Jurnal Keluarga,  Pengasuhan Anak

Pengasuhan Itu Perjalanan Panjang yang Harus Kita Siapkan

Belajar hukum iya, belajar bisnis iya, belajar nulis iya, belajar jadi isteri yang baik iya, dan harus ditambah belajar parenting? Ya emang harus dong. Masya Allah kita ini, ya ternyata. Ternyata memang harus belajar dan belajar terus tiada henti. Bagiku, sejatinya hidup ini memanglah belajar. Anak bayi aja, dari yang nggak bisa jalan jadi bisa jalan juga perlu belajar. Perlu stimulasi. Apalagi kita-kita yang sudah seperempat abad ini. Kadang memori untuk menangkap materi udah kaya kerupuk yang tidak renayah lagi. Akan tetapi, ketika alasan kita kuat kenapa harus belajar? Ya belajar bakal asik-asik aja. Terus kenapa capek-capek belajar parenting atau pengasuhan?

 

Kita Tidak Akan Tahu Mendapat Anak Seperti Apa

Setiap anak punya karakter bawaan. Punya kondisi tertentu, pada saat dilahirkan. Kita tidak bisa memilih mendapat anak dengan karakter dan kondisi seperti apa. Apakah ternyata anak kita lebih kuat otak kanan atau otak kiri, lebih bisa menata emosinya atau tidak, ya, kita tidak bisa memilih. Begitupun anak kita. Dia juga tidak bisa memilih dari pasangan siapa dia dilahirkan. Maka, penting di awal untuk berkomitmen saling menerima satu sama lain. Menghilangkan ekspektasi dan juga tuntutan-tuntan pada anak menurutku penting ditanamkan orang tua sejak awal, agar bisa menikmati proses perjalanan panjang pengasuhan.

 

Pengasuhan Itu Perjalanan Panjang

Iya, pengasuhan itu perjalanan panjang. Perjalanan yang tiada ujungnya. Bahkan setelah kita jadi kakek nenek pun, kita juga harus belajar bagaimana memperlakukan cucu dan anak yang sudah menikah dengan lebih baik. Sebenarnya, tidak ada ceritanya dalam keluarga tidak saling mencintai. Tapi terkadang, hal-hal kecil yang membuat komunikasi berantakan, ketidakpahaman tentang karakter bawaan masing-masing anggota keluarga, bisa berpotensi menjadi ledakan. Apakah itu artinya tidak sayang?

Sayang dong. Tapi yuk kita temukan cara-cara terbaik agar perjalanan panjang ini tidak melahkan. Anak balita usia 1 tahun, tentu beda penyikapannya dengana anak usia 3 tahun. Begitu seterusnya sampai remaja, dan dewasa. Masing-masing usia memiliki tantangan sendiri. Jadi ilmunya tidak hanya terbatas kalau anak sudah lepas. Namanya perjalanan panjang ini, ilmunya sudah tidak ada ujungnya.

 

Ketidak Tahuan Harus Disiapkan dengan Pembelajaran

Karena ini perjalanan panjang dan penuh dengan tantangan, maka kita harus siapakan perjalanan ini dengan bekal. Bekalnya ya ilmu parenting itu tadi. Aku merasa, ilmu membuatku menjadi Ibu yang lebih berdaya. Dulu yang tadinya aku nggak paham tentang disiplin positif, sedikit demi sedikit akhirnya memahami dam mulai menerapkan. Alhamdulillah mulai lancar… ya meskipun…

 

Pasti Ada Halangan Melintang

Dalam proses mencari cara ini pasti ada halangan melintang. Dari teori yang dibaca, memang kenyataannya tidak mudah dipraktikkan. Tapi setidaknya punya bekal. Kalaupun halangan melintang itu sulit ditaklukkan setidaknya ilmu yang menjadi bekal bisa untuk menumbuhkan kekuatan mental.

 

Memilih Komunitas yang Tepat

Komunitas adalah wadah untuk saling berbagi dan menguatkan. Ada banyak wadah dan komunitas parenting yang bisa kita ikuti. Namun, untuk urusan parenting ini aku lebih condong pada komunitas Keluarga Kita. Kenapa? Karena ada urutan materi yang harus dipahami secara keseluruhan dan itu fleksibel banget untuk dipraktikkan. Selain itu, ada sesi bicara yang bikin aku nyadar bahwa, dalam perjalanan panjang ini aku tidak sendiri. Ada ibu lain yang bisa aku ajak untuk saling merangkul satu sama lain.

Ibu satu anak yang lahir tahun 90'an. Menulis tentang keseharian sebagai Ibu dan berbagi sudut pandang sebagai praktisi hukum. Tertarik dengan isu dan gaya hidup perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *