Jati Diri,  Personal

Ibu Online yang Galau Mencari Eksistensi

Merasa nggak sih, sejak menikah itu pertemanan jadi makin sempit. Waktu juga makin terbatas. Akhirnya kita sebagai Ibu memilah-milah mana yang prioritas dan mana yang enggak. Bisa jadi semua penting. Tapi yang diprioritaskan harus ada. Aku sendiri prioritas adalah diriku sendiri. Kenapa? Karena kalau akunya tenang ya keluarga juga bisa diatur. Iya, keluarga aku jadikan prioritas setelah diriku sendiri. Dan ini yang sepertinya bikin aku terjebak dalam masalah Ibu haus eksistensi.

 

Ketakutan Tentang Apakah Bisa?

Sejak kuliah aku sudah bertanya-tanya kira-kira setelah jadi Ibu, masih bisa nggak ya melakukan ini itu? Sampai akhirnya aku membuat berbagai rencana. Rencana semula memang ingin kerja di lawfirm Ibu kota dengan kesibukan dan kerumitan yang seabyek Paham bagaimana resiko kerja di lawfirm Ibu Kota, akhirnya aku menyusun rencana cadangan gimana kalau aku tetap konsisten menulis saja. Siapa tahu bermanfaat kedepannya. Apalagi kalau dapet suami yang pindah-pindah kerja. Kemampuan ini tentu lebih fleksibel.

Dan ternyata, Allah emang nggak ijinin aku kerja di lawfirm Ibu Kota. Sejujurnya, otakku sepertinya juga kurang mumpuni untuk bertandang disana. Bukan, bukan nyerah. Ada hati yang harus aku prioritaskan rupanya. Keluarga. Apalagi, pengalamanku di salah satu media membuatku lebih dalam memaknai arti keluarga. Iya, suatu hari kita bisa dipojokkan oleh dunia. Siapa yang membela? Keluarga.

Sewaktu aku mengambil keputusan untuk tinggal di Madiun saja dan melupakan mimpi bekerja di Ibu Kota, aku belum menikah. Jadi keluarga lamakulah yang menjadi pertimbangan utamaku. Dan pertanyaan itu masih terbayang dibenakku. Apakah bisa nantinya, aku tetap berkarya dan berdaya meskipun jadi Ibu? Terlebih aku tinggal di desa atau di daerah.

 

Mengalir Begitu Saja

Sejuurnya, aku tidak pernah membayangkan aku bisa mengerjakan ketiga-tiganya. Ya, meskipun dengan bantuan Ibuku dan tentu pasangan. Pelan-pelan, aku merujudkannya tidak hanya jadi Ibu, tapi bisa berkarya. Memang terlalu sombong jika aku bilang ini proses yang luar biasa. Tapi aku menghargai diriku sendiri meskipun masih banyak yang belum aku raih dan masih banyak orang yang jauh lebih baik dariku. Ternyata, buah yang aku tanam dulu seperti belajar praktik pengacara dengan Ayahku dan konsisten menulis sejak SMA berbuah hari ini.

 

Berawal dari Sesuatu yang Tidak Terarah

Pada mulanya memang ada banyak hal baru setelah jadi Ibu dan aku harus segera adaptasi. Saking ketakutannya, aku pantengin terus kegiatan-kegiatan online dan komunitas yang isinya Ibu-ibu. Rasanya gregetan, hampir semua aku ikuti. Komunitas ngeblog sudah pasti iya. Eh, nyasar di komunitas influencer. Sampai akhirnya ada di komunitas bisnis. kalau komunitas pengacara ya masih tetap sejak sebelum menikah.

Akhirnya akupun bertanya-tanya, haruskah aku ikuti ini semua? Aku mulai menjadi Ibu Online yang galau. Masalahnya, banyak even-even parenting itu yang ada aja hadiahnya. Lumayan kan, tembah cuan. Sampai akhirnya aku bertanya-tanya lagi. Sebenarnya Jihan ini jualan apa sih? Sebenarnya Jihan ini apa ingin eksis aja? Yang jelas, Jihan nggak bisa kalau nggak produktif. Apakah harus di semua hal? Tentu tidak.

Aku kembaliĀ  lagi memaknai eksistensi. Bukankah eksistensi itu suatu bentuk pengakuan ya? Jihan memangnya ingin diakui sebagai apa? Aku kembali mengingat apa yang sudah aku bangun di masa lalu. Profesi pengacara, sudah melekat pada diriku. Menulis, sudah menjadi bagian dari hidupku. Dan kini, aku menjadi serang Ibu. Ya sudah, tentu yang tidak ada hubungan dengan itu aku harus mundur.

 

Memilih Menerima Amanah

“Situ enak ya, bisa kerja sambil urus anak sendiri,” hhhmmm…. kalau aku jawab situ juga bisa, bakal mau usaha? Tentu semua butuh usaha. Bagiku, ini adalah amanah. Aku tidak memilih. Tapi Allah yang memiliahkan. Aku hanya belajar menerima. Menerima ilmu yang diberikan, untuk orang-orang yang membutuhkan. Tidak harus semua perempuan bisa kerja sekaligus ngurus anak. Semuanya punya kadar dan porsi masing-masing. Lakukan sesuai kesanggupanmu saja. Jangan ikut-ikutan arus. Kembali pada nilai yang llebih berarti.

 

 

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *