Love

Berkah Dibalik Covid 19, Semua Ada Hikmahnya

Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Sawah nan hijau terbentang luas, menyejukkan mata dan memberikan energi positif dalam tiap buliran padinya. Udara yang masih segar, kicauan burung yang indah didengar. Aku bersyukur di tengah pandemi ini Allah masih mengizinkanku tinggal di tanah kelahiranku. Suasana alamnya masih terasa, dan tidak terlalu banyak penduduk seperti di kota. Tak heran, kalau persebaran virus covid 19 di kotaku ini tergolong rendah. Meskipun jumlah penderita positif terus meningkat paling tidak pertumbuhannya tidak seperti kota besar Surabaya atau Jakarta.

Warga di daerah tempat tinggalku Alhamdulillah tergolong disiplin. Kemana-mana menggunakan masker. Tidak ada acara yang sifatnya berkerumun seperti arisan RT ataupun pengajian yang biasanya rutin dilakukan. Pernikahanpun melalui izin yang ketat.

Aku benar-benar bersyukur. Sebelum covid melanda, aku pernah punya cita-cita untuk bekerja di kota besar layaknya Jakarta atau Surabaya. Aku sempat mempertanyakan, bisa apa aku sarjana hukum tinggal di desa? Karena banyak permasalahan hukum adanya di kota. Tapi memang selain bisa beracara aku juga bisa menulis. Aku tidak menyesal memulai menulis blog lagi di tengah pandemi ini. Ya, aku mulai aktifkan lagi jurnaljihan.com ini bulan Maret 2020.

Selain masih bisa menikmati suana kehidupan yang nyaman dan tentram, ada tiga hal lain yang membuatku sangat bersyukur di tengah pandemi ini :

 

Segudang Kesempatan Lewat Online

Sebagai warga desa, tentu fasilitas untuk menimba ilmu sangat terbatas. Sebagai sarjana hukum yang idealnya pulang desa untuk membangun, ya malah serba sulit untuk mencari uang. Alhamdulillahnya di masa kini ada internet yang menghubungkanku dengan orang-orang kota sehingga aku bisa mendapat ilmu dan rezeki dari mereka. Alhamdulillah, ada aja job dari blogger atau influencer meskipun nggak banyak.

Alhamdulillah keluargaku masih diberi rezeki yang cukup. Memang nggak berlebih. Tapi Alhamdulillah, masih bisa ngasih Ibu tiap bulannya. Dan yang paling penting untuk disyukuri adalah Allah masih memberikan kesehatan sehingga aku dan anggota keluarga masih bisa mencari rezeki dan beraktifitas seperti biasa.

Aku juga tidak kerepotan untuk bekerja dari rumah. Karena sebelum pandemi aku sudah terbiasa bekerja dari rumah. Bahkan, cita-citaku waktu kuliah itu kalaupun aku harus jadi Ibu dan fulltime merawat anakku, inginnya aku tetap bisa kerja, berkarya, dan menghasilkan uang sendiri meskipun di rumah. Pandemi justru memberikanku kesempatan lebih luas untukku melakukannya. Aku bisa lebih leluasa menulis dan mengikuti berbagai even ataupaun kelas secara online. Jadi, bisa dibilang pandemi ini malah bikin aku banyak belajar dan beryukur.

 

Hidup Lebih Tenang dan Teratur

Pandemi ini membuatku tersadar bahwa kita sebenarnya tidak sedang berlomba untuk menumpuk kekayaan, mencari jabatan ataupun popularitas. Pandemi ini memberiku pencerahan bahwa hidup mengalir seperti air aja itu nggak masalah. Tapi tetap dibarengi ilmu agar mengalirnya ke air yang jernih bukan ke air comberan. Kalaupun harus masuk ke air comberan, semoga segera bertemu dengan air bersih untuk melunturkan kotoran-kotoran.

Apa yang kita kejar sebenarnya? Kalau cuma dunia Allah bisa aja melenyapkan kapan saja. Covid-19 ini, aku jadikan untuk mengambil jeda. Saat-saat jeda seperti ini yang banyak aku lakukan adalah belajar dan menata diri. Aku mulai kebiasaan baru. Kebiasaan hidup yang lebih teratur dan tidak terlalu ambisi dalam mengejar sesuatu.

 

Keberanian Mengambil Sikap

Aku dan suami menjadikan pandemi ini sebuah momentum untuk mengambil sikap. Kami sepakat bahwa, nasib memang pada dasarnya ada di tangan kita. Keputusan bagaimana kita sebaiknya hidup adalah keputusan kita terlepas bagaimana keputusan perusahaan. Kami rasa kami sangat berhak atas hidup kami sekeluarga. Maka, saat-saat pandemi ini aku dan suami justru malah semangat membuka usaha. Tadinya, kami takut jika hidup tanpa gaji tetap. Bagaimanapun juga, gaji tetap itu tetap bisa berubah kapanpun karena opemberi rezeki sesungguhnya adalah Allah SWT.

 

Pandemi dan Hikmahnya…..

Sama seperti orang-orang yang lain, kemana-mana kami tetap menggunakan masker. Meskipun gerah, tak mengapa karena itu sebagian kecil ikhtiar kami untuk menjaga kesehatan minimal agar tidak merepotkan orang lain. Sama juga seperti yang lainnya, pemasukan keluarga kami berkurang. Bersyukurnya, kami tidak punya cicilan sedari awal pernikahan. Ya dibalik pandemi ini, ada banyak hal yang bisa kami syukuri. Waktu jeda ini membawa kami lebih bisa menikmati hidup tanpa ambisi.

 

Aku ingin bercerita tentang hukum yang bisa kita rasakan di sekitar kita dan hal-hal yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *