Hukum

Bagaimana Status Anak di Luar Perkawinan?

Ada yang tahu kejadian ada perempuan hamil di luar menikah? Nah, aku nggak akan bicara itu hukumnya kaya gimana ya. Dosa atau enggak itu bukan urusanku. Urusanku adalah bagaimana status anak yang dilahirkannya kelak. Ngapain pusing mikirin status anaknya? Ini terkait sama nasab kakak-kakak sekalian. Ada unsur waris di dalamnya. Terus akte kelahirnnya nanti bagaimana?

 

Anak Bekebutuhan Kusus Menurut Hukum

Salah satu cabang dari ilmu hukum, kita mengenal adanya hukum orang dan keluarga. Apa yang dibahas? Permasalahan-permasalahan yang timbul dari sebuah keluarga. Bagi hukum, kelahiran anak itu normal tanpa cacat bila lahir dari Ayah dan Ibu yang jelas dengan status perkawinan yang sah. Memang ada status perkawinan yang tidak sah. Ada.

 

Syarat Sah Perkawinan

Pernikahan sah menurut hukum Indonesia itu nggak cuma Ijab Qobul aja terus saksi-saksi semua bilang sah. Pernikahan yang sah menurut Pasal 2 UU Perkawinan yaitu :

  1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
  2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dua syarat di atas itu sifatnya komulatif. Apabila salah satu tidak terpenuhi maka tidak sah. Ijab Qobul itu menikah menurut hukum agama islam. Negara mengangap itu bukan pernikahan sah. Kalau Ijab Qobulnya itu dicatatkan, maka perkawinan jadi sah. Tandanya dicatatkan ya keluar akta nikah itu. Untuk agama islam dicatatkan di KUA sedangkan non Islam di Kantor Catatan Sipil.

 

Perkawinan Sah Melahirkan Anak yang Sah

Pasal 99 Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI) disebutkan bahwa Anak yang sah adalah:
  1. anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah;
  2. hasil perbuatan suami istri di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.

Kalau perkawinan sah artinya anak yang dilahirkan statusnya juga sah menurut hukum. Masalah akan terjadi jikalau kelahiran anak itu sebelum adanya pernikahan yang sah antara Ayah dan Ibunya. Tapi dalam hukum nggak ada, loh istilah anak tidak sah. Kita memakai anak di luar perkawinan. Kalau Bapapaknya nggak mengakui, terus anak itu punya hubungan darah sama siapa dong?

 

Anak Luar Kawin Menurut UU Perkawinan

Pasal 43 Ayat (1) UU Perkawinan mengatakan, anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan Ibunya dan keluarga Ibunya. Jadi anak di luar kawin itu cuma punya hubungan perdata dengan Ibunya saja. Di akte kelahirannya hanya nama Ibunya saja yang tertera. Apakah tidak bisa meminta pengakuan kepada Bapaknya secara paksa?

 

Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010

Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi di atas, telah terjadi perubahan makna dalam pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan yaitu menegaskan bahwa anak luar kawin tidak hanya punya hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, tapi juga punya hubungan perdata dengan ayah dan/atau keluarga ayahnya selama dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan atau alat bukti lain menurut hukum bahwa laki-laki tersebut adalah ayah dari anak luar kawin tersebut. Jadi, bisa buktiin enggak kalau itu anak kandungnya?

 

Jadi, Hati-hati….

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *