget sebenarnya memang memberi manfaat yang baik. Apalagi, anak sekolah sekarang banyak memanfaatkan fasilitas gadget. Aku nggak munafikkan itu. Ya tapi memang kan semua ada waktunya. Secara teori dan menurut instingku juga, anakku yang masih 18 bulan ini belum perlulah diberi gadget. Perlahan, pasti akan aku kenalkan berbagai fungsinya dan bisa dia manfaatkan untuk menambah ketrampilannya.

Jikalau kelak, aku harus melepaskannya secara bebas menggunakan gadget. Akupun berusaha bisa memberikan lebih dari yang gadget berikan. Seperti kedisiplinan, daya juang, kesopanan, life skill, kemandirian, dan daya konsentrasi. Aku akan berusaha melatihnya. Seperti kata Novita Tandry pada kelas ke 3 Digital Parenting 101 for Mom

Sekarang ini aku mengenalkan gadget pada Adna sebatas untuk telepon, ambil foto, dan mendengarkan musik. Nonton memang sempat. Tapi seminggu terakhir ini, nyaris tidak pernah.

Pengennya ketika dia udah bisa dilepas dengan gadget dia udah paham fungsi dan manfaatnya. Juga tahu bagaimana melakukan filter terhadap dirinya. Mungkin, itu nanti ya jangka panjangnya. Dan itu masih panjang harus melalui banyak proses hingga sampai sana.

 

Kesimpulannya………….

Untuk saat ini, kado yang bisa kami berikan untuk menghadapi tantangan ke depan adalah waktu. Waktu yang efektif untuk menjalin kelekatan dengan si anak. Kalau sekarang aku masih bisa memandikannya. Ya sebisa mungkin aku yang memandikan anakku sendiri. Tentu sebagai Ibu cerdas, aku pakai sabun dan berbagai body care produknya My Baby.

 

Tulisan ini juga diikutkan dalam writing competion My Baby Momversity. Jangan lupa kunjungi dan lika ya disini.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *