Keluarga

Menerapkan Disiplin Positif Menjadi Konsep Aturan Keluarga

Gimana judulnya udah hukum banget belum? Sengaja. Orang mikirnya sebagai anak hukum aku bakal idealis sekali menjaga aturan dalam keluarga. Nyatanya apakah demikian? Aturan jelas ada. Tapi apakah aku kaku banget dalam penerapannya? Sejujurnya, secara karakter aku memang orang yang senang dengan kata seharusnya. Dari bangun pagi sampai tidur lagi semua harus tertata dengan baik. Memang itu ada bagusnya ada jeleknya, ya. Bagusnya ya memang akunya jadi lebih disiplin. Jeleknya kurang bisa fleksibel. Sampai akhirnya aku menemukan cara tentang disiplin yang fleksibel. Teori menyebutnya disiplin positif. Seperti apa itu?

 

Mengenal Konsep Disiplin Positif

Menumbuhkan disiplin diri anak adalah modal utama pendidikan dalam keluarga yang mendorong tujuan jangka panjang – Najla Shihab

Kita harus aku bahwa mengasuh anak pada prinsipnya tidak hanya memberikan makan agar dia kenyang dan memberikan mainan agar dia senang. No no no. Aku sangat sepakat dengan Ibu Najla Shihab dalam bukunya yang berjudul “Keluarga Kita”, beliau mengatakan bahwa penting bagi orang tua untuk menetapkan tujuan pengasuhan sejak awal. Beliau menarik kesimpulan hampir semua tujuan jangka panjang pengasuhan orang tua adalah anak sukses dalam hidup secara mandiri. Penting sekali untuk menumbuhkan kemampuan anak dan kemandirian anak sejak dini dengan memberi kesempatan kepada anak untuk belajar serta mencoba. Karena orang tua tidak selamanya hadir untuk mendampingi maka disitulah disiplin positif dibutuhkan.

 

Prinsip Perkembangan Anak

Sebelum kita bahas panjang lebar tentang disiplin positif ini, kita perlu memahami prinsip perkembangan anak.  Kunci dari disiplin positif yang pertama adalah memahami perkembangan anak di setiap periode usianya yang meliputi aspek  emosi, kognitif, bahasa, motorik, dan fisik. Anak usia satu tahun tahapan perkembangannya tentu beda dengan anak usia tiga tahun, empat tahun, dan seterusnya.

Nah, kita perlu paham satu per satu nih. Karena sebagai orang tua kita tidak bisa memaksakan anak usia satu tahun untuk paham seperti anak dua tahun.Penerapan disiplin positif anak usia satu tahun pendekatannya tentu beda dengan anak usia yang lebih dewasa. Contohnya nih, anak di atas lima tahun kemampuan bahasanya sudah cukup baik sehingga dia bisa dengan mudah menyampaikan pemikirannya dan orang tua langsung bisa mengambil sikap. Beda dengan anak di bawah dua tahun yang kosa katanya masih terbatas. Tapi, bukan berarti tidak bisa.

Menurut buku “Keluarga Kita” halaman 115 menyebutkan bahwa disiplin positif yang diterapkan pada anak usia di bawah dua tahun itu sifatnya preventif dan untuk menumbuhkan rutinitas. Preventif¬† karena dengan sensitif dan responsif terhadap kebutuhan anak, kita dapat menciptakan situasi yang mendukung munculnya perilaku yang tepat. Jadi, permasalahan yang sekiranya akan muncul dapat kita antisipasi lebih awal. Misalnya, anak lebih bisa kita biasakan dengan rutinitas sejak dini.

 

Kenali Emosi dengan Tepat

Poin berikutnya adalah mengenali emosi dengan tepat dan meresponnya dengan tepat pula. Nah, ini perlu latihan. Karena untuk memahami emosi anak, kita perlu memahami emosi diri kita sendiri sebagai orang tua. Jadi, orang tua harus tuntas dulu dengan dirinya sendiri. Susah deh kalau orang tuanya masih belum bisa puas dan tuntas dengan dirinya sendiri. Yang ada malah menuntut anak untuk memahami diri sendiri padahal seharusnya orang tua yang lebih dahulu memahami anak. Terus mana anak mana orang tua kalau kaya gitu?

Emosi bisa beragam. Ada marah, khawatir, ingin dipuji, kecewa, dan lain sebagainya. Jika emosi yang muncul dalam diri orang tua tidak disikapi dengan tepat, khawatirnya akan mempengaruhi respon orang tua terhadap keputusan atau tindakan anak. Sebenarnya apa yang dilakukan anak wajar, sih. Tapi karena orang tua lelah, jadi lebih marah. Nah, perlu dipahami nih beberapa emosi dan efeknya yang timbul pada anak :

Memilih Sikap dan Respon yang Tepat

Sebelumnya, kenapa perlu merespon emosi dengan tepat? Ya, karena itu tadi respon emosi yang tidak tepat dampaknya tidak baik untuk anak. Lalu bagaimana yang tepat? Soal ini, senior Rangkul (Relawan Keluarga Kita) mengatakan memang harus terus dilatih. Nggak bisa kontrol emosi ini dapet teori langsung bisa dipraktikkan dengan sempurna. Dibutuhkan jam terbang mereka bilangnya. Dengan kita belajar mengelola emosi dengan tepat, anak juga akan belajar seperti itu. Otomatis cara pikirnya akan lebih dewasa. Dan itu tidak masalah artinya dia memang siap untuk menjadi anak yang mandiri sesuai tujuan pengasuhan. Lalu bagaimana mengawali latihan kontrol emosi? Yuk, simak tabel di bawah ini :

Nah, kalau akal sehat kita sudah mampu mengontrol emosi dalam diri kita sendiri, saatnya kita latih ke anak dengan memberikan respon yang tepat atas apa yang sudah dialami atau dikerjakan anak. Respon tersebut antara lain :

Hukuman vs Konsekuensi

Hadiah vs Dukungan

Pujian yang Tepat

Kritik yang Tepat

Setelah Paham Poin-poin di Atas, Begini Cara Membuat Aturan Keluarga

Hendaknya, kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak bisa kita jadikan pelajaran selanjutnya bagi diri kita sendiri dan juga anak. Misalnya, jika anak ketagihan bermain gadget, setelah menyadari bahwa keadaan ini tidak baik tentunya anak juga mendapat konsekuensi tersendiri. Misalnya bermain gadget konsekuensinya mata anak jadi cepat lelah. Iya, konsekuensi tidak harus didapat dari orang tua tapi memang ada konsekuensi yang didapat anak alami secara langsung. Kita bisa bilang, “Coba bermain gadgetnya dikurangi biar matanya jadi lebih segar.” Nah, setelah anak menyadari itu saatnya orang tua membuat kesepakatan bersama anak. Misal kesepakatannya hanya boleh bermain gadget saat hari Minggu selama 3 jam. Nah, jangan lupa beri konsekuensi logis atas ini kalau kesepakatannya dilanggar. Begitu kurang lebihnya menegakkan aturan dalam keluarga.

Jadi, aturan dalam keluarga harus berupa kesepakatan dua arah. Anak dan orang tua bersepakat. Bukan dari sisi orang tuanya saja yang membuat aturan. Kita perlu mendengar pendapat anak. Kita juga butuh anak bisa mengontrol dirinya tanpa orang tua yang harus mengontrolnya. Dengan adanya kesepakatan ini, anak jadi bisa berpikir ketika kesanggupan yang dia buat sendiri dilanggar maka anak belajar bagaimana bertanggung jawab.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *