Hukum

Mempertahankan Hak Asuh Anak Pasca Bercerai, Pahami Ini!

Perceraian memang merupakan keputusan yang dibenci agama. Meskipun begitu agama tidak melarang seseorang untuk bercerai. Aku sendiri juga tidak bisa mengukur batas kesabaran seseorang dalam menghadapi masalah rumah tanggnya sehingga berakhir dengan kata cerai.Terkait itu, semua kembali pada hati masing-masing. Pengacarapun tidak bisa mencegah sesoerang dalam mengambil keputusan perceraian.

Cerai menurutku bukan hanya soal permasalahan dalam rumah tangga saja. Penyakit ini seakan sudah komplek bukan sebatas aku dan kamu tapi secara masalahnya sudah sistemik. Mulai dari pemahaman soal pernikahan. Tidak ada sekolah tentang pernikahan. Masalah keuangan, untuk yang nggak belajar juga bisa jadi keributan. Banyak hal faktor perceraian di Indonesia. Angkanya saja, sudah sampai 408.202 kasus di Indonesia pada tahun 2018.

Mayoritas, pernikahan itu pasti ada anak. Ketika cerai, sebagian besar pasangan akan meributkan soal hak asuh anak. Seorang Ibu yang sudah mengandung, menyusui dan memberikan kasih saya yang utuh pada anaknya, tentu tidak ingin hak asuh anak jatuh pada pihak lain. Begitu juga seorang Ayah. Anak, juga menjadi jiwanya. Dia juga tidak ingin kehilangan hak tersebut. Lantas bagaimana aturan sebenarnya? Aku ulas berdasarkan UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam ya.

 

Hak Asuh Anak Menurut UU Perkawinan

Pada prinsipnya, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 45 Ayat (2) mengatakan bahwa Orang tua berkewajiban memelihara dan mendidik anak sebaik-baiknya sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, dan kewajiban itu berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus. Artinya, orang tua baik Ayah dan Ibu punya kewajiban untuk memelihara dan mendidik anak sebaik-baiknya sampai anak itu menikah atau kawin. Jadi, seharusnya hak asuh anak ini tidak menjadi drama yang berkepanjangan. Ayah dan Ibu memiliki hak untuk memelihara dan mengasuh anaknya.

 

Hak Asuh Anak Menurut Kompilasi Hukum Islam

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 105 ayat (a), dinyatakan bahwa “Pemeliharaan anak yang belum berumur 12 tahun, atau yang disebut dengan mumayyiz menjadi hak ibunya”. Berdasarkan aturan tersebut, ini berarti bahwa anak di bawah 12 tahun pemeliharaannya menjadi hak Ibu. Sedangkan menurut Pasal 105 Ayat (b) yaitu “Pemeliharaan anak yang sudah cukup umur atau mumayyiz akan diserahkan kepada sang anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya.” Nah, setelah 12 tahun anak berham memilih sendiri untuk ikut siapa.

Meskipun begitu, perlu diperhatikan soal biaya hidup anak. Sesuai dengan isi Pasal 105 Ayat (c) dan (d) dalam KHI biaya hidup sang anak akan menjadi tanggung jawab sang ayah hingga anak menikah dan memiliki hidup sendiri. Namun tetap harus disesuaikan dengan kemampuan sang ayah.

 

Apakah Ayah Sama Sekali Tidak Bisa Mendapat Hak Asuh Anak di Bawah 12 Tahun?

KHI Pasal 156 Ayat (c) yang mengatakan apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat Pengadilan Agama dapat memindahkan hak asuhnya kepada kerabat lain. Jadi, kalau si Ayah bisa membuktikan adanya ketidak wajaran atau ketidak sanggupan Ibu dalam mengasuh anaknya, kemungkinan hak asuh anak masih bisa jatuh di tangan Ayah.

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *