Personal

3 Kesalahan Ibu Bekerja

Aku nggak setuju kalau ada yang bilang perceraian meningkat dikarenakan Ibu yang sibuk bekerja. Pertama memangharus ada kerelaan suami ketika Ibu memutuskan bekerja itu penting. Kedua suami harus paham konsekuensi kalau Ibu bekerja. Dan yang ketiga, tujuan serta prinsip keluarga harus kuat sehingga keputusan Ibu bekerja memang telah disepakati bersama dan tantangannya juga dijalani bersama. Masalahnya, masih ada Ibu bekerja yang bersikap demikian :

 

Tidak Yakin Dengan Apa Yang Dijalaninya

Perasaan bersalah karena tidak punya waktu dengan keluarga. Perasaan bersalah karena harus melakukan banyak kegiatan di luar rumah. Kadang memang itu terjadi. Dan menurutku itu wajar. Tapi jangan berlarut. Segera evaluasi apakah yang dijalani ini sudah tepat dan baik untuk diri sendiri serta kaluarga? Jika memang ada suatu yang kurang di hal lain dan itu jadi masalah, maka segera cari cara solusinya dan komunikasikan dengan pasangan.

 

Tidak Puas Dengan Hidupnya

Ibu yang puas dengan hidupnya, akan senantiasa bersyukur dan memancarkan energi positif sehingga mampu memberikan energi positif juga untuk sekitarnya termasuk anggota keluarga. Bagaimana jika Ibu belum puas dengan kehidupannya? Sementara ada anak dan suami yang perlu diisi cawan cintanya. Nyatanya, masih ada Ibu yang lebih bahagia dan puas dengan hidunya karena bekarja.

 

Bekerja Karena Gengsi

Tidak ada rumus yang tepat tentang bagaimana seharusnya. Setiap keadaan dan keputusan yang kita pilih, pasti ada tantangan dan resikonya. Ibu bekerja sebenarnya bukan tentang salah dan benar. Tapi coba koreksi niatnya. Anak pun juga akan senang dan merasa mendapat tauladan jika Ibunya bisa berdaya, berkarya dan lebih bermanfaat untuk sekitarnya.

 

Ibu Boleh Bekerja Asal…..

Ya asalkan semua diniatkan tulus untuk keluarga. Jika memang pasangan sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri ya setidaknya dengan bekerja Ibu bisa lebih melakukan aktualisasi diri. Intinya, kerja ya harus bahagia mau bagaimanapun masalahnya. Lah, kalau kerja ujung-ujungnya kerja nggak bisa bawa perasaan bahagia sehingga keluarga nggak terurus. Ya coba dipikirkan lagi. Aku pribadi memang nggak bisa kalau kepenuhan diri sendiriku yaitu aktualisasi belum terpenuhi. Kalau belum terpenuhi, ya jelas jadi susah bahagia dan nggak bisa bikin orang sekitar bahagia. Aku sadar itu bahaya. Makannya, aku tetap kerja untuk bahagia.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *