Jurnal Karya,  Pengacara

Isu Perlindungan Perempuan dan Anak. Apa yang Bisa Kita Advokasi?

Sering kali kita dengar istilah advokasi. Tapi, sudah pahamkah artinya? Advokasi merupakan aktifitas-aktifitas legal dan politis yang dapat mempengaruhi bentuk dan praktik penerapan hukum. Inisiatif untuk melakukan advokasi perlu diorganisir, digagas secara strategis, didukung informasi,komunikasi, pendekatan, serta mobilisasi (MargaretSchuler, Human Rights Manual). Advokasi tidak hanya sekedar pendampingan apabila ada permasalahan. Tapi keseluruhannya berkaitan dengan bagaimana suatu kelompok bisa mempengaruhi kebijakan. Entah kebijakan yang belum ada ataupun kebijakan yang sudah ada.

 

Perlindungan Anak dan Perempuan

Menurut Pasal 1 angka 1 UU Perlindngan Anak menyebutkan Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Sedangkan untuk perlindungan perempuan, dasar hukumnya lebih kasuistis karena memang tidak ada undang-undang yang judulnya langsung perlindungan perempuan.

Bagi ibu-ibu yang sudah menikah, bisa merujuk UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Disitu tertulis jenis-jenis kekerasan yang rawan terjadi dengan korbannya perempuan dan lingkupnya rumah tangga. Selain itu, menurut saya tentang UU Perkawinan juga perlu dipahami agar permepuan bisa lebih paham bagaimana sebaiknya mengambil keputusan secara hukum dalam menjalankan rumah tangga.

 

Advokasi Apa yang Bisa Dilakukan Untuk Perlindungan dan Anak?

Ada berbagai macam advokasi untuk melakukan perlindungan perempuan dan anak. Saya membaginya menjadi tiga. Ada advokasi hukum, advokasi politik, dan ada advokasi psikis. Nah, tiga macam advokasi itu memang bisa dilakukan sebelum ataupun sesudah peristiwa terjadi. Peristiwa ini misalnya tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga secara psikis, ya…… Kalau dilakukan sebelum mungkin bisa dimulai dengan penyuluhan bagaimana tindakan yang tepat diambil apabila terjadi KDRT psikis. Atau bisa jadi penyuluhan bagaimana menjalankan rumah tangga yang saling memahami agar tidak ada KDRT psikis. Itu kalau yang sebelum. Yang sesudah, biasnya kalau Advokasi psikis dilakukan dengan terapi agar tidak mengalami trauma berlebih. Sedangkan kalau advokasi hukum bisa dilakukan pendampingan. Nah, saya mau bahas detail yang advokasi hukum ya.

Penyuluhan

Penyuluhan ini, bisa dilakukan dnegan memberikan bimbingan dan pemahaman secara menyeluruh tentang suatu isu atau permasalahan hukum tertentu. Jika dalam hal ini tentang perlindungan anak dan perempuan, setidaknya bisa diberikan penyuluhan terkait bagaimana upaya pencegahan danĀ  apa yang bisa dilakukan jika peristiwa kekerasan terjadi. Setidaknya, masyarakat punya bekal untuk bertindak sesuatu.

 

Pendampingan

Pendampingan ini, dilakukan setelah timbul korban. Pendampingan ini maksudnya mengawal agar tidak ada penyelewengan hukum terhadap penyelesaian kasus korban. Pendampingan bisa dilakukan oleh siapapun asal sifatnya non litigasi. Non litigasinya artinya menyelesaikan kasus atau konflik tanpa lewat jalur non pengadilan contohnya mediasi atau negosiasi. Kalau harus lewat pengadilan atau laporan pihak kepolisian, pengacara saja yang bisa mendampingi dengan menggunakan surat kuasa.

 

Perwakilan

Pada hal tertentu, korban bisa mewakilkan orang lain untuk menyelesaikan kasusnya. Untuk pewakilan ini hanya bisa dilakukan oleh pengacara yang mendapat surat kuasa. Perwakilan ini sifatnya tidak menyeluruh. Misalnya, untuk penyelesaian kasus di pengadilan dalam proses persidangan tertentu bisa diwakili oleh pengacara. Kalau untuk laporan kepada kepolisian, hanya bisa dilakukan pendampingan, tidak bisa diwakili.

 

Sedikit tentang Advokasi Politik

Advokasi politik ini, lebih kepada bagaimana sekelompk orang mengawal jalannya kebijakan mulai dari pembuatannya sampai penerpannya. Apabila dalam penerapannya tidak sesuai bisa diajukan beberapa upaya hukum demi keadilan.

 

Support Kita Diperlukan…

Terlepas akan menjalankan advokasi yang seperti apa, menurut saya yang bisa semua orang lakukan adalah memberikan support optimal seperti misalnya merangkul agar korban bisa bangkit lagi dan tidak memberikan stigma terhadap perempuan ataupun anak yang menjadi korban. Dan sama-sama belajar serta saling menguatkan agar bisa terhindar dari permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hukum.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *