Love

Seni Mengambil Keputusan dari Perasaan yang Tidak Nyaman

Hai, apa kabar? Sering kali pertanyaan itu kita lontarkan saat bertemu dengan teman atau saat menyapa teman di sosial media. Apakah itu pertanyaan basa-basi? Sejujurnya kalau aku menanyakan itu pada kawan lamaku, artinya aku memang sedang benar-benar rindu dan ingin tahu bagaimana kabarnya.

It’s Oke kalau kamu sedang tidak bahagia

Pertanyaan apakabar pun biasanya akan dijawab :

“Alhamdulillah baik,”

“Ya begitulah,”

 

Jawaban yang kedua aku nggak ngerti artinya apa. Tapi biasanya setelah dikulik emang ternyata sedang tidak baik-baik saja. Menurutku nggak apa kalau memang perasaan sedang tidak nyaman. Namanya juga manusia ya. Kadang hidup juga suka naik turun, kan.

Permasalahannya adalah, apakah dalam ketidak bahagiaan itu posisi kita sedang mencari jalan keluar untuk bahagia. Atau justru, diam dan berdoa sampai Tuhan memberi jalan keluarnya sendiri dengan takdir-Nya? Masalahnya, apakah kita bisa menikmati ketidak bahagiaan ini? Lalu , setelah ketidak bahagiaan ini berakhir apakah kita memang merasa benar-benar bahagia?

 

Menikmati Sebuah Penderitaan

Kalau aku pribadi, saat merasa tidak bahagia aku selalu mencari jalan keluar untuk bahagia. Ternyata, ad acara yang menurutku lebih tepat. Ini cerita nyata dari seorang temanku. Waktu itu, dia tinggal di daerah Serpong dan bekerja di sekitaran Jakarta Selatan. Setiap hari pulang pergi naik KRL berdesakan. Waktu kondisinya sedang hamil dan suaminya kerja di perantauan.

Aku bisa merasakan, kurang menderita apa coba dia? Bagiku ya berat jalani hidup seperti itu. Tapi kata dia, “Ya, aku nyoba nikmatin sih nggak tahu sampai kapan. Karena aku sendiri nggak tahu jalan keluar terbaiknya.” Sampai akhirnya dia kena pemutusan hubungan kerja karena penguran pegawai di perusahaan. Ya, dia dong yangpaling memungkinkan untuk didepak dari perusahaan.

Waktu itu, usia kehamilannya 8 bulanan. Akhirnya dia pulang ke kampung melahirkan di kampung dan mewat anaknya bersama orang tuanya di kampung. Suaminya? Masih kerja di Luar Jawa dan pulang hanya tiga bulan sekali.

Dari peristiwa yang dialami dan sikap yang diambil temanku ini aku belajar bahwa terkadang kita tidak perlu mencari solusi dari permasalahan yang kita alami. Tapi cukup dinikmati sampai Tuhan memutuskan jalan yang terbaik. Apakah setiap permasalahan memang harus direspon seperti itu?

 

Jika Harus Mencari Jalan Keluar, Siapkah Dengan Penderitaan Selanjutnya?

Aku tipekal orang yang selalu mencari solusi dalam setiap permasalahan. Pola pikir anak hukum banget lah. Kalau belum ada masalah ya kalau bisa masalah itu diantisipasi (Ini kaya prinsip bikin kontrak perjanjian). Tapi kalau ada masalah, ya udah ayo diselesaikan dan dicari jalan keluarnya (ini perinsip pengacara).

Tapi, apakah setelah aku memutuskan suatu hal untuk terbebas dari satu masalah aku langsung bahagia? Mungkin lebih tepatnya lega. Dan perasaan itu berlangsung hanya beberapa menit saja. Selanjutnya, drama kehidupan yang baru menjadi babak selajutnya dalam menapaki hidup.

 

Lalu Baiknya Bagaimana?

Ambil keputusan yang bisa memberimu lebih banyak pembelajaran, pengalaman, dan kebaikan tidak hanya diri sendiri tapi juga orang lain. Tidak masalah untuk memilih menikmati penderitaan atau berjuang melawan penderitaan. Yang jelas, kita harus bersyukur dan bisa memberi manfaat untuk banyak orang.

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

One Comment

  • tpjminds

    Tulisan dari Mbak Jihan ini selalu menginspirasi, sehingga kalau kehilangan ide, biasanya lari ke blog ini untuk mendapatkan miracle. Hehe.. Jadi ada gambaran sekarang buat mau nulis apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *