Jurnal Karya,  Pengacara

Pengacara Perempuan Untuk Melindungi Perempuan

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan ( Komnas Perempuan) mencatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2019. Jumlah tersebut naik sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya, yakni 406.178 kasus. Dan kabarinya, kasus kekerasan pada perempuan semakin meningkat di tengah wabah covid-19. Hal ini dipicu karena sulitnya memenuhi kebutuhan ekonomi sampai emosi yang tidak bisa dikontrol karena kondisi pandemi.

Maka tidak heran, jika kebutuhan pelayanan hukum selama pandemi ini justru meningkat. Pengacara pun dituntut untuk lebih aktif dan tanggap merespon fenomena masyarakat ini. Tidak hanya memberikan pelayanan yang sifatnya berbayar tapi jua pelayanan dengan bayaran cuma-cuma untuk masyarakat kurang mampu. Sebagai perempuan, aku sendiri miris dengan adanya peningkatan jumlah kekerasan ini.

Disinilah Aku Mengapdi

Profesi pengacara, sebenarnya tidak bisa dijauhkan dari isu gender. Kabarnya memang ini profesi laki-laki yang penuh dengan tantangan. Tapi faktanya, perempuan juga bisa bertandang dalam profesi ini. Justru kesempatan perempuan lebih luas untuk membantu sesama perempuan. Tidak jarang aku temui, seorang perempuan lebih memilih pengacara perempuan dari pada laki-laki terutama soal hukum keluarga. “Karena kalau sama perempuan mungkin bisa lebih memahami isi hati,” begitu kabarnya.
Selama dua tahun bergelut profesi pengacara, klienku memang mayoritas perempuan. Aku bersyukur sekali karena ilmu dan kemampuanku bisa bermanfaat untuk menolong sesama perempuan. Terkadang memang menjadi pengacara perempuan kita tidak cukup bicara hukum normatifnya saja. Ada perasaan klien yang harus ditampung dan ada cerita klien yang harus didengar. Tidak jareng derai air mata hadir dalam setiap sesi konsultasi. Disinilah aku merasa, harus menjadi lebih kuat dari mereka karena akulah yang harus jadi pengayom mereka.

Prinsipnya, Jangan Sampai Punya Masalah yang Berlarut

Sebagai pengacara, aku sadar betul kalau tugasku itu menyelesaikan masalah orang trutama terkait dengan hukum ya. Karena nggak semua masalah itu masalah hukum, gaes. Catet itu. Ya, kalau sakit pusing-pusing ke pengacara ya nggak bisa sempuh. Beda cerita kalau pusing-pusingnya karena ditelantarkan suami. Insya Allah pengacara bisa bantu.

Karena urusin masalah orang, aku nggak mau hidupku juga bermasalah. Tapi kan, hidup itu sebenarnya udah masalah. Kalaupun aku ada masalah, ya segera aku selesaikan. Mungkin ini juga alaanku mudah memafkan orang lain. Karena kalau aku berlarut-larut menyimpan masalah dalam diri, ujung-ujungnya nggak bisa maksimal urusin masalah orang lain. Ya, sampai hari ini aku bersyukur menjalani profesi ini. Tidak hanya bermanfaat untuk menolong orang lain, tapi juga bermanfaat untuk menolong diriku sendiri.

Sumber pendukung : Kompas.com dengan judul “Catatan Komnas Perempuan, 431.471 Kasus Kekerasan Terjadi Sepanjang 2019”, Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2020/03/06/15134051/catatan-komnas-perempuan-431471-kasus-kekerasan-terjadi-sepanjang-2019?page=all.
Penulis : Deti Mega Purnamasari
Editor : Kristian Erdianto

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *